POJOKSATU.id - Kepergian Franco Baresi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar AC Milan dan pencinta sepak bola dunia.

Legenda Rossoneri yang menjadi simbol kejayaan klub pada era 1980 hingga 1990-an itu meninggal dunia dalam usia 66 tahun saat AC Milan tengah menjalani tur pramusim di Perth, Australia.

Kabar wafatnya mantan kapten AC Milan tersebut diumumkan langsung oleh klub, Jumat 31 Juli 2026.

Namun, hingga kini penyebab meninggalnya Baresi belum disampaikan kepada publik.

Baca Juga: Rashford Masuk Radar Tottenham, Harga Transfer Terjangkau tetapi Terkendala Masalah Ini

Berita itu sontak memicu gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan, mulai mantan rekan setim hingga tokoh sepak bola internasional.

Pemimpin yang Mengubah Sejarah AC Milan

Nama Franco Baresi tak bisa dipisahkan dari masa keemasan AC Milan.

Sebagai kapten, ia memimpin Rossoneri meraih tiga gelar Piala Champions Eropa serta enam trofi Liga Italia.

Bersama tim nasional Italia, Baresi juga menjadi bagian skuad juara Piala Dunia 1982 yang dikenang sepanjang sejarah sepak bola Negeri Pizza.

Baca Juga: Siap Jegal Langkah Persija ke Semifinal Piala Presiden, PSMS Bakal Rotasi Pemain demi Poin Perdana di Laga Terakhir

Kariernya berkembang sangat cepat sejak usia muda.

Baresi sudah menembus tim utama AC Milan ketika baru berusia 18 tahun, kemudian dipercaya mengenakan ban kapten empat tahun berselang.

Hingga memutuskan pensiun pada 1997, ia mencatatkan 719 penampilan bersama Rossoneri, sebuah rekor yang hanya dilampaui Paolo Maldini.

Baresi dikenal sebagai bek dengan kemampuan membaca permainan yang luar biasa.

Ketenangan, kepemimpinan, dan kecerdasannya mengatur lini belakang menjadikannya salah satu pemain bertahan terbaik yang pernah dimiliki AC Milan maupun sepak bola dunia.

Ucapan Duka Mengalir dari Rekan dan Mantan Anak Didik

Paolo Maldini menjadi salah satu sosok yang paling terpukul atas kepergian mantan kaptennya.

Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan kesedihan mendalam sembari mengenang sosok pemimpin yang selalu menjadi panutan di ruang ganti.

"Hari ini saya merasakan perasaan yang sama seperti ketika, karena suatu alasan, Anda tidak bisa berada di lapangan bersama kami. Bagaimana kami bisa menjalani semuanya tanpa kapten kami?" ujar Maldini.

AC Milan juga menyampaikan penghormatan melalui pernyataan resmi.

Klub menegaskan bahwa integritas, dedikasi, dan keteladanan Franco Baresi akan selalu menjadi bagian dari identitas Rossoneri.

Klub juga mengingatkan bahwa beberapa bulan sebelum wafat, Baresi masih tampil di hadapan puluhan ribu pendukung di Stadion San Siro saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan Cortina.

Momen tersebut kini menjadi salah satu kenangan terakhir sang legenda di hadapan publik.

Warisan Kepemimpinan yang Sulit Tergantikan

Pelatih Tottenham Hotspur, Roberto De Zerbi, yang pernah tumbuh di akademi AC Milan, turut memberikan penghormatan kepada Baresi saat berada di Sydney.

Menurutnya, legenda Rossoneri itu merupakan bek terbaik yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya.

"Saya tumbuh di akademi Milan dan sering berlatih bersama tim utama. Dia berasal dari kota yang sama dengan saya. Menurut saya, dia adalah bek terbaik di dunia," kata De Zerbi.

Ia bahkan menilai kualitas kepemimpinan Baresi begitu istimewa.

Menurutnya, pengaruh sang legenda tidak selalu ditunjukkan lewat kata-kata, melainkan melalui sikap, karakter, dan keteladanan yang mampu mengangkat semangat seluruh tim.

Penampilan publik terakhir Franco Baresi terjadi pada Februari lalu ketika membawa obor Olimpiade Musim Dingin Milan Cortina bersama legenda Inter Milan, Giuseppe Bergomi, di Stadion San Siro.

Kini, momen tersebut menjadi penutup perjalanan seorang ikon yang telah mengabdikan hidupnya bagi AC Milan.

Kepergian Franco Baresi bukan sekadar kehilangan bagi Rossoneri, melainkan juga bagi dunia sepak bola.

Warisan kepemimpinan, loyalitas, dan dedikasinya dipastikan akan terus dikenang lintas generasi, menjadikan namanya tetap hidup dalam sejarah sebagai salah satu kapten terbesar sepanjang masa.***