POJOKSATU.ID – Kelompok Tani Mandiri di Kampung Bobojong, Tamansari, adalah contoh bagaimana kelestarian alam berjalan seiring peningkatan ekonomi warga.

Melalui budidaya berbagai tanaman hutan seperti poh-pohan, pandan, dan kecombrang, kelompok ini mampu menghasilkan panen hingga 75 ribu ikat per hari.

Menjadikannya salah satu sentra tanaman hutan bernilai ekonomi tinggi di wilayah Bogor.

Baca Juga: Banjir Sumatra Meluas, Kementan Amran Sulaiman Kirim 32 Ribu Ton Beras dan 6.300 Ton Minyak Goreng

Ketua Kelompok Tani Mandiri, Pak Tawi, merupakan tokoh sentral di balik keberhasilan ini.

Sejak muda, ia bersama warga Bobojong mengelola lahan Perhutani untuk kebutuhan pangan harian.

Setelah ditetapkan sebagai bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak, masyarakat tetap diberi izin kelola dengan syarat hutan harus dijaga tetap hijau.

Baca Juga: Peran Vital Kaca Spion untuk Keselamatan Berkendara Sepeda Motor

“Kayu tumbang saja tidak berani diambil sembarangan,” kata Pak Tawi, dilansir dari akun @kutaudayawangsa. Jum’at, 28 November 2025.

Kelompok tani ini beranggotakan 156 orang, terdiri dari anak muda usia 20-an hingga para petani senior.

Mereka menggarap lahan seluas 59 hektare, menghasilkan berbagai komoditas seperti kecombrang, jagung, singkong, dan yang paling unggul, daun poh-pohan.

Baca Juga: DPR Gegerkan Publik! Usulan SIM Seumur Hidup Tiba-Tiba Muncul Lagi, Ada Apa?

Produknya tidak hanya dijual dalam bentuk daun segar, tetapi diolah menjadi keripik poh-pohan, produk UMKM yang didistribusikan ke Bandung, Cirebon, hingga Jakarta.

Dengan harga jual Rp80 per ikat, hasil panen 75 ribu ikat per hari bisa menghasilkan omzet sekitar Rp6 juta per hari, atau mencapai Rp180 juta per bulan.

Jika dibagi rata kepada 156 anggota, setiap petani bisa membawa pulang sekitar Rp1,2 juta per bulan, jumlah yang cukup stabil untuk kebutuhan harian masyarakat desa.

“Yang rajin hasilnya banyak, yang ogah-ogahan ya kurang,” ujar Pak Tawi.

Di balik hasil panen besar ini, ada filosofi penting yang dipegang warga Bobojong: alam dijaga, warga sejahtera.

Baca Juga: Bukan Gara-gara Cuaca Saja, Ini Deretan 7 Perusahaan yang Disebut Jadi Dalang Banjir Tapanuli

Upaya mempertahankan hutan tetap lestari menjadikan sektor pertanian hutan bukan hanya ladang cuan, tapi komitmen kolektif menjaga ekosistem Gunung Halimun Salak.

Kampung kecil seperti Bobojong membuktikan bahwa desa di kaki gunung pun bisa memberi dampak besar bagi perekonomian lokal.

Kolaborasi warga dan alam yang terjaga menjadi kunci keberlanjutan mereka.***