POJOKSATU.id – Kekalahan di final Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi akhir pertandingan, namun Argentina justru menghadapi babak baru penuh kontroversi.

Beberapa saat setelah Spanyol memastikan kemenangan, suasana lapangan berubah menjadi sorotan global yang sulit diabaikan.

Kegembiraan pemain Spanyol berhadapan dengan kekecewaan Argentina, menciptakan bentrok antar pemain setelah peluit panjang terdengar.

Argentina yang gagal mempertahankan gelar kemudian menghadapi tekanan tambahan, setelah tindakan sejumlah pemain memicu penyelidikan FIFA.

Baca Juga: Rincian Hadiah China Open 2026, Gugur di 32 Besar Saja Kantongi Puluhan Juta Rupiah

Kekalahan Berubah Menjadi Kontroversi Besar

Final tersebut sebenarnya berjalan relatif biasa hingga Ferran Torres mencetak gol penentu kemenangan Spanyol pada masa perpanjangan waktu.

Gol itu menghentikan ambisi Argentina meraih gelar beruntun, sekaligus membuka drama yang jauh lebih besar setelah pertandingan berakhir.

Ketika para pemain Spanyol berlari merayakan kemenangan, Leandro Paredes disebut melakukan tindakan agresif terhadap beberapa pemain lawan.

Insiden tersebut melibatkan pukulan dan tendangan, sehingga perhatian publik segera berpindah dari hasil pertandingan menuju perilaku para pemain.

Baca Juga: Tim Forensik Polda Sumut Temukan Gas CH4 di Rumah Kris Hasan di Grand Polonia Medan

Paredes kemudian menyampaikan pernyataan melalui media sosial, tetapi tidak secara khusus meminta maaf atas tindakannya.

Situasi itu membuat kritik semakin deras, sementara FIFA mulai menyelidiki rangkaian kejadian yang berlangsung setelah final tersebut.

Badan sepak bola dunia itu berpotensi menjatuhkan denda, skorsing pemain, atau hukuman lain sesuai hasil penyelidikan.

Namun, tuntutan paling ekstrem justru datang dari sebagian publik yang menginginkan Timnas Argentina didiskualifikasi secara retrospektif.

Desakan Diskualifikasi Menggema, Tetapi Preseden Belum Ada

Dikutip Pojoksatu.id dari Express.co.uk, Rabu (22/07/2026), gagasan menghapus Argentina dari klasemen Piala Dunia setelah turnamen berakhir menjadi perdebatan besar.

Jika hukuman tersebut benar-benar diterapkan, Timnas Inggris berpotensi naik ke posisi kedua berdasarkan skenario yang ramai diperbincangkan.

Baca Juga: Presiden Tunjuk Kuntadi Jampidsus, Leonard Simanjuntak Jampidum, Harli Siregar Kaban Pelatihan

Meski demikian, langkah itu akan menjadi keputusan luar biasa karena belum pernah ada tim yang didiskualifikasi setelah Piala Dunia selesai.

FIFA diperkirakan akan mempertimbangkan dampak besar keputusan tersebut terhadap kompetisi, reputasi turnamen, dan sejarah sepak bola internasional.

Selain kericuhan final, Argentina juga mendapat sorotan karena kontroversi lain yang muncul sepanjang perjalanan menuju pertandingan puncak.

Salah satunya berkaitan dengan spanduk bertema Kepulauan Falkland yang disebut muncul setelah kemenangan Argentina atas Inggris.

Dalam regulasi disipliner FIFA, perilaku ofensif serta tindakan yang mencederai prinsip fair play dapat menjadi dasar pemeriksaan.

Baca Juga: Kabar Gembira! UMKM Jualan Produk Lokal di e-Commerce Bakal Dapat Diskon Biaya Layanan 50 Persen

Aturan tersebut juga memungkinkan sanksi diberikan ketika tindakan tertentu dianggap merusak citra sepak bola atau FIFA.

FIFA Pegang Kunci Nasib Argentina

Kasus sebelumnya menunjukkan bahwa FIFA pernah menjatuhkan hukuman berat terhadap pelanggaran yang dianggap merusak nilai olahraga.

Luis Suarez, misalnya, pernah menerima larangan beraktivitas dalam sepak bola selama empat bulan setelah menggigit Giorgio Chiellini.

FIFA juga pernah menindak Luis Rubiales setelah kontroversi yang muncul dalam perayaan kemenangan Spanyol pada Piala Dunia Wanita.

Namun, perkara Argentina memiliki konteks berbeda karena melibatkan atmosfer emosional setelah pertandingan final terbesar dunia.

Hingga kini, keputusan akhir belum ditentukan, sehingga segala kemungkinan masih bergantung pada proses investigasi resmi.

Yang jelas, kekalahan Argentina dari Spanyol kini tidak hanya dikenang karena kegagalan mempertahankan gelar.

Peristiwa setelah pertandingan justru berpotensi menjadi warisan kontroversial yang lebih panjang daripada hasil final itu sendiri.

Di tengah tuntutan hukuman berat, FIFA harus menentukan batas tegas antara emosi pertandingan dan perilaku yang merusak sportivitas.

Keputusan tersebut nantinya dapat menjadi preseden penting bagi sepak bola dunia, terutama ketika pertandingan besar berakhir penuh ketegangan.***