POJOKSATU.id - 25 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Garuda Ngupuk, giat mengolah lahan seluas 20 hektar di Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Caringin, Bogor.
Lahan di lereng Gunung Gede Pangrango itu ditanami berbagai tanaman produktif.
Diantaranya jambu kristal, pala, talas, singkong, dan pisang yang digarap dengan sistem pertanian ramah lingkungan.
Baca Juga: Pasar Sukaramai dan Pasar Halat Bakal Disulap jadi Pusat Jajanan Malam, Simak Penjelasannya
Sementara Kelompok Wanita Tani, mengembangkan sayur maayur seperti cabe, tomat, dan lainnya.
Seluruh hasil kebun seperti talas, singkong, dan pisang seluruhnya diolah menjadi makanan olahan yang dipasarkan ke dengan kemasan premium.
Per bulan, para petani tesebut mampu mengolah hampir 1 ton talas, singkong dan pisang dan bisa menunjang ekonomi keluarga masing- maisng.
Baca Juga: Babak Baru Penanganan BLBI, Pengamat : Sikap MA Tegas Untuk Kembalikan Uang Negara
"Ini hal yang menarik dari pertanian yang dikembangkan di Kampung Gunung Batu ini. Kami giat bercocok tanam dan memperoleh penghasilan tambahan dari hasil tani itu," ujar Ketua Kelompok Tani Garuda Ngupuk Mohammad Adang Kurniawan.
Hingga saat ini Pabrik AQUA Caringin bersama mitra pelaksana Yayasan Dharojatul Qolbu telah menanam sekitar 600 pohon produktif di kawasan tersebut dengan melibatkan masyarakat setempat.
Selain itu juga telah dibuat 200 lubang resapan (rorak), 2 sumur resapan, dan 1 kolam resapan (waterpond) yang sekaligus digunakan untuk mengalirkan air bersih kepada 120 keluarga di Kampung Gunung Batu, Caringin.
Baca Juga: Ade Puspitasari Dihujani Curhatan Masyarakat Saat Reses, Ini yang Paling Banyak Dikeluhkan Warga
Stakeholder Relations Pabrik AQUA Caringin, Jaka Sunarna, menyebut, semua itu merupakan program konservasi yang dilakukan pihaknya untuk melestarikan sumber daya air di daerah resapan air di lereng Gunung Gede Pangrango secara berkelanjutan.
Program konservasi yang melibatkan kelompok tani setempat ini bukan hanya sibuk menanam pohon semata.
Melainkan juga memberdayakan para petani agar memperoleh penghasilan dari apa yang mereka tanam.
"Mereka diarahkan untuk mengolah hasil tani menjadi produk UMKM berupa keripik talas, singkong, dan pisang yang renyah dan gurih yang siap dijual dan siap bersaing dengan produk sejenis di pasaran," jelas dia.
Baca Juga: Zig Zag dan Angka 8 Dihapus, Besok Ujian Praktik SIM C di Jakarta Raya Pakai Huruf S, Ini Modelnya
Kelompok tani juga mendapatkan pembinaan bagaimana melakukan pengemasan yang baik, higienis, dan menarik.
"Juga dibina bagaimana melakukan promosi dan pemasaran produk UMKM dengan selayaknya,” tambah Jaka Sunarna.
Pihaknya juga terus melakukan kegiatan lain untuk memacu semangat para petani menjalankan program konservasi tersebut.
Baca Juga: Tanggapan Singkat Anies Baswedan soal Gugatan Batas Usia Capres-Cawapres ke MK yang Diajukan PSI
"Yang penting untuk masyarakat adalah memperoleh manfaat ekonomi secara langsung melalui program konservasi itu,” tutur Hamim Jajili, pendamping Kelompok Tani Garuda Ngupuk dari Yayasan Dharojatul Qolbu.
Pelestarian alam Kampung Gunung Batu ini terus berlangsung selaras dengan upaya untuk mengembangkan produk UMKM secara lebih luas.
Konservasi berbasis pengembangan ekonomi masyarakat itu dilaksanakan dalam beberapa tahapan dengan memperhatikan manfaat jangka pendek dan jangka panjang untuk masyarakat serta alam sekitarnya.
"Yang penting adalah bagaimana melalui program ini alam tetap lestari, ketersediaan air tetap terjaga, dan masyarakat jadi sejahtera,” pungkas Kepala Pabrik AQUA Caringin, Teguh Santoso sumringah.***

