Gas Air Mata Tegas Dilarang FIFA, Kok Malah Jadi Senjata Petugas Amankan Derby Jatim ?

Polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun Stadion Kanjuruhan saat pengamanan kerusuhan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10) malam. Foto:ist
Polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun Stadion Kanjuruhan saat pengamanan kerusuhan laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10) malam. Foto:ist

POJOKSATU.ID, MALANG – Marwah sepak bola runtuh di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10/2022). Ratusan nyawa melayang usai Derby Jatim, Arema FC vs Persebaya Surabaya.


Olahraga yang dinilai acap kali menjadi pemersatu dan menjadi harapan banyak anak muda itu, berubah menjadi bengis.

Menunjukkan sisi paling kelam. Unggahan terakhir akun resmi Liga 1, Minggu siang, menyebut 187 orang meninggal karena tragedi Kanjuruhan Malang itu. Ratusan lainnya luka-luka.

Jumlah yang bisa dibilang tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena jika merunut beberapa literasi angka itu menjadi salah satu tertinggi.


Sebelumnya sepak bola yang merenggut banyak nyawa terjadi di Peru 1964 lalu.

Ketika itu, ada 300 orang meninggal dalam kerusuhan yang terjadi di Stadion Nasional Peru.

BACA JUGA : Menteri Muhadjir Singgung Gas Air Mata di Kanjuruhan, harus Ada yang Tanggung Jawab !

Kemenangan Argentina atas tuan rumah menjadi pemicunya. Waktu itu gol Peru sempat dianulir di dua menit akhir pertandingan. Tapi dalam sepak bola sejatinya satu nyama yang hilang sudah terlalu banyak.

Tapi apa yang terjadi juga ibarat jatuh di lubang yang sama. Ini menjadi insiden yang kedua di Stadion Kanjuruhan.

Sebelumnya adalah pada 2018 lalu hal serupa terjadi. Bersyukur ketika itu tidak banyak korban yang berpulang.

Apa yang terjadi pada Sabtu malam yang kelam sejatinya sangat bisa untuk dihindari.

Asalkan mau untuk lebih tenang, tidak cepat tersulut emosi, dan tanpa gas air mata.

Upaya pengamanan benda tersebut benar-benar jahanam. Karena tidak menjadi solusi. Tapi, layaknya minyak yang bertemu dengan api.

Ya, kondisi di lapangan ketika itu semakin runyam pasca ditembakannya gas air mata ke wilayah tribun Stadion Kanjuruhan Malang.

BACA JUGA : Miris Lihat Ulah Baim Wong Prank KDRT, Melanie Subono : Semoga Mereka Tidak Sampai Merasakan KDRT

Penonton panik, nafasnya mulai sesak, dan matanya pedih. Celakanya, itu membuat mereka harus rela berdesak-desakan menyelamatkan diri dan keluar dari stadion.

Kondisi itu membuat beberapa supporter jatuh, susah bernafas, sampai terinjak-injak.

“Yang kasihan melihat, para perempuan dan anak-anak kecil harus berdesakan,” kenang Aditya Riztiawan yang kebetulan ketika ada di tribune tempat gas air mata ditembakan, dikutip Pojoksatu.id dari Radar Malang.

Bagi dia sebagai orang asli Malang melihat Arema sejak kecil apa yang terjadi malam itu menjadi tragedi yang paling parah.

Sampai-sampai membuatnya terkena mental dengan banyaknya supporter harus susah payah dan kesakitan akibat gas air mata.

Menurutnya dalam peristiwa para pedagang juga terdampak lantaran harus menyelamatkan diri dan dagangnya.

FIFA Larang Tembakan Gas Air Mata di Stadion

Menurut aturannya sejatinya gas air mata dilarang digunakan saat di stadion.

Ini karena salah satu faktornya adalah tribun stadion bukan tempat lapang. Akibatnya jika ditembakan malah membuat orang akan lebih banyak terkena benda itu.

BACA JUGA : PSSI Jangan Kambinghitamkan Malang, Tanggung Jawab dan Jantan untuk Mundur !

Sedangkan dalam aturan FIFA Stadium Safety dan Security Regulations penggunaan gas air mata tidak diperbolehkan.

Malah untuk dibawa ke stadion berdasarkan regulasi itu tidak diperkenankan.

Itu tertuang dalam pasal 19 b soal pengaman di pinggir lapangan.

Disebutkan, senjata api atau ‘gas pengendali massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan,” tulis aturan FIFA.

Namun faktanya dalam pengamanan kerusuhan Kanjurhan kemarin malam, melah ditembak petugas. Anda bisa menyimpulkan!

Klarifikasi Kapolda Jatim

Perihal gas air mata yang ditembakan di Stadion Kanjuruhan pasca laga Arema FC Vs Persebaya, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta menilai kalau sebelum penembakan gas air mata sudah dilakukan himbauan terlebih dahulu.

“Suporter dan penonton itu begitu bringasnya. Sehingga sampai dikeluarkan gas air mata,” kata pria punya dua bintang di pundaknya itu.

Menurut dia sejatinya tidak ada keinginan menembakkan gas air mata. Karena memang sebelumnya pengamanan gabungan berjalan dengan baik.

Karena itu menurutnya langkah ke depan fokusnya adalah perawatan kepada korban.

“Baru setelah itu kami melakukan investigasi. Supaya permasalahan cepat selesai,” akunya. (medil/pojoksatu)