POJOKSATU.ID – Di antara Desa Sukaluyu dan Sukaresmi, tersimpan sebuah situs bersejarah yang belum banyak dikenal publik.

Melewati kebun, rumpun bambu, hingga menyusuri aliran anak sungai, kawasan ini menyimpan artefak alam yang dipercaya berkaitan dengan masa Kerajaan Siliwangi.

Nuansa kawasan tersebut terasa sangat natural, layaknya kapsul waktu yang tidak tersentuh modernisasi.

Baca Juga: VIRAL! Kenapa Banyak Honorer Tetap Diakomodir Lewat PPPK? Padahal PPPK Sudah Disebut untuk Tenaga Ahli, Begini Penjelasan Lengkapnya

Bongkahan batu raksasa tersebar di beberapa titik dan diduga merupakan material letusan Gunung Salak yang terbawa aliran Ciang sana pada masa lampau.

Namun dari semua batu yang ada, satu batu besar menjadi pusat perhatian warga.

Batu itu memiliki bekas dua telapak kaki orang dewasa yang terlihat samar dari kejauhan, namun tampak jelas saat didekati.

Baca Juga: Kerry Klaim Kerja Sama TBBM Merak Untungkan Negara Rp145 Miliar per Bulan, Apakah Benar?

Inilah yang membuat masyarakat meyakini situs itu menyimpan rekam jejak dari masa silam.

Menurut tokoh Desa Sukaluyu, jejak tersebut diyakini berasal dari era Prabu Siliwangi.

Bahkan, terdapat cerita lokal bahwa Presiden Soekarno pernah mengunjungi situs ini sebelum meresmikan prasasti Batu Tulis.

Baca Juga: Cegah Kejahatan Siber, BRI Tegaskan Pentingnya Jaga Kerahasiaan PIN dan OTP

Meski belum ada kajian ilmiah yang memastikan asal-usulnya, situs ini menjadi potongan sejarah kecil yang menarik untuk ditelusuri.

Antara fakta besar yang terlupakan atau cerita lokal yang diwariskan turun-temurun.

Sejak 2022, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor mulai melakukan pengawasan terhadap kawasan tersebut.

Warga berharap situs Batu Tapak dapat menjadi identitas desa, bukan sekadar lokasi yang ada namun tidak terurus.

Saat ini, kondisi di lapangan masih memprihatinkan. Akses jalan belum rapi, fasilitas pendukung belum tersedia, dan promosi wisata hampir tidak ada.

Baca Juga: Viral! Usai Tragedi SMAN 72 Jakarta, KPAI Minta DKI Batasi Akses Medsos Pelajar

Masyarakat berharap perhatian lebih dari pemerintah maupun investor agar situs ini dapat terjaga, dikenal luas, dan menjadi kebanggaan desa.

Batu Tapak tak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga harapan masa depan: bahwa warisan sejarah lokal dapat tetap hidup dan dihargai.***