POJOKSATU.ID - Kompetisi Serie A musim 2023/24 akan semakin menarik dan seru bagi pecinta Liga Italia di Indonesia, khususnya Milanisti (fans AC Milan) dan Interisti (fans Inter Milan).
Sebab dua pemain keturunan Indonesia Tijjani Reijnders dan Emil Audero Mulyadi membela dua klub elit Serie A Italia, AC Milan dan Inter Milan.
Tijjani Reijnders adalah gelandang kelahiran Zwolle yang baru berulang tahun ke-25 pada 29 Juli 2023 lalu.
Baca Juga: Heboh Ratusan Warga Mulyajaya Kecanduan Tramadol, Kapolres Karawang Ungkap Fakta Sebenarnya
Darah Indonesia mengalir di tubuh Tijjani Reijnders karena ibunya adalah orang Maluku.
Beberapa waktu lalu pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong berminat menaturalisasi Reijnders, tapi sang pemain menolak jadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Untuk pemain keturunan seperti Reijnders memang berhak menentukan untuk memilih kewarganegaraannya, sebelum membela tim nasional senior salah satu negara.
Baca Juga: Derita Kekalahan Ketiga Beruntun, Pelatih Arema FC Sudah Tidak Bisa Berkomentar
Nama Tijjani Reijnders semakin familiar bagi pecinta sepak bola Indonesia, khususnya Milanisti, setelah sang gelandang direkrut AC Milan pada bursa transfer musim panas 2023.
Rossoneri (julukan Milan) memboyong Reijnders dari klub elit Belanda, AZ Alkmar dengan biaya transfer 19 juta euro atau setara dengan Rp317 miliar (kurs 1 euro= Rp16.700).
Pemain tengah dengan kaki kanan sebagai kaki terkuatnya itu dikontrak Milan hingga 2028 senilai Rp28,5 miliar per musim.
Baca Juga: 8 Tempat Makan Paling Enak di Karawang, Lengkap Peta Lokasi dan Nomor Kontak
Sementara Emil Audero Mulyadi mungkin lebih dulu dikenal publik sepakbola Indonesia.
Pemain kelahiran Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 26 tahun lalu ini adalah produk akademi Juventus yang musim lalu dibeli Sampdoria seharga 20 juta euro.
Tapi pada bursa transfer musim panas 2023 ini, Emil Audero Mulyadi dipinjamkan ke Inter Milan dengan opsi pembelian di akhir musim.
Sama halnya dengan Reijnders, Emil Audero Mulyadi juga menolak ketika hendak diproses jadi pemain naturalisasi.
Baca Juga: Segini Gaji Neymar di Al Hilal, 3 Kali Lipat dari Kontraknya di PSG
Bahkan kasus Emil Audero jadi kontroversi karena penyataan ayahnya, Edy Mulyadi yang meremehkan Timnas Indonesia.
“Mimpi kali (bela Timnas Indonesia), kalau Emil ingin bermain di Piala Dunia ya harus ambil di sana (Italia). Indonesia lolos Asia saja enggak, apalagi Piala Dunia. Enggak usah. Apa sih penghargaannya di Indonesia,” ucap Edy Mulyadi dalam video yang beredar.
Pernyataan itu pun menuai kontroversi. Sebagian mengecam ayah dari eks kiper Juventus tersebut. Sedangkan sebagian ada yang mendukung demi karier Emil Audero.
Baca Juga: 6 Rumah Makan Khas Sunda di Karawang, Penyuka Nasi Liwet dan Pais Ngumpul di Sini
Rekaman video tersebut dibuat sebelum Timnas Indonesia memastikan diri lolos ke putaran final Piala Asia 2024.
Terelepas dari penolakan mereka jadi WNI, tetap ada kebanggaan terhadap Tijjani Reijnders dan Emil Audero Mulyadi karena keduanya berdarah Indonesia.
Nama kedua pemain ini tampaknya kembali akan jadi perbincangan ketika dua tim elit kota Milan, AC Milan dan Inter Milan bentrok dalam Derby Della Madonnina.
Salah satu yang sering jadi pembahasan sebelum Derby Milan adalah harga pemain.
Baca Juga: Perjuangan Lionel Sinathrya, Demi Seleksi Timnas Indonesia U17, Rela Tinggalkan Prancis
Lalu siapa yang lebih mahal di antara Tijjani Reijnders dan Emil Audero Mulyadi?
Pantauan Pojoksatu.id di laman Transfermarkt, harga pasar Tijjani Reijnders di kisaran 14 juta euro (Rp233 miliar).
Sementara harga pasar Emil Audero saat ini adalah 6 juta euro (100 miliar), meskipun pernah memiliki nilai pasar 15 juta euro pada Maret 2019 lalu.
Itu berarti Reijnders lebih mahal dengan selisih 133 miliar dari Emil Audero.
Baca Juga: 4 Alasan Shin Tae Yong Bisa Bawa Indonesia Juara Piala AFF U23 2023, Ada Faktor Ramadhan Sananta
Perbedaan ini memunculkan pertanyaan, terutama mengingat Emil Audero memiliki catatan karier yang lebih mentereng, termasuk pernah bermain untuk Juventus dan tergabung dalam Timnas Italia pada kelompok umur tertentu.
Jawabannya terletak pada performa. Nilai pasar seorang pemain cenderung berfluktuasi tergantung pada performa dan citra yang ia bangun selama satu musim.
Prestasi Reijnders musim lalu saat membela AZ Alkmaar tampil impresif dalam 54 pertandingan di semua kompetisi dengan mencetak 7 gol dan 12 assist, membuat nilai pasarnya meningkat.
AC Milan pun berani membayar mahal, yaitu 19 juta euro, untuk mendapatkannya dari AZ Alkmaar.
Sebaliknya, Emil Audero mengalami penurunan performa, terutama setelah Sampdoria terdegradasi.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah bahwa posisi kiper sering kali memiliki nilai pasar lebih rendah dibandingkan posisi lainnya di dunia sepak bola.
Dengan demikian, bisa dimaklumi mengapa Tijjani Reijnders memiliki nilai pasar yang lebih tinggi daripada Emil Audero.
Meskipun sejarah karier Audero lebih cemerlang. Konsistensi performa dan faktor-faktor lainnya memberikan dampak signifikan pada penilaian harga pasar pemain.***

