POJOKSATU.ID - Di balik hijaunya lereng Gunung Pangrango, tersembunyi sebuah spot sejarah yang nyaris tak dikenal banyak orang.
Ada makam tentara Jerman dari Perang Dunia II.
Lokasinya berada di kawasan Gadog, Megamendung, seolah menyapa hanya mereka yang terpilih untuk menemukannya.
Baca Juga: Mengapa Harus Ada Internet Rakyat? Publik Pertanyakan Peran Telkomsel yang Sudah Menjangkau 3T
Setibanya di kawasan ini, suasana berubah drastis.
Di ujung jalan, sebuah tugu berdiri dengan tulisan “Deutscher Soldatenfriedhof”, ditemani deretan salib putih yang rapi.
Sepuluh makam tentara Jerman berbaris, dengan nama-nama yang masih terbaca, dan dua makam tanpa identitas.
Bu Nyai, penjaga makam, menceritakan bahwa tempat ini telah dirawat turun-temurun sejak zaman kakeknya.
“Setiap November, rombongan warga Jerman rutin datang untuk menggelar upacara kecil penuh hormat,” katanya, dikutip dari akun @kutaudayawangsa, Sabtu, 22 November 2025.
Anak-anak sekolah Bogor pun kerap berkunjung, menjadikan makam ini seperti kelas sejarah outdoor yang tak ditemukan di buku paket.
Sejarah tempat ini terkait dengan dua bersaudara Jerman, Emil dan Theodor Hellferich, yang membangun kebun teh ratusan hektare di Sukaresmi.
Saat PD II, tentara Jerman dari kapal selam U-195 dan U-196 tiba di Jawa, menguasai kembali kebun teh itu, banyak di antaranya gugur dalam pertempuran.
Sepuluh prajurit yang dimakamkan di Megamendung menjadi saksi bisu dari peristiwa itu.
Makam ini bukan hanya tempat peristirahatan, tapi juga pengingat bahwa sejarah global pernah singgah jauh di pelosok Bogor.
Diam di lereng Pangrango, namun ceritanya tetap bergema bagi siapa saja yang datang dan mau mendengarkan.***

