POJOKSATU.id - 22 Maret 2024 diperingati sebagai hari Air Sedunia. Pernahkah terpikirkan bagaimana potret air di Indonesia seperti apa? Salah satu Pakar air IPB University, Prof. Dr. Ir. Hefni Effendi, M. Phil. merespon kondisi ini.
Menurut Prof Hefni, kesehatan air pada perairan umum permukaan, seperti sungai, danau, dan waduk masih belum bagus jika ditinjau dari segi parameter fisika, kimia, dan biologi.
“Terutama di perkotaan, susah kita menemukan air sungai yang jernih. Secara kasat mata airnya keruh. Hal ini menunjukkan tingkat kekeruhan yang tinggi dan kandungan padatan tersuspensi yang juga tinggi,” ujar Prof Hefni saat diwawancarai.
Menurutnya, Kadar bahan kimia yang cenderung tinggi di air adalah kandungan phospor (P) dan nitrogen (N) yang dicirikan oleh kadar nitrat, nitrit, amonia, dan ortofosfat yang tinggi.
Tingginya N dan P ini sangat berkaitan dengan limbah domestik berupa limbah rumah tangga dari kegiatan masak, cuci dan kakus, yang banyak membuang air dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Juga berasal dari air limpasan (run off) dari daerah pertanian yang banyak menggunakan pupuk. Termasuk juga kandungan deterjen yang tinggi yang dicirikan oleh tingginya kadar surfaktan dalam air.
Prof Hefni menambahkan, terkadang juga ditemukan kandungan total coliform yang melebihi baku mutu (PP No 22 tahun 2021). Tingginya total coliform atau E. coli sangat berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan yang masih buruk.
Sebagai seorang pakar IPB University, Prof Hefni juga telah melakukan riset mendalam terkait potret kesehatan air di Jakarta.
Baca Juga: Perbandingan Kekuatan Anbu di Era Naruto dan Boruto, Mana yang Lebih Kuat?
Berdasarkan data yang dipublikasi oleh DLH Provinsi DKI 2024, Status mutu air sungai pada sejumlah titik pemantauan sungai di Provinsi DKI Jakarta lebih dominan berkategori tercemar berat semenjak tahun 2018 hingga 2023. Status mutu air yang buruk ini disebabkan oleh tingginya cemaran dari kegiatan domestik yakni kegiatan rumah tangga dan perkotaan.
Sebagian besar limbah rumah tangga dan perkotaan belum diolah dengan baik. Saluran pembuangan air dari kamar mandi dan tempat cuci, pada umumnya dialirkan ke selokan, dan seterusnya masuk ke badan air seperti sungai.
Menurut risetnya, Jakarta belum memiliki sistem pengolahan limbah domestik perkotaan (municipal wastewater treatment) komprehensif yang bisa menjangkau sebagian besar pemukiman. Sistem pengolahan limbah domestik rumah tangga masih sporadis, seperti di kompleks perumahan, terutama perumahan kelas atas. Hal inilah yang menjadi penyebab masih buruknya kualitas air di sungai dan danau di DKI.
Baca Juga: Perbandingan Kekuatan Anbu di Era Naruto dan Boruto, Mana yang Lebih Kuat?
“Seiring dengan perkembangan zaman, mestinya rakyat Indonesia memiliki kebiasaan baik yang makin meningkat terkait dengan kesadaran menjaga kualitas air permukaan (sungai, danau, waduk, dll),” ujar Prof Hefni.
Prof Hefni mengatakan, salah satu yang perlu diperbaiki kesadarannya adalah tidak membuang sampah ke sungai. Kebiasaan ini masih menjadi mainstream yang harus dihapuskan melalui penerapan sanksi yang konsisten terhadap orang yang buang sampah ke sungai.
Digalakkan upaya pemantauan terhadap para industri yang tidak konsisten dalam menerapkan upaya menjaga kualitas air limbah yang harus mereka buang ke badan air sungai. Selain itu, masih ada sejumlah industri yang kurang peduli terhadap kualitas air limbahnya dengan membuang begitu saja air limbah tanpa pengolahan yang baik.
Pakar air IPB University ini memberikan solusi terhadap kondisi kesehatan air di Indonesia.
“Upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah dan segenap masyarakat adalah terus meningkatkan kesadaran akan perlunya memelihara badan air (sungai, danau, waduk, mata air, dll) agar kualitasnya terus baik, terus menanamkan kesadaran kepada segenap pemangku kepentingan untuk menjaga agar daerah resapan air (catchment area) pada bagian hulu terus dijaga kelestariannya, dan penegakan hukum yang konsisten terhadap siapa saja yang mencemari badan air dan membuang sampah ke lingkungan atau ke sungai,” saran Prof Hefni.***
