Pemkot Rumuskan Langkah Tekan Angka Inflasi di Kota Bogor Jelang Nataru 2023

ilustrasi transaksi dampak inflasi di Kota Bogor. IST

POJOKSATU.id, BOGOR – Pemerintah Kota Bogor melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan beberapa langkah untuk tekan inflasi di Kota Bogor angka inflasi jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023.


Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah ini ada ada langkah pengendalian inflasi di Kota Bogor menjelang Nataru (natal dan tahun baru).

Untukm menekan angka inflasi di Kota Bogor, pertama yakni melakukan Operasi Pasar Murah (OPM) langsung di pasar.

BACA JUGA : Polresta Bakal Terapkan Tilang Elektronik di Kota Bogor Januari 2023 Nanti


“Selama ini operasi pasar murah digelar di enam kecamatan bekerjasama dengan DKPP, Dinkukmdagin dan distributor yang menyediakan barang-barang komoditas dengan harga lebih murah dan bisa dibeli masyarakat,” ujar Syarifah.

Di bulan ini, lanjut Syarifah, OPM akan dilakukan di pasar bekerjasama dengan Perumda Pasar Pakuan Jaya karena pemantauan harga dilakukan di pasar.

“Jadi sasarannya tidak hanya murah dan bisa dibeli masyarakat, tapi harga barang-barang komoditas di pasar benar-benar murah,” katanya.

BACA JUGA : Libur Natal dan tahun Baru 2023 Polres Bakal Terapkan Ganjil Genap di Puncak

Kedua, masih kata Syarifah, yakni melakukan sidak tim gabungan dengan kepolisian dan perangkat daerah.

Sidak ini tujuannya untuk memberi shock therapy kepada pedagang agar tidak hanya mementingkan profit.

Yakni mengambil kesempatan di natal dan tahun baru sehingga menjual barang dengan harga tinggi atau melakukan penimbunan di beberapa komoditas sehingga harganya menjadi mahal.

BACA JUGA : Polisi Atur Strategi Kepadatan Libur Natal dan Tahun Baru 2023 di Kota Bogor, Seputaran KRB Jadi Prioritas Penjagaan

“Faktor ini kami kendalikan dengan sidak. Pada sidak itu kami akan memantau harga sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan pembeli. Kalau ada harga yang lebih tinggi dari dua acuan itu kita telusuri kenapa harganya lebih tinggi, apakah ada penimbunan atau dari distributor atau produsen memang sudah mahal,” tuturnya.

Ketiga, menekan inflasi di Kota Bogor dengan melakukan gerakan menanam. Jadi untuk komoditas-komoditas pangan tertentu masyarakat bisa memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk menanam cabai dan lainnya supaya tidak ketergantungan pada pasar.

Keempat yang juga sudah dilakukan yakni memberikan subsidi transportasi bagi komoditas yang harganya naik. Serta memberikan subsidi BBM kepada driver ojol dan padat karya agar masyarakat golongan tertentu tetap mempunyai daya beli.

“Pemerintah Kota Bogor menjalin kerja sama dengan daerah lain. Saat ini Kota Bogor sudah bekerjasama dengan Ciamis dan Sukabumi. Tujuan kerja sama ini untuk mendapatkan komoditas yang harganya lebih murah jika sewaktu-waktu komoditas mengalami kenaikan, bisa mendapatkan barang dari daerah yang berlebih dan harganya murah,” jelasnya.

Syarifah menambahkan, saat ini inflasi di Kota Bogor di angka 5,89 persen. Angka ini turun dibanding Oktober 2022 yang berada di angka 5,94 persen.

Meski November angka inflasi di Kota Bogor mengalami penurunan, pihaknya tetap melakukan antisipasi dengan melakukan berbagai kegiatan pengendalian inflasi mengingat Desember ada natal dan tahun baru. “Kami juga koordinasi secara intensif dengan BPS supaya apa yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor sesuai dengan indikator pengendalian inflasi,” tandasnya.

(Adi Wirman)