POJOKSATU.id - Manchester United kembali membuka peluang tampil di Liga Champions musim depan. Namun di balik ambisi besar itu, tersimpan cerita lama tentang konsekuensi finansial yang tidak main-main bagi para pemain.
Legenda klub Wayne Rooney mengungkap fakta mengejutkan: setiap pemain hingga staf pelatih pernah mengalami ancaman pemotongan gaji sebesar 25 persen jika gagal finis di zona Liga Champions.
Pengakuan ini muncul saat posisi Man United kini berada di peringkat keempat klasemen usai kemenangan tipis 1-0 atas Everton.
Gol tunggal Benjamin Sesko di Hill Dickinson Stadium menjadi penentu kemenangan Setan Merah, Selasa (24/02/2026) dini hari WIB.
Baca Juga: Sambut Kuliah Periode Maret 2026, Simak Cara Daftar Universitas Nusa Mandiri
Striker muda tersebut kembali menjadi pembeda dan kini tercatat sudah menyumbang delapan poin penting musim ini lewat gol-gol krusialnya.
Tambahan poin itu berpotensi menjadi penentu nasib United dalam perebutan tiket kompetisi elite Eropa.
Di tengah euforia kemenangan, Rooney justru mengingatkan bahwa kegagalan lolos ke Liga Champions bukan hanya soal gengsi, tetapi juga berdampak langsung pada keuangan klub dan pemain.
Dalam sebuah diskusi publik, Rooney menjelaskan bahwa pada masanya di Old Trafford, kontrak para pemain memang memiliki klausul pemotongan gaji otomatis jika tim gagal finis di empat besar.
Baca Juga: Update Mudik Gratis DKI Jakarta 2026: Kuota Klaster 1 Resmi Terpenuhi
Menurutnya, seluruh elemen tim terdampak, mulai dari pemain, manajer hingga staf pelatih.
Kebijakan tersebut diberlakukan agar klub tetap berada dalam koridor regulasi keuangan dan tidak mengalami krisis finansial.
Rooney juga menyinggung aturan baru terkait rasio biaya skuad yang diterapkan untuk menjaga stabilitas finansial klub-klub Eropa.
Ia menilai regulasi itu dibuat untuk mencegah kebangkrutan, tetapi dalam praktiknya justru membuat klub-klub papan tengah semakin sulit mengejar tim elit.
Pengalaman pahitnya saat menangani Derby County turut membentuk pandangannya.
Ia menyaksikan langsung bagaimana keputusan finansial yang keliru bisa berujung pada dampak besar, termasuk hilangnya pekerjaan banyak orang di dalam klub.
“Semua klub harus hidup sesuai aturan,” ujar Rooney. “Tapi aturan sekarang terasa lebih menguntungkan tim-tim besar. Klub yang ingin mengejar mereka justru kesulitan.”
Situasi Manchester United musim ini sempat mengkhawatirkan. Mereka terancam mencatatkan finis terburuk di era Premier League.
Baca Juga: Panduan Lengkap Tata Cara Verifikasi Mudik Gratis DKI Jakarta, Link Disini!
Namun manajemen bergerak cepat di bursa transfer musim panas dengan mendatangkan empat pemain penting.
Menariknya, keempat rekrutan tersebut berperan besar dalam kemenangan atas Everton.
Bryan Mbeumo mencatat assist lewat pergerakan cerdas sebelum melepaskan umpan matang kepada Sesko. Aksi itu bermula dari umpan terobosan brilian Matheus Cunha yang membelah lini pertahanan lawan.
Sementara itu, kiper Senne Lammens tampil impresif di bawah mistar. Ia melakukan sejumlah penyelamatan krusial, terutama saat Everton menggempur melalui serangkaian sepak pojok di menit-menit akhir.
Sesko sendiri belum selalu menjadi starter di bawah asuhan Michael Carrick.
Baca Juga: 5 Dosa Besar yang Menghapus Pahala Puasa Ramadhan, Asal Serius Taubat, Allah Maha Pengampun
Namun efektivitasnya sebagai pemain pengganti mulai menjadi senjata rahasia United. Gol ke gawang Everton menjadi gol ketiganya sebagai supersub dalam beberapa laga terakhir.
Striker asal Slovenia itu menegaskan bahwa perannya di tim bukan soal durasi bermain, melainkan kontribusi nyata.
Baginya, lima menit atau sembilan puluh menit di lapangan tetap memiliki makna yang sama selama ia mampu membantu tim meraih kemenangan.
Ia juga menyebut kemenangan atas Everton sebagai laga yang sangat penting dan penuh tekanan. Pertandingan berjalan seimbang, dengan kedua tim saling menyerang hingga menit akhir.
Kini, dengan posisi yang semakin menguat di empat besar, Manchester United berada di jalur yang tepat untuk kembali ke Liga Champions.
Namun peringatan Rooney menjadi pengingat bahwa kegagalan bukan hanya soal kehilangan trofi, tetapi juga menyentuh aspek finansial yang signifikan.
Bagi klub sebesar Manchester United, tampil di Liga Champions bukan sekadar prestise. Itu adalah fondasi stabilitas keuangan, daya tarik pemain, serta simbol ambisi untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Jika mereka berhasil mempertahankan performa hingga akhir musim, ancaman potong gaji tinggal menjadi cerita masa lalu.
Tetapi jika terpeleset, konsekuensinya bisa kembali terasa, seperti yang pernah dialami generasi Rooney sebelumnya.***

