POJOKSATU.ID - Mengenang Kosasih Kartadiredja, wasit Indonesia Pertama berlisensi FIFA yang dijuluki King Kobra Asia.

Indonesia memang sudah punya banyak wasit berlisensi FIFA. Sayangnya, lisensi yang mereka miliki tidak sebaik performanya di lapangan.

Terbukti, kinerja wasit yang memimpin pertandingan Liga 1 musim 2023/24 ini masih kerap menuai sorotan karena dianggap buruk.

Baca Juga: 12 Rekap Berita Bursa Transfer Hari Ini 30 Agustus: Man City Punya Pemain Baru Lagi

Padahal sudah dilakukan seleksi wasit Liga 1 sebelum kompetisi musim ini bergulir dengan menggandeng menggandeng JFA (Federasi Sepak Bola Jepang) untuk memperbaiki kualitas wasit.

Bahkan dalam seleksi itu ada tiga wasit FIFA yang tidak lolos seleksi. Mereka adalah Fariq Hitaba, Sance Lawita, dan Aprisman Aranda.

Sementara dua wasit berlisensi FIFA andalan Indonesia, Thoriq Alkatiri dan Yudi Nurcahya masih kembali dipercaya memimpin pertandingan Liga 1 musim ini.

Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Bola Malam Ini 30 Agustus: Indonesia vs Korea, Chelsea, Everton dan Liga Champions

Sayangnya dua wasit FIFA ini juga tak luput dari sorotan. Paling jadi perhatian adalah keputusan kontroversial Yudi Nurcahya yang tidak memberikan penati kepada PSS Sleman saat menghadapi Persis Solo.

Adapun Thoriq Alkatiri, salah satu wasit terbaik di Indonesia ini juga tidak tegas saat laga Persebaya Surabaya menjamu PS Barito Putera.

Pemain Persebaya, Song Ui-young ditarik oleh bek Barito Putera, Bagas Kaffa di kotak penalti. Namun, wasit Thoriq Alkatiri tidak menganggapnya sebagai penalti.

Baca Juga: Rekap Hasil Final dan Daftar Juara Dunia BWF 2023: Seo Seung Jae Berjaya di Dua Nomor, Prifad Perak

Secara garis besar wasit Indonesia saat ini dianggap tidak tegas alias takut membuat keputusan.

Sorotan ini pernah disampaikan Kosasih Kartadiredja, wasit Indonesia pertama yang berlisensi FIFA.

“Wasit sekarang saya lihat kadang takut mengeluarkan kartu kuning atau merah. Takut mungkin tekanan tuan rumah atau penonton. Enggak boleh begitu! Wasit itu director of the game, pemimpin pertandingan,” ujar Kosasih, dikutip dari Historia.id, Februari 2019 lalu.

Pernyataan Kosasih Kartadiredja memang bukan sekadar di mulut saja. Pria asal Sukabumi Jawa Barat yang meninggal dunia Maret 2022 lalu itu, dikenal sebagai wasit pemberani.

Baca Juga: Timnas Indonesia U17 Kalah Tipis dari Korea Selatan U17, Diwarnai Penalti Gagal

Ia aktif memimpin sejumlah pertandingan, baik di dalam maupun luar negeri di era 1970-an.

Mungkin nama Kosasih Kartadiredja terbilang asing di telinga pecinta sepakbola sekarang.

Namun pada 1970-an, nama Kosasih jadi momok buat setiap tim, pemain, maupun sesama wasit. Ia selalu berusaha berada sedekat mungkin dengan bola untuk menetapkan keputusan-keputusan tepat nan tegas.

Persentuhan awal pria kelahiran Sukabumi, 13 Agustus 1934 itu dengan sepakbola terjadi saat dia menjadi pemain Perssi Sukabumi pada 1950-an.

Baca Juga: Perjuangan Lionel Sinathrya, Demi Seleksi Timnas Indonesia U17, Rela Tinggalkan Prancis

Namun kariernya sebagai pesepakbola mandek, sehingga Kosasih memilih beralih jadi wasit pada 1955.

Ayah Kosasih, Mohammad Saleh Kartadiredja sejak awal memang tidak setuju dengan langkah anaknya jadi pemain sepak bola.

Apalagi Kosasih tidak tamat SMA. Hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat) dulu tahun 1950. Tapi Ia sempat bermain di tim Perssi Yunior sampai 1955.

"Tahun berikutnya saya dinasihati pelatih saya bahwa kalau tetap jadi pemain, tidak akan jadi pemain bagus. Lebih baik jadi wasit. Makanya kemudian saya belajar jadi wasit,” kenangnya.

Baca Juga: Bung Binder Curiga Ada Pungli Dalam Seleksi Wasit, Tagih Janji Erick Thohir Bersih-bersih Mafia Bola

Mulai 1955 itulah Kosasih kursus bahasa Inggris, kemudian ikut pendidikan wasit tingkat kabupaten hingga mendapat Lisensi C3 PSSI. Hingga mendapat dapat Lisensi C1 nasional setelah pendidikan satu bulan di Jakarta pada 1965.

Dalam setiap laga kompetisi Perserikatan yang dipimpinnya, Kosasih senantiasa berusaha bertindak adil dalam mengambil setiap keputusan. Jadilah Kosasih wasit PSSI pertama berlisensi FIFA pada 1972.

“Sampai awal 1972, PSSI mengajukan nama saya ke FIFA. Dalam beberapa waktu saya diteliti (dipantau) oleh Mister (Peter) Velappan dari AFC. Akhirnya, di tahun yang sama saya lulus Lisensi FIFA,” kenang ayah dari 12 anak itu.

Badge FIFA yang didapatnya membuat Kosasih makin disegani di lapangan. Sekalipun ada yang menantang, Kosasih pantang ciut nyali. “Jadi wasit mah jangan takut,” katanya.

Baca Juga: Marc Klok Moncer Jelang Persija vs Persib, Macan Kemayoran Wajib Waspadai Sang Mantan

Ketika memimpin laga antara Persija vs Persebaya di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno), 11 Desember 1973, Kosasih tak segan mengusir dua pemain bintang, Rusdy Bahalwan dan Simson Rumahpasal.

Kedua pemain itu bertengkar di lapangan dan langsung mendapat kartu merah dari Kosasih.

Di lain waktu, seorang pemain bahkan menantang Kosasih karena tak terima diusir dari lapangan.

“Pernah pertandingan di Makassar, si Andi Lala tidak terima keputusan saya. Dia bilang, ‘Awas nanti di luar ya!’. Tunggu saja di luar, saya jawab begitu,” kata Kosasih yang lupa kapan persisnya momen itu terjadi.

Baca Juga: 'Bantenge Metu Kandang' Lagu Dukung Ganjar Pranowo dari NDX AKA dan BMI Gotong Royong

Dia memang dikenal galak, sangat berani mengeluarkan kartu merah sehingga dijuluki budak leutik paling berani. Sementara di Asia, dia dijuluki wasit King Cobra.

Raja Kobra Asia di Pentas Dunia

King Cobra jadi julukan yang melekat pada Kosasih lantaran ketegasannya bikin kagum publik sepakbola Asia.

Konon, julukan itu diberikan media Singapura, Strait Times karena kagum dengan kepemimpinan Kosasih.

"Karena katanya saya lincah bergerak mendekati bola saat pemainan berlangsung. Ya namanya wasit harus begitu, maksimal 10 meter dari bola,” sambungnya.

Baca Juga: Perbaikan Rumput JIS Mulai Digeber, Siap Jadi Venue Pembukaan Piala Dunia U17 2023

Sejak mengantongi Lisensi FIFA pada 1972, Kosasih kerap diminta jadi pengadil di sejumlah ajang sepakbola. Antara lain, King’s Cup 1972 dan 1972 di Thailand, Quoc Khanh Cup 1973 di Vietnam, dan President’s Cup 1975 di Korea Selatan.

Dari Asia, nama Kosasih lalu mulai dikenal dunia. Dia dipercaya menjadi salah satu wasit di Piala Dunia Yunior 1979 di Tokyo.

Tapi Kosasih tak sempat memimpin laga-laga yang dimainkan Diego Maradona, bintang sepakbola asal Argentina yang sinarnya mulai benderang di ajang ini. Pasalnya, Argentina tergabung di Grup B bersama Indonesia.

Menurut catatan FIFA dalam 'Technical Study Report: FIFA World Youth Tournament 1979', Kosasih tiga kali tampil di lapangan.

Sekali sebagai wasit utama dalam laga antara Spanyol vs Aljazair (Grup A), dua lainnya sebagai asisten wasit (hakim garis) di partai Uni Soviet vs Hungaria (Grup D) dan Spanyol vs Meksiko (Grup A).

Baca Juga: Xpora Indonesia International Challenge 2023 : Tommy Sugiarto Melaju ke 16 Besar

Kosasih juga berbagi pengalaman dan kebanggaannya berpartisipasi pada turnamen bergengsi FIFA itu. Sebab dirinya merupakan satu dari tiga wasit Asia yang memimpin pertandingan di turnamen tersebut.

"Saya modalnya hafal peraturan dan berusaha kuat mental menghadapi pemain. Dalam perwasitan FIFA kan kita harus ingat 5F: Faithfull (yakin), Fearless (tak gentar), Fair (adil), Firm (tegas), Fitness (kuat jasmani dan rohani),” papar Kosasih.

Momen-momen lain yang tak terlupakan bagi Kosasih adalah saat ikut memimpin laga-laga eksebisi klub-klub Eropa yang bertandang ke Indonesia.

“Dulu ada pertandingan MU (Manchester United) dan Ajax Amsterdam tahun 1975. Juga Liverpool dan Cosmos, itu yang ada Pele-nya ikut main (1976),” kenangnya.

Gaji Rp20 Ribu Tapi Pantang Disogok

Menjadi wasit dengan lisensi FIFA ternyata tidak sebanding dengan gaji yang diterima.

Menurut Kosasih Kartadiredja, saat memimpin pertandingan di Indonesia dia hanya diupah sekira Rp20 ribu per laga.

Baca Juga: Respon Terhadap Klarifikasi RM BTS, Kadam Sidik : Mari Kita Anggap Semua Sudah Clear

Sementara untuk pertandingan yang diadakan FIFA, Kosasih mendapat Rp100 ribu per laga.

Keadaan itulah yang membuat posisi wasit rentan sogokan. Kosasih tak sekali-dua kali ditawari 'uang haram' untuk mengatur skor.

Tapi, tak sekali pun dia mau terima. Untuk menafkahi istri dan ketujuh anaknya, Kosasih memilih hidup pas-pasan ketimbang terima duit panas macam begitu.

“Sampai pernah saya harus jual medali emas penghargaan Kejuaraan Dunia (Piala Dunia Yunior) 1979 itu buat kebutuhan sehari-hari,” lirih Kosasih.

Setelah malang-melintang di dunia perwasitan hingga tingkat dunia, Kosasih lepas peluit alias pensiun pada 1986. Namun, hidupnya tetap tak jauh dari perwasitan Indonesia.

Baca Juga: Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga, Praka Riswandi Manik Picu Bangsa Aceh Ancam Angkat Senjata Keluar dari NKRI

Sedari 1986, Kosasih masuk ke Komisi Wasit PSSI dan menduduki jabatan wakil ketua setahun setelahnya sampai 1995.

Dalam kurun itu, Kosasih makin sibuk sehingga memilih pensiun dini dari kedinasan di Pemerintah Daerah (Pemda) II Kabupaten Sukabumi.

Setelah tak lagi di Komisi Wasit, Kosasih tetap diminta menjadi tenaga pengajar penataran wasit C-III hingga C-I dalam beberapa penataran yang digelar PSSI hingga tahun 2007.

Setelah itu, Kosasih hanya menghidupi keluarganya dengan bermodal uang pensiunan PNS Golongan III-C dan gaji kecil istrinya, Dede Rokayah, yang berprofesi sebagai guru SD.

Kosasih tak pernah mengeluh apalagi menuntut. Hal itu menjadi pembuka pintu rezeki baginya.

Baca Juga: Telah Bergabung dengan Tim, Inilah Sosok Dua Pemain Asing PSMS Medan asal Korsel dan Brasil

Pada 2007, Kemenpora (era Adhyaksa Dault) menganugerahinya medali Adi Manggalya Krida dalam rangka Hari Olahraga Nasional, 9 September. Juga santunan Rp10 juta.

Kosasih amat mensyukurinya kendati kehidupan keluarganya masih pas-pasan.
Kehidupannya bertambah berat setelah Kosasih terserang stroke pada 2012 hingga membuatnya tak bisa berjalan lagi.

"Tapi saya tidak bisa operasi karena mahal. Tidak ada bantuan dari mana-mana. Lupa begitu saja. Ya PSSI, ya Pemda,” kata Kosasih.

Sejak itu, perekonomian keluarga Kosasih Kartadiredja tergolong susah karena harus membagi pendapatan pensiunannya untuk pengobatan.

Pengobatannya pun sekadar pijat/urut seminggu sekali. Kosasih sempat lumpuh dalam waktu lama. Tapi sejak tahun 2018, perlahan Kosasih sudah mulai bisa belajar jalan dengan bantuan kruk.

Baca Juga: Izin Pemko Medan Sudah Keluar, PSMS Menanti Hasil Verifikasi PT LIB untuk Penggunaan Stadion Teladan Musim Ini

Sayangnya, kondisi Kosasih terus memburuk karena faktor usia juga. Kosasih Kartadiredja menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu 23 Maret 2022, pada usia 88 tahun.

Mantan pemain Perssi Sukabumi, Aljaidi (65) mengenang Kosasih sebagai sosok wasit yang disiplin dan tegas.

Ia mengaku sangat kehilangan sosok legenda wasit yang berperan dalam memajukan sepak bola Indonesia.

"Jadi istilahnya serius, tidak pernah main-main kalau memimpin pertandingan, banyak yang sudah dibuat sama pak Kosasih untuk sepak bola Indonesia,” kata mantan kiper Perssi ini, dikutip Pojoksatu.id dari Radar Sukabumi.

Meski Kosasih Kartadiredja sudah tiada, Aljaidi berharap karakter dan kepemimpinannya bisa diikuti wasit-wasit Indonesia sekarang untuk kemajuan sepak bola Tanah Air.***