POJOKSATU.ID - Pemerintah Argentina pasang badan atas beredarnya video pemain Timnas Argentina menyanyikan lagu bernada rasis.
Bahkan pejabat di Kementerian Olahraga Argentina yang menyuruh kapten Timnas, Lionel Messi meminta maaf atas beredarnya video rasis itu, malah kena PHK alias dipecat.
Dikutip Pojoksatu.id dari Daily Mail, Kamis 18 Juli 2024, Argentina memecat wakil menteri olahraga, Julio Garro.
Baca Juga: Protes Cleansing di Jakarta, FSGI: Guru Honorer Harusnya Dikontrak, Bukan Dipecat
Garro sebelumnya menyarankan Lionel Messi meminta maaf atas tindakan rekan-rekannya yang menyanyikan lagu rasis dan homofobik yang ditujukan kepada Timnas Prancis setelah menjuarai Copa America 2024, Minggu 14 Juli lalu.
Setelah kemenangan 1-0 yang kurang memuaskan atas Kolombia dalam final Copa America 2024, gelandang Enzo Fernandez melakukan siaran langsung dan rekan-rekannya menyanyikan lagu diskriminatif di dalam bus tim.
Video rasis itu langsung heboh di media sosial, lalu wakil sekretaris olahraga Julio Garro angkat bicara tentang masalah tersebut. Sebuah keputusan yang langsung berdampak buruk pada jabatannya.
Baca Juga: Peringati Hari Bhakti Adhyaksa ke-64 Kejaksaan Negeri Sumber Gelar Serangkaian Kegiatan Sosial
Garro muncul di stasiun radio Urbana Play dan menyarankan kapten Timnas Argentina untuk meminta maaf atas tindakan timnya.
Beberapa jam kemudian, ia dipecat oleh presiden sayap kanan Argentina, Javier Milei.
"Kantor Presiden menyatakan bahwa tidak ada pemerintah yang berhak memberitahu tim nasional Argentina, juara dunia dan juara Copa America ganda, atau warga lainnya, apa yang harus dikomentari, apa yang harus dipikirkan, dan apa yang harus dilakukan," pernyataan di akun media sosial resmi Milei.
"Itulah mengapa Julio Garro tidak lagi menjadi wakil sekretaris kementerian olahraga," lanjut pernyataan tersebut.
Pernyataan Garro sebelum dirinya dipecat memang cukup keras, meski secara jelas ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Argentina adalah negara yang bermartabat.
"Saya pikir [Messi] seharusnya keluar dan menawarkan permintaan maaf yang tepat, seperti yang seharusnya dilakukan oleh presiden Federasi Sepak Bola Argentina [Claudio Tapia]," kata Garro.
Dia menambahkan bahwa insiden itu 'membuat Argentina terlihat buruk sebagai sebuah negara' dan bahwa akan baik 'membuat contoh dari ini'.
Lagu yang dinyanyikan dalam video itu mengejek pemain Prancis karena warisan Afrika mereka.
Setelah reaksi negatif langsung dari para penggemar, Fernandez meminta maaf di media sosial.
"Saya ingin meminta maaf dengan tulus atas video yang diposting di saluran Instagram saya selama perayaan tim nasional," tulis Enzo Fernandez.
"Lagu itu mengandung bahasa yang sangat menyakitkan dan tidak ada alasan sama sekali untuk kata-kata ini," lanjut Fernandez.
"Saya menentang diskriminasi dalam segala bentuknya dan meminta maaf atas terbuai dalam euforia perayaan Copa America kami."
"Video itu, saat itu, kata-kata itu, tidak mencerminkan kepercayaan atau karakter saya. Saya sungguh menyesal."
Namun, rekan-rekan tim Fernandez di Chelsea tidak senang dengan tindakannya.
Tim yang berbasis di London itu memiliki beberapa pemain Prancis keturunan warna termasuk Wesley Fofana, Axel Disasi, Benoit Badiashile, Malo Gusto, Lesley Ugochukwu, dan Christopher Nkunku.
Baca Juga: Sri Mulyani Diminta Periksa Keuangan Pendeta Janto Simkoputera GBI CK7
Klub berbasis di London sedang menyelidiki rekaman kontroversial yang menunjukkan pemain Argentina menyanyikan tentang bagaimana pemain Prancis berasal dari 'Angola' atau memiliki 'ibu Nigeria' dan 'ayah Kamerun'.
Fofana, yang berkebangsaan Prancis dan memiliki ayah dari Pantai Gading, memposting video tersebut dengan keterangan: 'Sepak bola tahun 2024: rasisme tanpa hambatan'.
Dalam beberapa hari sejak video itu diposting, Fofana, Disasi, dan Gusto semuanya sudah tidak lagi mengikuti Fernandez di media sosial.
FIFA juga telah memulai penyelidikan setelah aduan dari Federasi Sepak Bola Prancis dan menteri olahraga.
Di sisi lain, wakil presiden Argentina, Victoria Villarruel, membela Fernandez di X dan menyebut Prancis sebagai negara 'kolonialis'.
"Tidak ada negara kolonialis yang akan mengintimidasi kami karena lagu di lapangan atau karena mengungkap kebenaran yang mereka tidak mau akui," tulis Villarruel.
"Argentina adalah negara berdaulat dan bebas. Kami tidak pernah memiliki koloni atau warga kelas dua. Kami tidak pernah memaksakan gaya hidup kami pada siapa pun."
"Tapi kami juga tidak akan mentolerir jika mereka melakukannya pada kami...Enzo saya mendukungmu, Messi, terima kasih atas segalanya! Orang Argentina selalu tegakkan kepala tinggi," tutupnya.***

