POJOKSATU.id — Lamine Yamal tinggal selangkah lagi mencetak gol kemenangan. Sepakan melengkungnya sudah mengecoh semua orang di San Siro. Semua… kecuali satu nama: Yann Sommer.

Di menit ke-114, kiper gaek asal Swiss itu terbang bagai panther dan menepis bola dengan ujung jari, mematahkan harapan Barcelona di ujung laga. Sebuah penyelamatan yang langsung disebut Sommer sebagai “penyelamatan paling spesial dalam karier saya”.

Benar saja, itu bukan cuma sekadar save.

Itu adalah momen yang membuat Inter Milan bertahan hidup. Momen yang menyudahi perlawanan Blaugrana dan mengantar Nerazzurri ke final Liga Champions musim ini.

Duel Klasik Penuh Drama

Laga leg kedua semifinal di San Siro, Rabu dini hari WIB, benar-benar layak disebut sebagai pertarungan klasik Eropa. Gol demi gol, drama demi drama, membuat laga ini menjadi salah satu semifinal paling epik sepanjang sejarah.

Baca Juga: PERTARUNGAN PENGHUNI Dasar Klasemen, Laskar Mahesa Jenar Terpuruk, Elang Jawa Terbang Lagi? Jatidiri Jadi Saksi Pertarungan ZONA NERAKA

Inter Milan menang 4-3 di leg kedua dan unggul agregat 7-6. Tapi bukan sekadar skor yang jadi cerita, melainkan bagaimana mereka meraihnya.

Gol-gol dari Lautaro Martinez, Hakan Calhanoglu, Francesco Acerbi, dan gol pamungkas dari Davide Frattesi di masa tambahan waktu membawa Inter menciptakan euforia di hadapan tifosi mereka.

Barcelona: Bangkit dan Tersungkur

Barcelona juga tampil trengginas. Eric García, Dani Olmo, dan Raphinha sempat membawa harapan besar untuk anak asuh Xavi.

Baca Juga: Mantap! Anak Cristiano Ronaldo Dipanggil Timnas Portugal

Bahkan saat Raphinha mencetak gol di menit ke-87 dan membawa Barca unggul agregat, atmosfer seolah berpihak pada tim Catalan.

Namun, Francesco Acerbi—bek berusia 37 tahun—tampil sebagai penyelamat. Golnya di menit ke-93 menyamakan kedudukan dan membawa laga ke babak tambahan.

Saat Barcelona kehilangan ritme, Inter menghukum mereka. Frattesi, yang sehari sebelumnya absen latihan, muncul sebagai pahlawan dengan gol keempat.

Sommer, Sang Penjaga Neraka

Namun sorotan utama tetap tertuju pada Sommer. Total tujuh penyelamatan krusial ia lakukan sepanjang laga.

Baca Juga: Mantap! Anak Cristiano Ronaldo Dipanggil Timnas Portugal

Tapi satu momen paling penting adalah saat ia menepis sepakan Yamal di menit 114. Gol itu bisa saja membawa Barcelona unggul. Tapi Sommer punya cerita lain.

Tanpa aksi itu, Inter mungkin hanya jadi cerita sedih. Dengan aksi itu, mereka kini bersiap ke Munich.

Inzaghi Bicara Soal Mental dan Pengorbanan

Simone Inzaghi menyebut timnya menunjukkan mental juara.

“Barcelona adalah tim yang hebat. Tapi kami tidak menyerah. Kami bermain dengan hati, meski kondisi beberapa pemain tidak ideal,” ucapnya.

Ia menyoroti pengorbanan para pemain: Lautaro Martinez, Thuram, dan Dumfries yang baru pulih dari cedera, serta Frattesi yang bahkan tak ikut latihan sehari sebelumnya.

Baca Juga: Semen Padang Bangkit dari ANCAMAN DEGRADASI, Bonus ‘Plastik Hitam’ Jadi Suntikan Motivasi

“Mereka tampil luar biasa. Ini buah dari dua tahun kerja keras,” tegasnya.

Final di Munich Menanti

Dengan hasil ini, Inter Milan memastikan tempat di final Liga Champions yang akan digelar di Munich pada 31 Mei mendatang.

Lawan mereka akan ditentukan dari duel antara Arsenal dan Paris Saint-Germain.

Setelah menyingkirkan raksasa seperti Bayern Munich dan Barcelona, satu hal sudah pasti: siapa pun lawannya nanti, Inter siap untuk pertarungan pamungkas. ***