POJOKSATU.ID - Ujaran kebencian dan rasis berbahasa Indonesia yang membanjiri akun media sosial federasi sepak bola Guinea, menunjukkan rendahnya adab atau kesopanan digital Indonesia.

Hal ini sesuai dengan penelitian Microsoft yang dirilis pada 2021 lalu, di mana indeks kesopanan digital Indonesia terendah keempat di dunia.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah oknum suporter Indonesia menyerang akun instagram federasi sepak bola Guinea usai pertandingan play off Olimpiade Paris 2024, Kamis 9 Mei 2024.

Baca Juga: PSSI Kecam Serangan Netizen Indonesia ke Akun Guinea, Pasca Kekalahan di Play Off Olimpiade

Pada laga Indonesia U23 vs Guinea U23 di Clairefontaine, Paris itu, Garuda Muda takluk 0-1. Sehingga Indonesia gagal ke Olimpiade Paris 2024.

Gol semata wayang pada pertandingan itu dicetak Ilaix Morriba dari eksekusi tendangan penalti pada pertengahan babak pertama.

Tak terima dengan kekalahan itu, banyak netizen Indonesia yang melampiaskan kekecewaannya dengan berkomentar ujaran kebencian ke akun media sosial Guinea.

Baca Juga: Ada Bantuan Pendidikan Anak ASN Hingga Rp 45 Juta, Cek Syarat dan Regulasinya

Alasan kekecewaan netizen Indonesia adalah keputusan wasit yang begitu kontroversial, terutama terkait dengan penalti yang diberikan kepada Guinea.

Suporter Garuda Muda menilai pelanggaran itu terjadi di luar kotak 16 sehingga harusnya bukan penalti.

Selain karena keputusan kontroversial itu, netizen Indonesia juga menyoroti para pemain Guinea yang dianggap sengaja mengulur waktu dengan begitu mudah terjatuh.

Baca Juga: Panggilan untuk PNS, Berikut Syarat Lengkap Seleksi Terbuka Calon Pejabat Pimpinan Pratama Kemenag

Sayangnya komentar beberapa netizen Indonesia di media sosial terhadap Tim Guinea U23 dianggap sudah melewati batas.

Banyak akun-akun dengan bahasa Indonesia yang memaki dengan penggunaan kata-kata rasis.

Mulai dari warna kulit hingga menggunakan nama-nama binatang. Ujaran kebencian yang sebenarnya justru mencoreng nama baik Indonesia.

Tindakan sejumlah oknum suporter Indonesia itu menuai kecaman dari PSSI.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Arya Mahendra Sinulingga, melalui laman resmi PSSI dikuti Pojoksatu.id, Jumat 10 Mei, menyayangkan serangan netizen ke akun Guinea itu.

Baca Juga: Nenek 65 Tahun Ulupungkut Ternyata Dibunuh Pacarnya Usia 32 Tahun, Bukan Diterkam Harimau

Arya menegaskan bahwa Timnas Indonesia U23 telah berjuang maksimal untuk lolos ke Olimpiade. Namun, hasil akhir belum berpihak kepada Marselino Ferdinan dan kawan-kawan.

Arya Sinulingga mengatakan para pemain dan tim kepelatihan Shin Tae Yong pun telah berbesar hati menerima kekalahan.

Seharusnya, suporter Indonesia juga bisa legawa menerima kekalahan tersebut.

"Para pemain pulang dengan kepala tegak dan legawa menerima kekalahan. Jadi, kita berharap para suporter pun melakukan hal yang sama," ujar Arya, Jumat.

Arya pun menyayangkan tindakan ujaran rasis kepada para pemain Guinea. Arya menyampaikan pelaku ujaran rasis bukan suporter sejati.

"Jangan menodai perjuangan tim U23 Indonesia dengan ujaran rasis kepada para pemain lawan," ucap Arya.

Baca Juga: Siapa Sosok Calon Gubernur Jateng 2024 dari PDIP, Ini Kata Ganjar Pranowo

Indeks Kesopanan Digital Indonesia Terendah Keempat di Dunia

Fenomena serangan masif netizen Indonesia dengan komentar rasis dan ujaran kebencian ke akun Guinea ini seolah menegaskan hasil penelitian Microsoft pada 2021 lalu.

Dalam riset Microsoft soal adab atau perangai di ranah digital itu, Indonesia punya indeks kesopanan terendah keempat di dunia.

Dalam penelitiannya, Microsoft menggunakan 11 indikator risiko yang dianalisis.

Antara lain hoaks, diskriminasi, ujaran kebencian, penipuan, misogini (diskriminasi seksual terhadap anak perempuan).

Indikator selanjutnya adalah rekrutmen kegiatan radikal dan teror, cyberbullying, trolling, doxing, pornografi, dan pelecehan terhadap kelompok marjinal.

Dari 11 indikator yang diteliti, ada empat yang paling menyumbang rapor merah bagi Indonesia. Yakni hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, dan penipuan.

Baca Juga: Pengamat Sebut Calon Menhan Harus Sosok yang Serius Dukung Prabowo di Pilpres Kemarin

Adapun indek kesopanan digital Indonesia dari riset Microsoft itu berada di angka 76 (rapor merah), terendah keempat di dunia.

Hanya Meksiko, Rusia dan Amerika Selatan yang memiliki indeks kesopanan digital lebih rendah dari Indonesia.

Fakta dan kejadian pasca play off Olimpiade Paris 2024 ini harusnya jadi pembelajaran bagi wargenet Indonesia.

Mari berkaca, mari berubah. Negara yang maju, netizennya juga berpikiran maju!***