Meski Ditolak FIFA, Tim Transisi Akan Tetap berangkat

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU.id– Kendati federasi sepak bola dunia, FIFA sudah memastikan bahwa akan menolak kehadiran tim Transisi yang dibentuk oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), ternyata tim bentukan Imam Nahrawi itu tetap nekad.

Tim Transisi menyatakan bahwa mereka akan menemui Wakil Presiden FIFA, Pangeran Ali bin Al-Hussein dari Yordania, dan Kepala Asosiasi Sepak Bola Belanda, Michael van Praag, sebagai alternatif jika rencana bertemu dengan presiden FIFA, Sepp Blatter, akan menemui jalan buntu, demikian dinyatakan anggota tim Cheppy Wartono seperti dikutip cnn.

“Kami sudah menghubungi baik Pangeran Ali dan van Praag dan akan menemui mereka di Zurich,” kata Cheppy seusai bertemu dengan perwakilan suporter di Kantor Kemenpora, Jakarta, Sabtu (3/5) siang. “Saya sendiri sempat berkomunikasi dengan van Praag ketika masih di Komisi X DPR-RI.”

FIFA pada 22 Mei mengirimkan surat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga untuk menyatakan bahwa mereka “tidak bisa menemui delegasi dari Indonesia karena permintaan pertemuan tersebut diajukan dalam jangka waktu pendek dan bertepatan dengan agenda Kongres FIFA ke-65.”


Selain itu, lewat surat yang ditandatangani Sekjen FIFA Jerome Valcke tersebut FIFA juga mengingatkan bahwa Menpora memiliki tenggat waktu hingga 29 Mei 2015 untuk menarik kembali keputusan sanksi kepada PSSI. Jika tidak, FIFA akan merujuk masalah tersebut kepada badan yang berwenang untuk mengambil hukuman.

Cheppy mengatakan bahwa Tim Transisi sudah mengetahui surat tersebut, namun yakin bahwa FIFA tidak akan memberikan sanksi kepada Indonesia.

“Hitung-hitungan politis kami, FIFA tidak akan mem-banned. Tapi kalaupun sampai iya, maka kami sudah siap.”

Menurut penuturan Cheppy, Tim Transisi akan berangkat pada 26 Mei, setelah pengurusan visa beres. Ia juga menyatakan bahwa utusan Tim Transisi akan menyampaikan agenda perubahan sepak bola Indonesia di Kongres FIFA dan akan menjadikan hal tersebut perbincangan di negara-negara internasional.

“Biar seluruh negara tahu bahwa Indonesia dihukum bukan karena intervensi pemerintah, namun karena kondisi persepakbolaan yang tidak pernah beres.”

Selain menemui Pangeran Ali yang juga menjadi lawan satu-satunya Blatter dalam pemilihan Presiden FIFA, Cheppy juga berujar bahwa Tim Transisi akan menemui utusan negara-negara yang pernah dihukum FIFA untuk berdiskusi tentang cara mereka memperbaiki kondisi persepakbolaan dalam negeri.

Cheppy tidak khawatir bahwa langkah-langkah yang akan diambil Tim Transisi ini akan mempermalukan nama Indonesia.

“Seperti menjemur pakaian kotor? Ya kalau memang sudah kotor mau dibagaimanakan lagi?” (lis/fat)