Tiga Klub Indonesia Kena Sanksi FIFA

Tiga Klub Indonesia kena sanksi FIFA.
Tiga Klub Indonesia kena sanksi FIFA.
Tiga Klub Indonesia kena sanksi FIFA.

POJOKSATU – Persepakbolaan nasional kembali mendapat sorotan tajam dari FIFA. Setelah kasus sepak bola gajah antara PSS Sleman dan PSIS Semarang (26/10), sekarang giliran tiga klub Indonesia mendapat sanksi tegas dari FIFA. Bedanya, ini ada hubungannya dengan Transfer Matching System (TMS) FIFA.

Ya, kemarin (10/12), FIFA resmi mengirimkan pengumuman sanksi bagi tiga klub Indonesia. Ketiga klub itu adalah Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, dan Persires Bali Devata. Ketiganya dijatuhi hukuman denda dengan besaran berbeda setelah dinilai melakukan tindakan pelanggaran mempublikasikan data dalam TMS FIFA yang sifatnya rahasia.

Persebaya dan Persires menjadi dua klub yang dijatuhi denda dengan nominal besar. Kedua klub ini diwajibkan membayar denda yang besarnya CHF 25 ribu, atau jika dikalkulasikan ke Rupiah menjadi Rp 318 juta. Kedua klub ini mempublikasikan data klub yang sifatnya rahasia di dalam akun Twitter resminya.

Sementara, PSIS harus “menyetor” denda lebih sedikit ketimbang dua klub tersebut. Alasannya, dari sisi pelanggarannya, bobot yang dilakukan PSIS itu lebih ringan. Mereka hanya me-retweet atau mempublikasikan ulang tweet  klub lain, dan juga mempublikasikan TMS yang dikirimkan FIFA kepada mereka di Twitter resmi klub. PSIS mendapatkan ganjaran sanksi CHF 15 ribu (atau senilai dengan Rp 190 juta).


“Keduanya mendapatkan sanksi karena melanggar kewajiban mereka yang seharusnya merahasiakan data di dalam Transfer Matching System FIFA,” demikian pernyataan yang dikirimkan melalui Media Advisory FIFA.

Kasus ini menjadi untuk kali pertama terjadi di dunia. Komisi Disiplin (Komdis) FIFA sebelum peristiwa ini belum pernah memberikan sanksi bagi klub yang membocorkan rahasia di dalam TMS FIFA. Karena, tidak ada klub lain di kompetisi profesional dunia yang membocorkan TMS ini kepada publik. TMS baru diterapkan FIFA per 2010 silam. Semua federasi yang ada di bawah naungan FIFA wajib memberlakukan TMS kepada klub-klub anggotanya. Dan, yang paling penting, data di dalam TMS FIFA itu bersifat rahasia.

“Tetapi, ketiga klub itu malah membocorkannya lewat sosial media,” lanjutnya.

Sebagai salah satu klub yang tersangkut denda itu, manajemen PSIS malah geleng-geleng kepala karena tidak tahu menahu pembocoran TMS FIFA itu. Seperti yang dikatakan mantan manajer PSIS, Wahyu “Liluk” Winarto, akun TMS FIFA yang dimiliki klub berjuluk Mahesa Jenar itu baru berganti tahun lalu. Liluk dan manajer PSIS sekarang Adi Nugroho yang menyaksikan pembuatan akun baru itu. Sedangkan yang akun lama mereka sama sekali tidak mengetahuinya.

“Akun TMS FIFA yang baru saja masih belum aktif, lah ini sudah kena masalah. Kemungkinan besar, ini terjadi di saat era Indonesia Premier League (IPL), saat itu bukan PSIS, melainkan Semarang United,” bebernya.

Kondisi yang tidak berbeda bisa saja terjadi dalam case Persebaya. Akan tetapi, apapun itu, tiga klub itu termasuk PSIS harus membayar denda ke FIFA. Pengurus Bidang Organisasi PSSI, Tigorshalom Boboy ditemui terpisah menuturkan bahwa informasi TMS FIFA itu memang tidak untuk disebarluaskan.

Menurutnya, orang yang membocorkan indikasinya berasal dari personal saat klub-klub masih dualisme dahulu. Karena itu, saat dirinya mempertanyakan kepada klub, tak ada satupun yang mengakui hal itu.

“Tapi FIFA tidak mau tahu. Karena dilihat usernya klub tersebut, siapapun itu, yang disanksi ya klubnya,” tegas dia. (ren/aam/ko)