POJOKSATU.id – Tim Nasional Iran menghadapi persoalan baru menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026.

Pembatasan visa masuk Amerika Serikat, berpotensi mengganggu aktivitas resmi Timnas Iran selama turnamen berlangsung.

Ketegangan diplomatik yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat kembali memengaruhi persiapan tim berjuluk Team Melli tersebut menjelang laga perdana fase grup.

Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah pejabat dan anggota staf penting tim nasional belum memperoleh visa untuk memasuki wilayah Amerika Serikat.

Baca Juga: Buntut Blackout Sumatera Mei 2026, Kinerja Dewas Komisaris PLN Dipertanyakan

Beberapa nama yang disebut terdampak antara lain Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran Hedayat Mombeini serta Wakil Presiden Federasi Mehdi Mohammad Nabi.

Secara keseluruhan, sedikitnya 14 anggota staf dan pejabat federasi dikabarkan belum mendapatkan izin masuk ke negara tuan rumah pertandingan.

Kondisi tersebut menambah daftar persoalan yang harus dihadapi Iran sebelum tampil di ajang sepak bola terbesar dunia yang akan dimulai dalam waktu dekat.

Wajib Datang dan Pulang di Hari yang Sama

Di tengah persoalan visa tersebut, muncul informasi baru yang dinilai dapat menyulitkan operasional tim selama mengikuti kompetisi.

Baca Juga: 40 Contoh Soal PAT PAI Kelas 5 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Lengkap dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengatakan tim nasional hanya diperbolehkan memasuki Amerika Serikat pada hari pertandingan berlangsung.

Menurutnya, delegasi Iran juga diwajibkan meninggalkan wilayah Amerika Serikat pada hari yang sama setelah pertandingan selesai dimainkan.

"Kami bisa masuk pada pagi hari dan harus pergi pada hari yang sama," kata Pasandideh kepada wartawan.

Iran diketahui menempatkan pusat latihan mereka di Meksiko selama turnamen berlangsung meskipun seluruh pertandingan Grup G akan digelar di Amerika Serikat.

Dalam fase grup, Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles sebelum menutup perjuangan grup dengan melawan Mesir di Seattle.

Jika pembatasan tersebut benar diterapkan, Iran diperkirakan harus menjalani perjalanan lintas negara dalam waktu singkat untuk setiap pertandingan.

Selain menimbulkan tantangan logistik, kebijakan itu juga berpotensi memengaruhi persiapan teknis dan pemulihan kondisi pemain selama turnamen berlangsung.

Baca Juga: Motif Pembunuhan Bidan Situbondo oleh Suami Didasari Cemburu Buta Tak Menentu

Bertentangan dengan Regulasi FIFA

Situasi tersebut juga menimbulkan persoalan lain karena Iran berisiko tidak dapat memenuhi salah satu kewajiban resmi yang ditetapkan FIFA.

Berdasarkan regulasi turnamen, setiap pelatih kepala diwajibkan menghadiri konferensi pers resmi sehari sebelum pertandingan digelar di stadion pertandingan.

Kehadiran tim pada sesi media dan latihan resmi menjadi bagian dari agenda wajib yang harus dipenuhi seluruh peserta Piala Dunia.

Namun, jika Iran hanya diperbolehkan masuk pada hari pertandingan, kewajiban tersebut hampir mustahil dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Timnas Iran Hanya Bisa Masuk Amerika Serikat di Hari Pertandingan

Pemerintah Iran kemudian meminta FIFA mengambil sikap atas situasi yang mereka anggap sebagai perlakuan tidak adil terhadap tim nasionalnya.

Melalui pernyataan resmi yang disampaikan Kedutaan Besar Iran di Turki, pemerintah Iran menilai tindakan tersebut melanggar kewajiban negara tuan rumah.

"Anda tidak bisa menutupi tindakan yang melanggar peraturan FIFA dan kewajiban Amerika Serikat sebagai tuan rumah hanya dengan memuji diri sendiri," demikian isi pernyataan tersebut.

Iran juga mempertanyakan alasan penolakan visa terhadap sejumlah staf yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung jalannya tim nasional selama kompetisi.

"Mengapa Anda tidak mengatakan bahwa visa ditolak untuk sebagian besar staf manajerial, eksekutif, penasihat teknis, dan pihak lain yang menjadi bagian integral tim nasional?" lanjut pernyataan itu.

Pemerintah Iran menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk intervensi politik yang merugikan persiapan olahraga dan menciptakan tekanan tambahan bagi para pemain.

Mereka bahkan menyebut perlakuan tersebut sebagai bentuk campur tangan bermotif politik yang paling buruk dalam dunia olahraga internasional.

Hingga saat ini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan Iran maupun kemungkinan pengecualian terhadap aturan yang berlaku selama turnamen berlangsung.

Dengan hitungan hari menuju kick-off Piala Dunia 2026, perhatian kini tertuju pada bagaimana FIFA dan Amerika Serikat akan menyikapi persoalan yang berpotensi menjadi kontroversi besar di luar lapangan.***