Kisah Duka Pemain-Pemain Juara EJC7s yang Gagal ke Singapura

Gissi United
KECEWA: Para pemain Gissi United tercenung saat diberitahu tak jadi berangkat ke Singapura di Gelora 10 Nopember. (Boy Slamet/Jawa Pos)
Gissi United
KECEWA: Para pemain Gissi United tercenung saat diberitahu tak jadi berangkat ke Singapura di Gelora 10 Nopember. (Boy Slamet/Jawa Pos)

POJOKSATU.id, SURABAYA – Bisa dibayangkan betapa senang dan bangga pemain-pemain yang timnya menjuarai East Java Championship 7s (EJC7s). Namun, juara EJC7s itu nyatanya gagal ke Singapura. Saat hari keberangkatan tinggal dua hari, panitia justru membatalkannya sepihak.

Wajah Amiruddin Bagus saat ditemui terlihat kusut. Padahal, sebelumnya senyum terus mengembang dari bibirnya. Perubahan gradasi wajah itu terjadi karena kabar tak menyenangkan yang didengar beberapa saat setelah tiba di Gelora 10 Nopember, Surabaya, Kamis siang lalu (12/3).

Siang itu, Amiruddin dan sebelas rekannya dari Gissi United Magelang yang baru saja menempuh perjalanan lima jam dari Jogjakarta mendapat kabar urung berangkat ke Singapura. Padahal, sedari berangkat dari rumahnya di Magelang, bocah yang belum genap 13 tahun itu sudah tak sabar ingin segera sampai ke Singapura.

Amiruddin juga ingin secepatnya menginjak rumput dan mencetak gol di Negeri Singa tersebut. ’’Tapi, ternyata kami di-PHP (pemberi harapan palsu, Red),’’ kata Amiruddin yang juga diikuti rekan-rekannya. Kata tersebut diucapkan dengan nada penuh kesal. Sebab, harapannya untuk bisa merumput di Singapura gagal terealisasi.


Menjadi wajar wajah Amiruddin berubah menjadi kusut. Begitu pula wajah rekan-rekannya. ’’Bisa dibayangkan betapa remuknya hati mereka. Anak-anak ini sudah berpamitan dengan seluruh kerabat, tetangga, dan rekan-rekan sekolahnya. Bahkan, ada yang masuk koran karena keberangkatannya ini,’’ ungkap pengurus Gissi United Bambang Heri.

Suasana hati para pemain Bromo FC Surabaya juga tak jauh berbeda. Sama dengan pemain-pemain Gissi, mereka begitu bangga bisa membawa nama Indonesia bermain di luar negeri. Apalagi, ini merupakan kesempatan pertama mereka bermain dengan tim-tim dari negara lain.

Tapi, ternyata kebanggaan itu berubah menjadi duka justru di saat jadwal keberangkatan sudah di depan mata. ’’Isin Mas karo konco-konco (malu Mas sama teman-teman, Red),’’ tutur pemain Bromo FC Anas Ridho yang diiyakan rekan-rekannya.

Semua teman Anas mengetahui bahwa dirinya bakal berangkat ke Singapura. Dia dan teman-teman sesama pemain Bromo FC bahkan telah dibuatkan acara syukuran oleh orang tua masing-masing. Arek-arek Bromo FC juga telah berpamitan ke guru-guru dan rekan-rekannya di sekolah.

’’Kini beberapa pemain saya jadi malu kalau ketemu teman-temannya. Terus terang saya sangat kasihan,’’ ujar pelatih Bromo FC Anang Suwandi. Kini, bersama pemilik klub Bromo FC Achmad Yari, Anang berusaha menenangkan anak didiknya.

Para pengurus Gissi United saat ini juga berusaha keras menghibur para pemainnya. Untuk itu, mereka tidak langsung kembali ke Magelang. Apalagi, Amiruddin dan kawan-kawan masih merasa malu kalau harus balik.

’’Sementara ini mereka saya inapkan di rumah saya di Gresik. Saya juga akan mengajak mereka jalan-jalan ke Jembatan Suramadu dan foto-foto di patung singa di Surabaya Barat,’’ jelas Bambang. (Miftakhul F.S/c17/ano)