POJOKSATU.id - Perjalanan menuju trofi Piala Dunia selalu dipenuhi drama, kejutan, dan persaingan sengit.

Namun, edisi kali ini menghadirkan perdebatan baru setelah perubahan regulasi FIFA disebut memberikan keuntungan bagi negara-negara unggulan.

Bukan karena kualitas permainan semata, melainkan karena jalur kompetisi yang dinilai lebih bersahabat hingga babak semifinal.

Perubahan aturan tersebut diperkenalkan FIFA pada November 2025 sebagai bagian dari sistem penempatan unggulan turnamen.

Baca Juga: Prediksi Skor Prancis vs Maroko, Preview dan Susunan Pemain

Regulasi itu memastikan empat tim dengan peringkat tertinggi dunia tidak akan saling bertemu sebelum babak semifinal, selama mereka mampu menjadi juara grup masing-masing.

Hasilnya, skenario tersebut benar-benar terjadi. Inggris, Spanyol, Argentina, dan Prancis kini sama-sama berada di perempat final tanpa harus saling menyingkirkan lebih awal.

Jalur Empat Unggulan Jadi Sorotan

Saat penentuan unggulan dilakukan, Spanyol menempati posisi pertama ranking FIFA, disusul Argentina, Prancis, dan Inggris.

Keempat negara kemudian ditempatkan pada sisi bagan yang berbeda sehingga peluang bertemu sejak fase gugur awal otomatis tertutup.

Baca Juga: Sebut Orang Sekeliling Sarwendah seperti 'Kompor', Jadi Alasan Ruben Onsu Serius Rebut Hak Asuh Anak

Konsep ini sebenarnya bukan hal baru di dunia olahraga. Wimbledon telah lama menerapkannya, begitu pula format baru Liga Champions.

Meski demikian, penerapannya di Piala Dunia memunculkan berbagai penilaian karena dianggap mengurangi kemungkinan duel besar sejak babak 16 besar atau perempat final.

Kini Spanyol dijadwalkan menghadapi Belgia, Argentina bertemu Swiss, Prancis melawan Maroko, sedangkan Inggris ditantang Norwegia.

Jika seluruh unggulan berhasil menang, publik akan disuguhi dua semifinal kelas dunia, yakni Spanyol kontra Prancis serta Argentina menghadapi Inggris.

Skenario tersebut tentu menjadi tontonan yang sangat dinantikan. Namun, di sisi lain muncul pertanyaan mengenai sejauh mana regulasi ini benar-benar menjaga keseimbangan kompetisi.

Tuduhan Keberpihakan Kembali Muncul

Perubahan aturan ini semakin ramai diperbincangkan setelah Mesir melontarkan kritik keras kepada FIFA usai tersingkir dari babak 16 besar.

Baca Juga: Tiket Nyaris Ludes! Okupansi Bandara Jember Melesat Tembus 89,6 Persen, Siap Sambut Turis JFC 2026

Tim berjuluk The Pharaohs gagal melaju setelah Argentina bangkit mencetak tiga gol hanya dalam waktu 14 menit.

Kekalahan itu tidak hanya meninggalkan kekecewaan, tetapi juga memicu protes terhadap kepemimpinan wasit asal Prancis, Francois Letexier.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, menilai sejumlah keputusan penting lebih banyak menguntungkan juara bertahan tersebut.

Federasi Sepak Bola Mesir bahkan dikabarkan meminta penjelasan resmi kepada FIFA sekaligus mendesak agar perangkat pertandingan tersebut tidak lagi memimpin laga sepanjang sisa turnamen.

"Kami diperlakukan tidak adil. Sulit menerima kenyataan ketika keputusan-keputusan penting justru merugikan kami," ujar Hossam Hassan.

Baca Juga: Pengamanan Kunker Presiden Prabowo di KM 57 Berjalan Sukses, Kapolres Karawang Puji Soliditas TNI-Polri

Pelatih berusia 59 tahun itu bahkan melontarkan dugaan yang lebih jauh.

Menurutnya, keberadaan Argentina dan Lionel Messi dinilai memiliki nilai komersial yang besar sehingga muncul anggapan bahwa FIFA ingin mempertahankan mereka selama mungkin di turnamen.

"Piala Dunia tentu memiliki nilai pemasaran yang luar biasa. Banyak orang akan berpikir bahwa kehadiran juara bertahan dan Lionel Messi menjadi daya tarik yang ingin dipertahankan," kata Hassan.

Meski demikian, tudingan tersebut hingga kini belum mendapat pembenaran dari FIFA.

Jalan Mulus Belum Menjamin Gelar Juara

Meski empat negara unggulan memperoleh jalur yang lebih menguntungkan di atas kertas, peluang menuju semifinal belum sepenuhnya aman.

Belgia memiliki pengalaman menghadirkan kejutan di turnamen besar, Swiss dikenal sebagai tim yang sulit ditaklukkan.

Timnas Maroko pernah menciptakan sejarah pada Piala Dunia sebelumnya, sementara Norwegia datang dengan skuad muda yang sedang menikmati performa impresif.

Artinya, bagan pertandingan yang lebih ringan tidak otomatis menjamin tiket menuju empat besar. Pada akhirnya, kualitas permainan di lapangan tetap menjadi penentu utama.

Perubahan regulasi FIFA memang berhasil menghindarkan bentrokan dini antartim elite dunia.

Namun, bersamaan dengan itu muncul perdebatan mengenai batas antara strategi penyelenggaraan turnamen dan prinsip keadilan kompetisi.

Jika seluruh unggulan berhasil melewati rintangan di perempat final, publik sepak bola akan menikmati dua semifinal bertabur bintang.

Sebaliknya, jika salah satu dari mereka terpeleset, maka skenario ideal yang banyak dibicarakan sejak awal turnamen akan runtuh begitu saja, membuktikan bahwa di Piala Dunia, kejutan selalu memiliki tempatnya sendiri.***