POJOKSATU.ID - Andrea Longoni mengkalim AC Milan gagal total di semua lini pada musim 2024/25 ini.

Jurnalis ternama Italia itu menyebut sulit untuk menemukan sisi positif dari Rossoneri musim ini.

Meski ada beberapa momen yang bisa diapresiasi, perasaan dominan yang menyelimuti musim Milan adalah kekecewaan—dan itu masih tergolong ringan.

Baca Juga: Tunjangan Sertifikasi Guru Mulai Cair, Gaji ke-13 dan Tambahan THR Menyusul

Di level senior, Milan saat ini berada di posisi kesembilan klasemen sementara Serie A, dengan empat laga tersisa.

Mereka bahkan tidak benar-benar bersaing untuk zona Eropa, apalagi Scudetto yang semula dianggap sebagai target utama musim ini.

Jika jadi juara liga memang tujuannya, maka hasilnya adalah kegagalan besar.

Baca Juga: INFO Pencairan TPG Triwulan I: GURU TUNGGAL Tidak akan Bisa Lepas dari Kode 02 Jika Tidak Segera Lakukan Langkah Ini!

Lolos ke Liga Europa lewat jalur Coppa Italia tentu akan menjadi bonus yang disambut baik.

Namun, itu tidak cukup untuk menyelamatkan musim. Justru akan mempertegas rasa penyesalan yang sudah ada.

Minggu 4 Mei 2025 hari ini, Andrea Longoni melakukan evaluasi terhadap kinerja AC Milan musim ini di Milan News, dan hasilnya jelas tidak positif.

Baca Juga: Revisi UU ASN Masuk Prolegnas DIPROTES DAERAH, PPPK Bisa Dapat HAK PENSIUN, Tegaskan HONORER DILARANG, Jabatan ASN Bisa Diisi TNI Polri, Cek Nasib ASN

“Setelah Monza (yang benar-benar kolaps) dan Inter (yang masih bersaing untuk Scudetto), Milan adalah tim yang kehilangan poin paling banyak dibanding musim lalu," kata Longoni.

Dengan empat pertandingan tersisa, Rossoneri musim lalu memiliki 71 poin, sekarang mereka tertinggal 17 poin.

“Tim yang paling banyak mengalami peningkatan adalah Napoli, dari 51 menjadi 74 poin," ulas Longoni.

Kenaikan 23 poin itu, lanjut Longoni, ditandai oleh kehadiran Antonio Conte—sosok yang musim panas lalu sebenarnya ingin datang ke Milanello, tetapi justru diabaikan oleh kelompok kerja ‘super’ klub.

“Perlu diingat bahwa pilihan pertama manajemen adalah Julen Lopetegui, yang saat ini sudah beralih dari dipecat West Ham menjadi pelatih tim nasional Qatar. Ini menjadi bukti nyata lain betapa buruknya perencanaan musim ini."

“Paulo Fonseca lebih dulu, lalu Sergio Conceicao, pada akhirnya hanya bertahan masing-masing enam bulan di Milan."

Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Terminal Khusus Haji yang Lebih Manusiawi di Bandara Soetta

Belum lagi kegagalan proyek Milan Futuro—sebuah investasi penting dan proyek yang menarik—yang kini di ambang kegagalan dengan ancaman nyata terdegradasi ke Serie D.

“Banyak pertanyaan muncul secara spontan. Bagaimana mungkin bisa membuat kesalahan sebesar ini? Bahkan jika disengaja pun sulit. Namun yang lebih mengejutkan, tidak ada satu pun manajer yang posisinya dipertanyakan untuk musim depan. Absurd, benar-benar absurd."

Longoni terus menyoroti orang-orang di balik layar AC Milan dengan menyebutnya sebagai manajemen amatiran.

“Belum lagi soal direktur olahraga dan risiko besar Milan akan tetap dengan struktur yang sekarang: tidak lengkap dan terpotong. Ini menjadi ‘kado penutup’ dari sebuah manajemen amatiran yang acuh pada performa tim dan tidak menghormati para fans," tuturnya.

Dalam dunia sepak bola, ada aturan tak tertulis yang selalu dipegang. Salah satunya adalah pentingnya sosok direktur olahraga, tidak hanya dalam transfer pemain, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari di pusat latihan.

Baca Juga: KETETUAN LENGKAP Pendaftaran UM PTKIN 2025, DISIAPKAN Total Kuota 92.011 Kursi dan 1.325 Prodi, DIBUKA Hingga 28 Mei, Cek Jadwal UM PTKIN 2025 LENGKAP

Sama pentingnya adalah faktor waktu dan perencanaan, yang di Milan seolah tak lagi dihiraukan.

“Kenyataannya, Milan saat ini sudah bukan klub normal lagi. Bahkan, menarik untuk melihat dalam 12 bulan ke depan, apa rencana mereka terhadap masa depan Theo Hernandez dan Mike Maignan—di tengah diamnya pihak klub dan tawaran ekonomi yang sempat ditarik kembali."

Dari sisi ekonomi pun, kedua pemain penting Milan itu terus mengalami penurunan nilai jual, dan tidak sedikit.

“Milan berada di peringkat sembilan klasemen, dan itu sudah sangat mengecewakan. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana manajemen merencanakan masa depan. Tidak ada arah dan tidak ada kepastian hingga hari ini. Kasihan Iblis Merah…”

AC Milan sendiri sudah hampir pasti gagal berkompetisi di Liga Champions musim depan.

Bukan hanya UCL, mereka juga terancam tidak bisa tampil di Liga Europa dan Liga Konferensi.

Kecuali jika AC Milan menjuarai Coppa Italia musim ini yang berarti tiket berlaga di Liga Europa. Hanya itu yang bisa dibanggakan.***