POJOKSATU.id — Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, menolak berkomentar soal sanksi FIFA kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terkait dugaan pemalsuan data tujuh pemain naturalisasi.

Hal itu disampaikan Kluivert dalam konferensi pers jelang laga Indonesia melawan Arab Saudi, Selasa (7/10/2025).

“Saya tak membahas itu. Saya membahas soal pertandingan besok. Itu bukan hal yang saya pikirkan. Yang penting adalah pertandingan besok,” ujar Kluivert singkat.

Sebelumnya, FIFA resmi menjatuhkan sanksi kepada FAM dan tujuh pemain naturalisasi Malaysia. Hukuman tersebut diumumkan pada Senin (6/10/2025) setelah hasil investigasi menunjukkan adanya data palsu dalam dokumen asal-usul pemain.

Baca Juga: Tak Main Lawan Arab Saudi, Emil Audero Doakan Timnas Indonesia Menang

Dalam laporan setebal 19 halaman bernomor FDD-24394, FIFA menyatakan FAM teledor dan melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA terkait pemalsuan dokumen.

Federasi tersebut dijatuhi denda sebesar 350 ribu franc Swiss atau sekitar Rp7,3 miliar. Sementara itu, tujuh pemain naturalisasi juga dikenai denda masing-masing 2 ribu franc Swiss dan larangan bermain selama 12 bulan.

Ketujuh pemain tersebut adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomás Garcés, Rodrigo Julián Holgado, Imanol Javier Machuca, João Vítor Brandão Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Héctor Alejandro Hevel Serrano.

FIFA mengungkap kasus ini bermula dari laporan resmi yang diterima pada 11 Juni 2025, sehari setelah Malaysia menang 4-0 atas Vietnam di Kualifikasi Piala Asia 2027.

Laporan itu mempertanyakan keabsahan sejumlah pemain naturalisasi Malaysia yang dinilai tidak memenuhi syarat membela tim nasional karena proses naturalisasi mereka berlangsung sangat cepat.

Baca Juga: JANGAN KELEWATAN! Ini Jadwal Lengkap Timnas Indonesia vs Arab Saudi Dini Hari Nanti

“Proses naturalisasi dan debut internasional mereka berlangsung dalam jangka waktu yang dipertanyakan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang validitas proses tersebut,” tulis Komite Disiplin FIFA.

FIFA kemudian membeberkan data yang menunjukkan bahwa kakek dan nenek tujuh pemain tersebut bukan berasal dari Malaysia, melainkan dari negara-negara seperti Spanyol, Argentina, Brasil, dan Belanda.

Dalam investigasi itu, FIFA menemukan perubahan data tempat lahir kakek/nenek dari luar negeri menjadi seolah-olah berasal dari Malaysia — mulai dari Malaka, Penang, Johor, hingga Kuching.

Kasus ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap regulasi FIFA yang hanya memperbolehkan pemain membela tim nasional jika memiliki hubungan darah maksimal sampai generasi kedua.

FIFA juga menegaskan bahwa denda harus dibayarkan dalam waktu 30 hari sejak keputusan diumumkan.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengenai dampak keputusan tersebut terhadap keikutsertaan Malaysia di Kualifikasi Piala Asia 2027.

Padahal, Malaysia sudah menjalani dua laga di babak kualifikasi melawan Vietnam dan Nepal — dan keduanya berakhir dengan kemenangan.

Keputusan FIFA ini berpotensi memicu efek domino bagi Timnas Malaysia, termasuk kemungkinan pencoretan hasil pertandingan sebelumnya jika terbukti menggunakan pemain ilegal.***