UNICEF Soroti Pembakaran Aki Bekas di Bogor, Limbahnya Ternyata Bikin IQ Anak Lemah

Kepala Perencanaan UNICEF, Silas Rapold datang langsung menemui Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan di Cibinong, Jumat (7/10).

POJOKSATU.id, BOGOR – UNICEF menyoroti pembakaran aki bekas di Bogor, tepatnya di Kabupaten Bogor. Apalagi PBB  mencatat Kabupaten Bogor sebagai salah satu daerah dengan tingkat pencemaran limbah B3 tertinggi di Indonesia.


Mirisnya, jika terus dibiarkan, paparan limbah pembakaran aki bekas di Bogor ini dapat menurunkan tingkat intelegensia (IQ) pada anak.

Untuk menangani masalah pembakaran aki bekas di Bogor ini, Kepala Perencanaan UNICEF, Silas Rapold datang langsung menemui Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan di Cibinong, Jumat (7/10).

BACA JUGA : Banyak Limbah Rumah Tangga di Sumber Air Baku, Perumda Tirta Pakuan Olah Sampah Jadi Kompos


Mereka membahas rencana aksi penanganan limbah B3, terutama dari hasil pembakaran aki bekas.

“Timbal adalah sumber pencemarannya, termasuk daur ulang aki bekas dan cat yang mungkin mengandung timbal. Paparan pencemaran timbal ini bisa mencapai masyarakat dan dampak terhadap lingkungannya besar,” tutur Silas Rapold.

Menurutnya, jika terus dibiarkan timbal ini dapat memicu penurunan IQ pada anak yang bersifat permanen dan berbahaya bagi ibu hamil.

BACA JUGA : Mobil Pengolahan Limbah Milik Kementrian PUPR Terbakar di Tol Jorr KM 35, Padahal Kendaraan Baru

Pada dasarnya, UNICEF bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam upaya pencegahan dan penanganan atas paparan timbal di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan Yayasan Pure F Indonesia dan Institut Teknologi 10 November, mereka melihat ada kontaminasi timbal pada tanah pada beberapa daerah di Pulau Jawa dan Sumatra.

“Dari proses tersebut, ada 5 lokasi yang menghadapi tantangan tinggi. Akhirnya dua wilayah yakni Kabupaten Bogor dan Tegal yang menjadi lokasi prioritas,” kata Silas.

BACA JUGA : Bau Menyengat Muncul di Area Pengolahan Limbah di Bogor, PPLI Mohon Maaf

Saat ini program kerjasama antara UNICEF dengan KLHK fokusnya pada timbal. Jadi tentunya limbah beracun lain mungkin ada dampaknya terhadap anak-anak, namun kami membutuhkan masukan dari ahli dan juga arahan dari pemerintah di tingkat pusat maupun daerah.

“Arahan tersebut untuk melakukan kegiatan apabila ini menjadi sebuah perhatian khusus. Selain masukan dari ahli atau pakar, dibutuhkan juga komitmen dan perhatian dari masyarakat untuk mencegah polusi-polusi terjadi,” ujar Silas.

Sementara Plt Bupati Bogor, Iwan Setiawan mengatakan, Pemkab Bogor diminta mendukung langkah-langkah aksi mulai dari tahapan kajian, pelaksanaan dan juga pasca pelaksanaan dengan aksi-aksi konkret.

“Rencananya aksi pengurangan keracunan timbal pada anak akan dilaksanakan pada bulan ini di tiga titik wilayah Kabupaten Bogor. Dari hasil kajian, dampak masalah yang dihasilkan sangatlah berbahaya khususnya untuk anak-anak,” kata Iwan.

Iwan menjelaskan, anak-anak akan sangat berdampak, terutama disaat masa pertumbuhan dapat menurunkan tingkat kecerdasan.

“Jadi masih ada kegiatan usaha lain yang lebih bermanfaat, yang tidak menghasilkan limbah yang berdampak kepada manusia khususnya anak-anak. Negara wajib melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” tandas Iwan.

Iwan menambahkan, dengan tegas kita minta Satpol PP untuk menutup kegiatan-kegiatan ilegal tersebut yang sudah sejak lama beroperasi di Kabupaten Bogor., seperti pembakaran aki bekas di Bogor. Istilahnya kita lakukan kegiatan Nobat atau nongol babat.

(Rishad Noviansyah/Pojokbogor)