Kesaksian Aremania Ungkap Detik-detik Kerusuhan Kanjuruhan, Tragedi Itu Bermula dari Sini

Detik-detik tragedi Kanjuruhan Malang
Detik-detik tragedi Kanjuruhan Malang

POJOKSATU.ID, MALANG – Kronologis kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10) malam, diungkap salah seorang Aremania, Rezki Wahyu.


Melalui akun twitter @RezqiWahyu_05, Rezki menceritakan detik-detik pecahnya tragedi Kanjuruhan Malang yang mengakibatkan 187 orang meninggal dunia.

Dalam utas yang diunggah Rezki, Minggu (2/10) dini hari, ia menjelaskan secara detail sejak awal dirinya masuk Stadion Kanjuruhan, jalannya laga hingga terjadinya kerusuhan.

Berikut kutipan langsung utas kronologis kerusuhan Kanjuruhan versi Rezki Wahyu, setelah Pojoksatu.id meminta izin ke yang bersangkutan:


“Assalamualaikum. Sebelumnya saya turut berduka cita sedalam”nya terhadap korban insiden yg terjadi di stadion Kanjuruhan pertandingan Arema vs Persebaya,” tulis akun @RezqiWahyu_05.

“Yg kedua syukur alhamdulillah, sy di beri keselamatan sampai di rumah..Dan Bisa menceritakan kronologi versi saya pribadi di sini,” lanjutnya.

BACA JUGA : Bikin Konten Prank KDRT ke Polisi, Deddy Corbuzier Kritik Keras Baim Wong

Disini saya akan coba menceritakan kronologi insiden yang terjadi di Kanjuruhan 1 Oktober 2022.”

Dari awal saya masuk stadion (kondisi pemain sedang pemanasan) semua berjalan aman dan tertib hingga kick off pukul 20.00.

Kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun. Yang ada hanya supporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain Persebaya.

Babak pertama selesai, dan saat jeda istirahat, ada sekitar 2-3 kali kericuhan sedikit di tribun 12-13, yang bisa segera diamankan oleh pihak berwenang.

Babak ke-2 berlanjut dan tim persebaya berhasil mencetak golnya yang ke-3. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta.

BACA JUGA : Tak Layak Nyawa Melayang Gegara Sepak Bola, Inilah Ungkapan Duka Artis Lokal hingga Lee Min Ho untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai supporter menontonnya.

Hingga peluit ahir dibunyikan Arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan.

Di sinilah awal mula tragedi dimulai.

Setelah peluit di bunyikan, para pemain Arema tertunduk lesu dan kecewa. Pelatih Arema dan Manager tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke supporter.

Di sisi lain, ada seorang supporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa (pemain Arema FC). Terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka.

Kemudian ada lagi beberapa oknum suporter yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema, terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepadan oknum-oknum tersebut.

Namun, semakin banyak mereka berdatangan, semakin ricuh kondisi stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain.

BACA JUGA : Beda Laporan Diterima Jokowi, Korban Tragedi Kanjuruhan Malang jadi 187 Orang Meninggal Dunia !

Di ikuti dengan lemparan berbagai macam benda ke arah lapangan, dan para suppoter yang semakin tidak terkendali. Akhirnya pemain digiring masuk ke dalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib.

Setelah pemain masuk, supporter makin tidak terkendali dan semakin banyak yang masuk ke lapangan.

Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para supporter, yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkat panjang, satu supporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya.

Tapi saat aparat memukul mundur supporter di sisi selatan, supporter dari sisi utara yang menyerang ke arah aparat.

Karena semakin banyaknya supporter yang masuk ke lapangan dan kondisi sudah tidak kondusif, aparat menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suppoter yang ada di lapangan.

Silih berganti supporter menyerang aparat dari sisi selatan dan utara.

Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembak-tembakan gas air mata ke arah supporter.

Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah supporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu di tribun 10.

Para supporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh di atas tribun, mereka berlarian mencari pintu keluar.

Tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak karena para supporter panik terkena gas air mata.

Banyak ibu-ibu, wanita, orang tua dan anak kecil yang terlihat sesak tak berdaya, gak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion.

Terlihat mereka sesak karena terkena gas air mata. Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet.

Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah.

Sedangkan untuk keluar stadion pun gak bisa karena macet penuh sesak di pintu keluar.

Di luar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.

Dan sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan supporter terhadap aparat yang dianggap mengurung kita di dalam Stadion dengan puluhan gas air mata.

Dan terjadi beberapa tembakan gas air mata kembali di luar stadion. Lebih tepatnya di sekitar tribun 2 Kanjuruhan.

Kondisi di luar Stadion Kanjuruhan sudah sangat mencekam. Banyak supporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita.

Supporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah. Batu batako, besi dan bambu berterbangan.

Dan selama saya jadi supporter Arema -Saya dikenalkan Arema oleh orang tua saya saat tahun 2007 hingga saat ini.

Hari ini, 1 Oktober 2022 adalah titik terendah saya menjadi seorang supporter (Aremania). Saya masih belum percaya menyaksikan saudara-saudara saya dengan kondisi seperti ini.

Rezki Wahyu menutup utasnya dengan mengungkapkan perasaan duka mendalam atas tragedi Kanjuruhan Malang.

“Saya sangat terpukul dengan adanya insiden ini. Dan semoga kejadian ini adalah yang terakhir di semua cabang olahraga dan hiburan, khususnya di sepak bola,” tutupnya. (adika/medil/pojoksatu)