Kompak Pojokkan Tim Sembilan di Kongres PSSI

Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.
Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin.

POJOKSATU– Perlawanan terhadap Tim Sembilan kian masif. Kongres Tahunan PSSI yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (4/1), berubah menjadi ajang pembantaian Tim Sembilan. Mayoritas voters dan undangan yang hadir dalam kongres tersebut mengecam kebijakan Menpora yang ingin membersihkan sepak bola Indonesia dari praktik mafia sepak bola melalui tim bentukannya itu.

Misalnya, teriakan Gusti Randa selaku Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DKI Jakarta. Gusti Randa dengan lantang menuding, Tim Sembilan yang dibentuk Menpora merupakan indikasi bahwa sang menteri tidak paham apa-apa tentang sepak bola Indonesia. ’’Jadi, bila perlu, kita yang harus mengajarkan menteri tentang aturan main yang ada di sepak
bola,’’ ujar Gusti Randa saat diberi kesempatan berbicara di atas podium.

Sebelum pria yang juga seorang aktor senior Indonesia itu tampil di mimbar, Ketua Asprov PSSI Kalimantan Timur Yunus Nusi juga tidak kalah keras mengkritik Tim Sembilan. Nusi bahkan mencoba mengagitasi forum untuk melakukan unjuk rasa ke Istana Negara dengan tujuan agar Imam Nahrawi segera dicopot dari jabatannya sebagai Menpora.

’’Bila perlu, kita semua datang ke sana (Istana Negara, Red) untuk melakukan rekreasi politik bersama-sama biar presiden segera mencopotnya dari Menpora,’’ teriak Nusi saat berdiri di depan podium di hadapan seluruh undangan. ’’Atau, biarkan saja dia menjadi menteri untuk pemuda. Sedangkan untuk olahraga, mari kita pilih menteri yang baru,’’ tambah Nusi, kemudian diiringi teriakan ’’lawan Menpora’’ oleh para voters yang lain.


Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin dalam pidatonya juga menyinggung kehadiran Tim Sembilan. Djohar menilai, ada indikasi bahwa tim yang beranggota akademisi, profesional, dan praktisi tersebut tidak hanya melakukan investigasi dan tranparansi PSSI, tetapi juga sudah mengarah pada upaya pembekuan PSSI.

’’Sungguh sangat mengherankan adanya heboh di luar macam-macam. Sampai ada yang ingin PSSI dibekukan. Dasarnya apa? Toh, tak ada satu pun statuta PSSI ataupun statuta FIFA yang dilanggar. Bahkan, tak ada satu
pun undang-undang negara yang dilanggar,’’ kata Djohar. ’’Orang-orang yang ingin membekukan PSSI hanyalah mereka yang tidak bertanggung jawab dan iri atas keberhasilan, terutama soal keuangan PSSI,’’ tegasnya.

Perhatian peserta kongres yang terpusat pada Tim Sembilan tersebut membuat pertemuan akbar itu seperti kehilangan substansi. Bahkan, laporan keuangan yang dipaparkan Husni Effendi Hasibuan, bendahara PSSI, pun tidak lagi menjadi hal penting dalam kongres yang berlangsung kilat selama empat jam (pukul 10.00–14.00) tersebut.

Sekretaris Jenderal PSSI Joko Driyono menyatakan, semua suara minor yang dialamatkan kepada Menpora dalam Kongres Tahunan tersebut hanyalah cermin kedinamisan forum. Meski begitu, dia menambahkan bahwa
PSSI saat ini belum memiliki langkah resmi untuk merespons keberadaan Tim Sembilan. ’’Tapi, kami akan membentuk tim Ad Hoc Sinergis untuk menekel semua wacana tentang PSSI yang sedang berkembang di luar sana,’’ ujar Joko.

Sementara itu, salah seorang anggota Tim Sembilan, Joko Susilo, menanggapi dengan dingin serangan terhadap timnya. ’’Kalau ada penolakan secara masif seperti itu, biasanya ada kejahatan yang dilakukan secara sistematis pula. Itu perlu dicurigai,’’ kata mantan duta besar Indonesia di Swiss tersebut.

Menurut Joko, seharusnya PSSI tidak perlu bereaksi secara berlebihan. Sebab, ide awal munculnya pembentukan Tim Sembilan itu dikarenakan terjadi banyak kecurangan dalam sepak bola Indonesia. Klimaksnya adalah lahirnya lima gol bunuh diri yang melibatkan PSIS Semarang dan PSS Sleman pada babak delapan besar Divisi Utama akhir tahun lalu.

’’Tim ini (Sembilan, Red) dibentuk karena ada sebab yang terjadi dalam sepak bola Indonesia, bukan tiba-tiba dibentuk begitu saja. Jadi, kami tetap akan berjalan dengan rencana awal. Bahkan, kalau ada kejahatan sistematis yang terjadi dan PSSI seharusnya dibekukan, mengapa tidak. Toh, saat ini tidak ada yang menjamin, kalau PSSI tidak dibekukan,
Indonesia lalu bisa juara di tingkat dunia. Tidak juga, kan?’’ timpalnya.(dik/c19/bas/indopos)