Terima Kasih Kapten Tsubasa..!

Komik Kapten Subasa jadi inspirasi perkembangan sepakbola di Jepang bahkan dunia.
Komik Kapten Subasa jadi inspirasi perkembangan sepakbola di Jepang bahkan dunia.
Komik Kapten Tsubasa jadi inspirasi perkembangan sepakbola di Jepang bahkan dunia.

POJOKSATU – Sejak satu dekade terakhir Jepang menjadi kekuatan sepakbola Asia yang disegani di level internasional. Itu tidak lain karena sepakbola di Jepang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Situs resmi FIFA sendiri menyebut bahwa Negeri Matahari Terbit sudah mengenal olah raga ini sejak tahun 600-an dalam rupa permainan Kemari. Adapun sepak bola modern seperti yang dikenal sekarang pertama kali menyapa Jepang sejak 1871 dengan laga kompetitif pertama digelar antara Kobe Regatta Athletic Club melawan Yokohama Country Athletic Club (1888).

Dari sisi prestasi, Jepang merupakan negara Asia tersukses di lapangan hijau. Tim Samurai Biru selalu lolos ke Piala Dunia sejak 1998, empat kali memenangi Piala Asia, serta menjadi runner-up Piala Konfederasi 2001.

Tapi, bukanlah sederet prestasi mengilap itu yang membuat publik Jepang menggilai sepak bola. Tim Nippon sudah tampil di ajang Olimpiade sejak Berlin 1936 dan bahkan meraih perunggu di Olimpiade Meksiko 1968. Namun, hingga tiga dekade terakhir, pamor sepak bola di Jepang masih berada di balik bayang-bayang bisbol.


Melonjaknya popularitas sepak bola di Jepang tak lepas dari sosok Yoichi Takahashi. Orang mengenal pria kelahiran Katsushita, Tokyo, pada 28 Juli 1960 ini sebagai pengarang manga sepak bola fenomenal berjudul Captain Tsubasa.

Komik ini bercerita tentang seorang anak bernama Tsubasa Oozora, yang digambarkan sebagai soccer no moshigo atau “anak sepak bola yang dikirim dari surga” dalam perjalanannya mewujudkan impian besar dalam sepak bola. Dalam perjalanan hidupnya, Tsubasa dikisahkan bertemu dengan pemain-pemain hebat seperti Kojiro Hyuga, Ken Wakashimasu, Jun Misugi, Genzo Wakabayashi, lantas bermain buat Sao Paulo dan kemudian Barcelona.

Saat Takahashi mulai menggambar kisah Tsubasa di apartemennya yang kecil di pinggiran Tokyo pada 1980, hanya sekitar 4 persen warga Jepang yang mengenal sepak bola. Banyak orang yang bahkan tak tahu bagaimana sepak bola dimainkan, apalagi soal peraturannya.  Takahasihi sendiri awalnya lebih menggemari bisbol.

Sempat membuat komik bertema bisbol, Captain Tsubasa adalah komik sepak bola pertama Takahashi. Karya debutnya, yang awalnya tidak dimaksudkan sebagai cerita bersambung, dimuat di Weekly Shonen Jump pada 1980.

Serial Kapten Tsubasa lantas mendapat sambutan positif. Animasinya kemudian ditayangkan pada 1983 dan menciptakan soccer boom di Jepang.

“Captain Tsubasa adalah fenomena sosial. saya ingat ada masa di mana setiap bola yang dipakai Tsubasa atau topi yang dikenakan kiper Wakabayashi langsung habis terjual di toko keesokan harinya,” tutur Takahashi.

Bisbol mungkin tetap menjadi olah raga paling populer. Tapi, jumlah anak yang mulai menendang bola semakin banyak setelah munculnya Captain Tsubasa. Kolam talenta pemain muda pun otomatis membesar dan memudahkan program pembinaan yang dihelat otoritas sepak bola Jepang.

Tsubasa bahkan disebut punya andil dalam karakter permainan pesepak bola jepang. Takahashi menggambarkan Tsubasa sebagai pemain di posisi gelandang serang layaknya Diego Maradona. Peran inilah yang dinapak-tilasi oleh Hidetoshi Nakata (peraih titel Serie A bersama AS Roma), Keisuke Honda (AC Milan), Shinji Kagawa (Man. United dan kini kembali ke Dortmund), Makoto Hasebe (Frankfurt), hingga Homare Sawa di timnas perempuan Jepang. Bek Maya Yoshida, bomber Hiroshi Kiyotake, Shinji Okazaki, serta Takahashi Inui juga awalnya bermain di posisi seperti Tsubasa.

Sebenarnya, kisah Kapten Tsubasa juga menjadi inspirasi hingga ke luar Jepang. Bintang-bintang semacam Zinedine Zidane. Lionel Messi, Andres Iniesta, Alessandro Del Piero, hingga Fernando Torres sangat menggemari tayangan kartun Tsubasa dalam versi negara masing-masing.(bola/fifa/fat)