POJOKSATU.ID – Kabupaten Bogor memegang peran vital dalam sistem pengelolaan sumber daya air di Jawa Barat.
Posisi geografisnya sebagai wilayah hulu menjadikan Bogor penyangga utama bagi sejumlah sungai besar yang mengalir hingga kawasan perkotaan padat penduduk di hilir.
Berdasarkan Fakta dan Analisa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2024–2044, wilayah ini dilintasi tujuh Daerah Aliran Sungai (DAS) utama.
Baca Juga: Single Salary ASN 2026, Gaji dan Tunjangan Jadi Satu, PAHAMI Mekanismenya
Juga terbagi ke dalam tiga Wilayah Sungai (WS).
Kondisi tersebut menempatkan Kabupaten Bogor sebagai titik kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem air regional.
Secara hidrologis, Wilayah Sungai Ciliwung–Cisadane menjadi yang paling dominan.
Luasnya mencapai 197.724,41 hektare atau sekitar 66,10 persen dari total wilayah Kabupaten Bogor.
Dominasi ini menunjukkan besarnya kontribusi Bogor terhadap suplai air dan pengendalian banjir bagi wilayah hilir seperti Kota Bogor, Tangerang, hingga Jakarta.
Selain WS Ciliwung–Cisadane, wilayah Kabupaten Bogor juga masuk dalam Wilayah Sungai Citarum seluas 59.805,85 hektare atau 20 persen.
Baca Juga: Guru SMAN 11 Padang Kepergok Sesama Jenis di Toilet Masjid di Bungus, Sempat Telanjang Dada
Serta Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian dengan cakupan 41.647,58 hektare atau sekitar 13,90 persen.
Dari sisi Daerah Aliran Sungai, DAS Cisadane tercatat sebagai DAS terluas di Kabupaten Bogor.
Luasnya mencapai 108.367,81 hektare atau sekitar 36,20 persen dari total wilayah.
Kondisi ini menjadikan Cisadane sebagai urat nadi utama yang sangat dipengaruhi oleh perubahan tata ruang dan aktivitas manusia di Bogor.
DAS Cibeet berada di posisi kedua dengan luas 59.805,85 hektare atau 20 persen.
Baca Juga: Ramai Urus SKCK PPPK Paruh Waktu, Polres Lobar Pastikan Tak Ada Pungli
Selanjutnya DAS Cileungsi mencakup 38.158,97 hektare atau 12,80 persen, DAS Cidurian seluas 28.463,38 hektare atau 9,50 persen.
DAS Ciliwung 25.818,57 hektare atau 8,60 persen, DAS Cimanceuri 25.379,07 hektare atau 8,50 persen, serta DAS Cibeureum seluas 13.184,21 hektare atau 4,40 persen.
Besarnya cakupan DAS dan WS tersebut menegaskan bahwa setiap perubahan di wilayah Kabupaten Bogor akan berdampak langsung terhadap kondisi air di daerah hilir.
Baca Juga: FANTASTIS! PPPK BGN 2025 Dapat Tunjangan yang Berbeda Dengan Gaji Pokok, Ini Daftarnya
Alih fungsi lahan, kerusakan hutan, hingga buruknya pengelolaan kawasan resapan berpotensi memicu banjir, sedimentasi sungai, dan krisis air bersih.
Karena itu, pengelolaan DAS tidak hanya menjadi isu lingkungan lokal, tetapi juga kepentingan lintas daerah.
Perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan pengendalian pemanfaatan lahan menjadi kunci agar fungsi ekologis Kabupaten Bogor sebagai wilayah hulu tetap terjaga.
Dengan peran strategis tersebut, Kabupaten Bogor tidak hanya menjadi penopang kehidupan masyarakatnya sendiri.
Tetapi juga menopang keberlangsungan jutaan penduduk di wilayah hilir yang bergantung pada aliran sungai dari kawasan ini.***

