POJOKSATU.ID – Di balik dinginnya kabut Puncak, Desa Wisata Tugu Selatan menyimpan kehidupan budaya yang terus menyala.

Desa di lereng Gunung Pangrango ini menjadi salah satu pusat wisata budaya paling hidup di kawasan Puncak, menghadirkan pengalaman yang autentik bagi wisatawan.

“Puncak itu bukan cuma destinasi. Puncak itu budaya yang hidup, bernafas, dan diwariskan,” tulis keterangan akun @kutaudayawangsa, dikutip Selasa, 18 November 2025.

Baca Juga: KPPTI 2025 Resmi Digelar di Unesa, 2000 Peserta Berkumpul, 55 Pembicara Disiapkan, Ribuan Delegasi Kampus Satukan Arah Indonesia Emas 2045

Sosok sentralnya adalah Kichiwo, seniman lokal yang telah menjadi ruh budaya Tugu Selatan.

Kichiwo dikenal luas karena kepiawaiannya merawat sekaligus menghidupkan berbagai kesenian Sunda, mulai dari musik tradisional hingga karya seni kontemporer.

Salah satu atraksi paling diminati adalah workshop pembuatan karinding, alat musik tradisional Sunda yang bersuara khas dan unik.

Baca Juga: Heboh! Ibu Korban Dugaan Perundungan Geruduk Rumah Siswi SMP, Aksinya Dinilai Berlebihan dan Picu Kecaman

Program edukasi ini menjadi primadona bagi pelajar maupun wisatawan yang ingin merasakan langsung pengalaman membuat alat musik tradisional.

Tak hanya itu, Tugu Selatan juga memperkenalkan batik ekoprint, yaitu seni membatik menggunakan pewarna alami dan motif daun sekitar.

Pertama dikenalkan pada 2021 di kawasan Gunung Mas, ekoprint Tugu Selatan kini menjadi identitas seni yang benar-benar “lahir dari alam Puncak”.

Baca Juga: BEM UI Geruduk DPR, RUU KUHAP Dinilai Ancam Privasi Warga dan Buka Peluang Penyalahgunaan Wewenang

Ada pula lukisan bakar, seni visual yang sudah berkembang sejak 2013.

Tekniknya yang rumit dan detail membuat setiap karya tampak hidup dan menjadi buruan wisatawan.

Kombinasi seni, edukasi, dan kearifan lokal ini menjadikan Tugu Selatan berbeda dengan citra Puncak pada umumnya.

Bukan hanya soal vila atau pemandangan berkabut, tetapi budaya yang tumbuh, dijaga, dan diwariskan lintas generasi.***