Para Penyusup di Laga Final Piala Dunia 2018 Kini Hadapi Tuntutan Serius

Petugas keamanan mengejar dua orang penyusup yang masuk ke lapangan saat laga final Piala Dunia 2018 (standard.co.uk)
Petugas keamanan mengejar dua orang penyusup yang masuk ke lapangan saat laga final Piala Dunia 2018 (standard.co.uk)

POJOKSATU.id, MOSKOW – Empat orang berpakaian ala polisi berhamburan memasuki lapangan saat laga Prancis kontra Kroasia sedang sengit-sengitnya berlangsung.


Tak ayal, aksi para penyusup di menit 52 itu pun membuat kehebohan di laga final Piala Dunia 2018 yang digelar di Stadion Luzhniki, Moskow, Minggu (15/7/2018) malam WIB itu.

Para penyusup itu berlarian ke dalam lapangan secara serentak sejauh 50 meter ke berbagai arah dari celah belakang gawang timnas Prancis.

Petugas keamanan pertandingan pun bergerak cepat dengan menangkapi mereka untuk kemudian menyeretnya ke luar stadion.


Aksi mereka cukup nekat karena dilakukan dihadapan para kepala negara, seperti Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Kroasia serta Presiden Prancis.

Pasca insiden, kelompok yang mengatasnamakan dirinya Pussy Riot mengklaim bertanggungjawab atas aksi ‘sabotase’ tersebut.

“Saat ini, ada empat anggota kami berada di final Piala Dunia,” tulis kelompok tersebut lewat akun Twitter seperti dikutip dari Diario AS.

Keempat penyusup itu pun langsung digelandang ke markas kepolisian terdekat untuk diminta keterangan.

Kepada kantor berita Interfax, polisi mengatakan mereka terancam dikenai dengan sebesar 160 dolar AS atau setara Rp2,3 juta dan melakukan kerja sosial selama 160 jam berikut sanksi tidak boleh memasuki stadion untuk menonton pertandingan sepak bola selama tiga tahun.

Selain itu, mereka juga terancam mendapatkan denda lainnya karena mengenakan seragam polisi secara illegal. Atas ulahnya itu mereka terancam terkena denda sebesar Rp350 ribu. (qur/pojoksatu)