POJOKSATU.id, Bogor – Desa Bojongrangkas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan gizi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal, khususnya ikan sebagai sumber protein hewani.

Namun, desa seluas 104 hektare tersebut masih menghadapi tantangan berupa terbatasnya ragam olahan ikan yang dikembangkan oleh masyarakat.

Padahal, Desa Bojongrangkas memiliki 12 Posyandu Mawar dengan sekitar 60 kader yang berpotensi menjadi agen edukasi gizi sekaligus penggerak pemanfaatan pangan lokal di tingkat keluarga.

Sebagai bentuk kontribusi kepada kampung halaman sekaligus implementasi Tridarma Perguruan Tinggi, Tim Dosen Pulang Kampung (DPK) IPB University Tahun 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema "Penguatan Ketahanan Gizi Rumah Tangga melalui Pelatihan Pengolahan Produk Berbasis Surimi bagi Kader Posyandu Desa Bojongrangkas."

Melalui kegiatan ini, dosen IPB mentransfer hasil riset dan inovasi pengolahan hasil perikanan kepada masyarakat agar potensi lokal dapat diolah menjadi produk pangan bergizi sekaligus bernilai tambah.

Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si. bersama tim dosen yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Wini Trilaksani, M.Sc., Prof. Dr. Eng. Uju, S.Pi., M.Si., Dr. Wahyu Ramadhan, S.Pi., M.Si., dan Cahyuning Isnaini, S.Gz., M.Sc. Pelatihan juga melibatkan mahasiswa Indonesia serta Abdulla Suleiman Omar, mahasiswa internasional asal Tanzania, sebagai bagian dari implementasi pembelajaran kolaboratif dan internasionalisasi IPB University.

Sebanyak 30 kader Posyandu Mawar mengikuti pelatihan yang meliputi edukasi gizi keluarga, penanganan ikan yang baik, pembuatan surimi, hingga praktik mengolah surimi ikan nila menjadi nugget, bakso, dan otak-otak.

Produk-produk tersebut dipilih karena mudah dibuat, memiliki kandungan protein tinggi, disukai berbagai kelompok usia, serta memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai usaha rumah tangga berbasis potensi lokal.

Ketua Tim Dosen Pulang Kampung, Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan potensi lokal melalui hilirisasi hasil perikanan.

"Desa Bojongrangkas memiliki potensi yang baik untuk mengembangkan produk olahan berbasis ikan. Melalui pelatihan ini, kami ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya mengonsumsi ikan dalam bentuk segar, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk yang lebih bernilai, seperti nugget, bakso, dan otak-otak berbasis surimi. Dengan demikian, potensi lokal dapat memberikan manfaat yang lebih besar, baik dari sisi gizi maupun ekonomi masyarakat," ujar Prof. Joko Santoso.

Ia menambahkan bahwa surimi merupakan produk antara (intermediate product) berbasis protein ikan yang memiliki fleksibilitas tinggi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan.

Inovasi tersebut merupakan hasil riset yang terus dikembangkan IPB University sebagai bagian dari hilirisasi teknologi agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

Selain meningkatkan keterampilan masyarakat, pelatihan ini juga memperkenalkan cara pengolahan ikan yang higienis dan aman sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan berpotensi meningkatkan daya saing produk olahan perikanan lokal.

Sementara itu, Kepala Desa Bojongrangkas, H. Iding Habudin, B.A., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.

"Kegiatan ini sangat bermanfaat karena mampu mengembangkan potensi yang dimiliki desa kami. Masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus keterampilan yang dapat diterapkan di rumah maupun dikembangkan menjadi usaha. Kami berharap kerja sama dengan IPB University dapat terus berlanjut agar potensi lokal Desa Bojongrangkas semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.

Melalui Program Dosen Pulang Kampung 2026, IPB University terus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi desa berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Pemanfaatan ikan nila menjadi produk berbasis surimi diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat, tetapi juga menciptakan nilai tambah hasil perikanan, memperkuat ekonomi lokal, serta menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.***