POJOKSATU.id, BOGOR — Kasus keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa di Kota Bogor kembali menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan di lingkungan sekolah. Insiden ini terjadi usai siswa mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dipasok oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bosowa Insani.

Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Kota Bogor dari Komisi IV, Karina Soerbakti, menegaskan perlunya langkah preventif yang melibatkan sinergi lintas sektor. Menurutnya, pengawasan pangan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh dan terintegrasi antara berbagai pihak terkait.

“Peristiwa ini bukan sekadar mencari siapa yang salah, tapi lebih pada evaluasi menyeluruh atas sistem pengawasan yang masih lemah. Kita butuh kolaborasi konkret antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, BPOM, penyedia layanan gizi, hingga pengelola yayasan pendidikan,” ujar Karina saat meninjau langsung dapur penyedia makanan.

Karina juga menekankan pentingnya respons cepat dalam menangani siswa yang terdampak, namun mengingatkan bahwa upaya jangka panjang berupa perbaikan sistemik jauh lebih krusial agar kejadian serupa tidak terulang.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, Karina dan tim pengawas menemukan sejumlah kekurangan pada aspek higienitas dapur. Meskipun pihak yayasan telah mengakui kelemahan tersebut dan berjanji untuk memperbaiki, Karina menilai perlu adanya pengawasan ketat yang bersifat berkala dan transparan.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan niat baik setelah kejadian. Harus ada regulasi yang diperkuat, SOP yang diperbarui, dan pelatihan rutin bagi semua pihak dalam rantai distribusi makanan sekolah,” tegasnya.

Karina turut mendorong adanya audit rutin terhadap seluruh dapur penyedia makanan dalam program MBG. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kualitas implementasi di lapangan, bukan sekadar konsep di atas kertas.

Menutup pernyataannya, Karina mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan insiden ini sebagai momentum perbaikan menyeluruh.

“Daripada saling menyalahkan, lebih baik kita jadikan ini sebagai titik awal pembenahan sistem yang lebih kuat dan berkelanjutan. Anak-anak kita pantas mendapatkan makanan yang aman dan bergizi,” pungkas Karina. ***