POJOKSATU.id - Kawasan Puncak di ujung Kabupaten Bogor, khususnya Puncak Pass, adalah salah satu jalur lintas dan titik pengamatan utama lintasan burung pemangsa (raptor).

Jika dahulu banyak orang yang sering kali menghabiskan waktu menatap langit untuk mengamati sang raptor melintasi Puncak Pass, kini aktivitas itu jadi langka.

Peneliti, akademisi, dan dosen dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr Susanti Withaningsih memberi peringatan kepada masyarakat bahwa rusaknya ekosistem hutan dan bentang alam yang mengitarinya akan memusnahkan burung pemangsa tersebut.

"Ada kesenyapan yang aneh. Kemana saja perginya burung-burung? Tiada kicauan dan cericit burung pada musim semi tahun ini. Kesunyian mencekam di padang, hutan, dan rawa yang tak jauh dari kota itu," ungkap Dr Susanti Withaningsih saat memberikan materi dalam kegiatanOrientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (OWAKA) 2026 di Taman Safari Indonesia Bogor yang digagas Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (FOKSI), Minggu 23 Agustus 2026.

Salah satunya elang jawa (Spizaetus bartelsi), spesies yang disebut sebagai inspirasi lambang negara Indonesia, Garuda, karena jambul khas di kepalanya. Saat ini, binatang endemik Pulau Jawa ini masuk dalam kategori genting atau terancam punah.

Dari pengalaman selama meneliti elang, Susanti ternyata belajar banyak. Elang yang kerap diperdagangkan secara ilegal ternyata memiliki hal-hal unik yang tidak banyak diketahui orang. Reproduksi elang jawa dan ketiga jenis elang lainnya cukup kompleks. Hanya berlangsung sekitar sekali setahun dan bertelur hanya sebutir.

Induk elang juga sensitif terhadap perubahan disekitarnya. Pembabatan hutan dan penangkapan liar merupakan ancaman utama bagi populasi elang. Jika ada suara yang asing, elang akan pergi meninggalkan telur sampai busuk dan gagal menetas. Jika pasangannya tidak ada, elang akan berhenti bereproduksi karena mereka adalah makhluk yang monogamous seumur hidup.

"Itulah yang harus dipikirkan oleh orang yang memburu elang. Satu ekor hilang berarti satu alur keturunan punah sudah," ujar Susanti.

Padahal, punahnya hewan pemangsa puncak seperti elang menurut ekologi juga membawa dampak ikutan yang tak kalah mengerikan bagi lingkungan.

Hilangnya predator mengakibatkan tidak terkendalinya populasi hewan yanga ada di bawahnya dan seterusnya. Merebaknya ulat bulu hingga tomcat adalah akibat hilangnya hewan pemangsa, selain juga karena perubahan iklim.

Sebagai hewan endemis, Susanti menegaskan bahwa elang jawa hanya ditemui di Pulau Jawa, mencari makanan yang spesifik di Pulau Jawa, dan tidak ikut bermigrasi seperti burung dari Benua Eropa.

"Satwa yang terancam punah ini harus diselamatkan, bukan hanya karena menjadi simbol negara kita," ujarnya.