IPL Sudah Mati, Tak Ada Lagi Konflik di Arema

Arema Cronus.
Arema Cronus.
Arema Cronus

POJOKSATU.id, MALANG – Pengawas Yayasan Arema, Bambang Winarno, menegaskan bahwa dualisme di tubuh Arema tak ada. Menurutnya tidak lagi konflik di Arema karena IPL sudah mati.

Ia mengatakan, sesuatu bisa dikategorikan sebagai konflik ketika ada dua pihak yang sedang berseteru. Namun, ia menegaskan, dalam tubuh Arema saat ini hanya terdiri dari 1 kubu saja yakni ISL (kini QNB League).

”Dua tahun lalu memang ada perpecahan dalam tubuh Arema yang membentuk kubu IPL dan ISL. Kalau sekarang kan sudah nggak ada. IPL sudah mati dengan sendirinya. Berarti hanya tinggal satu saja yakni ISL,” ungkap Bambang saat dikonfirmasi Malang Post.

Pria yang juga dosen di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini juga menyatakan dalam hal ini, BOPI harus lebih teliti lagi ketika mempersoalkan masalah dualisme dalam tubuh Arema.


Bambang juga menyatakan, dirinya masih belum mendapatkan konfirmasi terkait rencana penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Saat ini pun, Bambang tengah berada di luar kota untuk melaksanakan tugas dari kampus.

”Sampai saat ini masih belum ada pemberitahuan soal rencana itu,” tegas Bambang.

Ia juga menambahkan, konflik dan masalah yang ada dalam tubuh Arema hanya bisa diselesaikan dengan cara musyawarah atau rekonsiliasi. Kemungkinan bisa mencapai ranah hukum jika salah satu pihak tidak terima dan melaporkannya ke polisi.

”Kalau ada konflik, penyelesaiannya ya dengan cara musyawarah. Kalau ada yang nggak terima ya bisa diajukan ke pengadilan. Konflik itu pun bisa terjadi jika sebelumnya ada kontrak atau perjanjian, bukan konflik antar individu-individu di dalamnya,” papar Bambang.

Terkait pendirian PT oleh yayasan, Bambang menyatakan hal tersebut memang diperbolehkan. Meski yayasan bersifat non-profit oriented, namun yayasan berhak membuka badan usaha seperti PT, CV maupun firma. Namun, pengelolaan badan usaha itu harus dilakukan secara terpisah dari yayasan.

”Saham yang ada dalam PT juga harus berasal dari uang dari yayasan, bukan dari perorangan,” tutur Bambang.

Sementara itu, kondisi tim Arema Cronus dan sepakbola Indonesia yang saat ini carut marut, membuat Presiden Kehormatan Arema Cronus H Rendra Kresna, angkat bicara. Pria yang juga menjabat sebagai Bupati Malang ini menegaskan, kepemilikan saham dari tim Arema Cronus, merupakan para pengurus yang berada di Yayasan Arema.

“Perlu diketahui, bahwa Bentoel memiliki saham Arema sebanyak 100 persen, baik itu yayasan maupun PT. Seiring berjalannya waktu, aturan tidak memperbolehkan Bentoel sebagai perusahaan rokok, mengelola tim sepakbola. Sehingga, Bentoel menyerahkan seluruh saham, kepada saya, Pak Nur dan Pak Mujiono,” ujarnya kepada Malang Post.

Lanjut dia setelah menerima limpahan saham itu, maka dibentuklah suatu yayasan, ditunjuk ketuanya yakni M Nur, Sekretaris Mujiono Mujito dan Rendra Kresna sebagai bendahara. Hal tersebut, sesuai dengan kesepakatan secara bersama. Seiring dengan berjalannya waktu kata Bung Rendra, sapaan akrabnya, terjadi perpecahan antara ISL dan IPL.

“Kemudian, yayasan itu membuat suatu PT, yang tugasnya mengelola tim Arema ini,” terang Ketua DPD Golkar Kabupaten Malang tersebut.

Dia menjelaskan, bila Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menginginkan kembali ke yayasan itu, maka hal tersebut mudah. Dia mengatakan, tidak ada masalah bila kembali ke yayasan yang

Terkait hal itu, Bung Rendra mengaku sudah melakukan pertemuan dengan M Nur dan Gunadi Handoko, terkait rekonsiliasi tersebut. Akan tetapi, dia mengaku masing-masing mempunyai kesibukan, sehingga proses rekonsiliasi belum berjalan maksimal.

Bila melewati tenggat waktu dari BOPI, maka dia menyerahkan sepenuhnya kepada PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia.

“Silahkan PSSI yang menilainya, apa kesalahan dari Arema? Bila terjadi dualisme, yang dimaksud dualisme yang mana? Karena sekarang tidak ada dualisme,” paparnya.

Dia pun juga mengakui, bahwa saham kehormatan diberikan kepada almarhum Lucky Acub Zaenal. Saham sebanyak satu lembar atau tujuh persen itu diberikan, atas pengahargaan dan penghormatan terhadap almarhum Acub Zaenal, ayah dari Lucky Acub Zaenal, atas kiprahnya mendirikan tim Arema tersebut.

“Saham itu, merupakan saham kehormatan terhadap almarhum Acub Zaenal. Bila sekarang Lucky telah tiada, maka akan digantikan anaknya. Namun, saham itu, tidak bisa memutuskan apa-apa terkait tim ini. Harus dibicarakan bersama-sama,” terangnya.

Sedangkan untuk permasalahan pajak, dia mengaku BOPI harus melakukan asistensi. Karena menurutnya, tidak ada perusahaan yang untung mengelola tim sepakbola. “Sedangkan bila yang dipermasalahkan pajak pemain, maka itu merupakan tugas dari masing-masing pemain,” pungkasnya.

(lis/malangpost)