POJOKSATU.ID - Cibungbulang bukan sekadar kecamatan di barat Kabupaten Bogor.

Wilayah ini menyimpan jejak panjang sejarah dan budaya, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana masa lalu dan masa depan bisa berjalan beriringan.

Dari situs kuno di Ciaruten hingga Tempat Pengolahan Akhir Sampah (TPAS) Galuga yang kini bertransformasi menjadi pusat pengelolaan modern menuju zero emisi.

Baca Juga: Pocong di Tengah Dangdutan Hajatan, Warga Pati Geger Tapi Polisi Bilang Bukan Makhluk Gaib!

Cibungbulang menunjukkan wajah kemajuan yang berpijak pada akar tradisi.

“Dari Prasasti ke aksi, dari sejarah ke inovasi,” tulis keterangan dalam postingan @kutaudayawangsa, Kamis, 13 November 2025.

Tak hanya kaya sejarah, Cibungbulang juga menjadi nadi ekonomi berbasis pertanian dan peternakan.

Baca Juga: Viral Anak TK Didiskualifikasi karena Terlalu Hebat Mewarnai, Netizen Sebut Logika Panitia di Mana?

Dari kebun sayur hingga peternakan sapi, hasil bumi Cibungbulang menghidupi banyak keluarga.

Produk olahan seperti susu segar, yoghurt, dan teng-teng menjadi bukti nyata ketekunan warganya.

Transformasi lingkungan juga menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Kilas Balik Tragedi Semanggi I, 13 November 1998 Saat Suara Mahasiswa Dibalas Peluru di Jantung Ibukota

TPAS Galuga yang dulunya identik dengan tempat pembuangan kini disiapkan Pemkab Bogor menjadi simbol pengelolaan sampah berkelanjutan yang zero emisi.

Konsepnya tak lagi sekadar menampung, tetapi mengolah sampah menjadi energi dan sumber daya bernilai.

Selain sektor ekonomi dan lingkungan, kehidupan budaya di Cibungbulang tetap berdenyut kuat.

Tradisi seperti Cibatokan, Topeng Jiprak, Prak, dan Seren Taun masih dilestarikan dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Bagi warga, upacara-upacara adat itu bukan sekadar seremoni, tapi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan kebersamaan.

Baca Juga: Sekou Kone Kembali ke Indonesia, Dulu Bikin Kagum di Piala Dunia U-17 Kini Tantang Garuda Muda

Warga Cibungbulang punya semangat yang mereka sebut “mengemprang”, yakni maju, ngehiji, peduli, sejahtera, dan semangat.

Dari petani hingga pelaku UMKM, semua bergerak bersama menjaga bumi dan membangun daerah tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur.***