POJOKSATU.id - Pertarungan besar kembali tersaji di Etihad Stadium. Manchester City dan Liverpool akan saling berhadapan dalam laga perempat final FA Cup, Sabtu (4/4/2026) malam WIB.

Laga ini bukan sekadar soal tiket ke Wembley, tetapi juga soal harga diri sebagai dua tim raksasa Inggris.

Bagi Manchester City, ini adalah momen untuk menegaskan bahwa mereka belum habis.

Sempat terseok setelah tersingkir dari Liga Champions dan tertinggal jauh di Premier League, tim asuhan Pep Guardiola perlahan bangkit.

Baca Juga: Bupati Aep Apresiasi Hajah Dedeh yang Wakafkan Tanah untuk Jembatan di Karawang

Kemenangan 2-0 atas Arsenal di final Carabao Cup menjadi titik balik yang mengubah narasi.

Kini, target berikutnya jelas: kembali ke Wembley. Jika berhasil, itu akan menjadi semifinal FA Cup kedelapan secara beruntun —sebuah konsistensi yang sulit ditandingi.

Apalagi, performa kandang City hampir sempurna. Mereka tak terkalahkan dalam 18 laga domestik terakhir di Etihad, dengan 15 kemenangan.

Di ajang FA Cup sendiri, dominasi mereka bahkan lebih mencolok —17 kemenangan beruntun di kandang.

Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Man City untuk Lawan Liverpool di FA Cup: Haaland Siap, Bek Andalan Diragukan

Satu-satunya Asa Juara

Namun demikian, Liverpool datang bukan tanpa ancaman.

Musim mereka memang jauh dari kata stabil. Kekalahan 2-1 dari Brighton sebelum jeda internasional semakin memperkecil peluang finis di empat besar Premier League.

Situasi ini membuat kompetisi piala menjadi satu-satunya jalur realistis untuk menyelamatkan musim —bahkan mungkin masa depan sang pelatih.

Di sisi lain, ada satu nama yang bisa mengubah segalanya: Mohamed Salah.

Pemain asal Mesir itu memiliki catatan impresif saat menghadapi City, dengan total 21 kontribusi gol.

Menariknya, tiga dari empat gol terakhirnya ke gawang City justru terjadi di Etihad—menandakan bahwa ia tak gentar bermain di markas lawan.

Meski begitu, performa tandang Liverpool menjadi tanda tanya besar.

Baca Juga: UNJA Tambah Dua Jurnal SINTA 2, Kini Total Capai Tujuh Jurnal Terakreditasi

Sejak awal Maret, mereka hanya meraih satu kemenangan dari empat laga tandang, dengan tiga kekalahan. Statistik ini jelas menjadi alarm menjelang laga krusial ini.

Jika melihat pertemuan musim ini, City juga punya keunggulan psikologis setelah menyapu bersih dua pertemuan liga.

Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa mereka belum pernah menang tiga kali beruntun atas Liverpool sejak 1947—sebuah catatan yang bisa menjadi motivasi tambahan bagi tim tamu.

Dari sisi permainan, duel ini diprediksi berlangsung ketat sejak awal. Statistik menunjukkan empat dari lima laga terakhir City berakhir imbang di babak pertama.

Sementara itu, lima dari tujuh pertandingan Liverpool terakhir menghadirkan gol dari kedua tim—menandakan potensi laga terbuka.

Baca Juga: Dian Kusdianto Ajak Anak Muda Cirebon Lawan Narkoba Lewat Ruang Kreatif dan Aksi Positif

Pemain Kunci

Sorotan juga akan tertuju pada pemain-pemain kunci.

Nico O’Reilly, yang menjadi pahlawan di final Carabao Cup, berpeluang kembali menjadi pembeda, terutama dengan catatan golnya yang dominan di kandang.

Namun, City juga harus waspada terhadap kondisi pemain. Rúben Dias masih belum sepenuhnya fit, sementara Liverpool juga dibayangi ketidakpastian terkait kiper utama mereka.

Dengan segala dinamika tersebut, laga ini terasa lebih dari sekadar perempat final. Ini adalah ujian mental, taktik, dan konsistensi.

City datang dengan momentum dan kepercayaan diri tinggi. Liverpool datang dengan tekanan, tetapi juga potensi kejutan.

Pada akhirnya, satu hal yang pasti: hanya satu tim yang akan melangkah ke Wembley. Dan untuk mencapainya, mereka harus melewati laga yang bisa disebut sebagai final dini ini.***