Fakta Lengkap Tentang Tragedi Stadion Kanjuruhan, Pengamat Sepakbola Ini Blak-blakan Ungkap Begini

Momen pemain Arema diamankan keluar lapangan usai laga Arema vs Persebaya yang ricuh (ist)

POJOKSATU.id, BOGOR – Pengamat sepakbola, Bachri Setiawan menyoroti tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 131 jiwa dan 27 dalam perawatan intensif.


Ia meyakini pada sebelum tragedi Stadion Kanjuruhan, panitia telah melibatkan banyak pihak dalam pertandingan big match Jawa Timur, mulai dari media, Pemda, suporter, kepolisian dan TNI. Termasuk upaya menghalau datangnya Bonek (Pendukung Persebaya,red).

Namun sayangnya permintaan dari Kepolisian terkait jam penyelenggaraan dan pembatasan jumlah penonton ditolak dan diabaikan oleh Panitia Pelaksana, sehingga berujung pada tragedi Stadion Kanjuruhan.

Hal itu rupanya dianggap menjadi salah satu bagian yang menyebabkan banyak korban berjatuhan di Stadion Kanjuruhan.


BACA JUGA : Kapolda Jatim Minta Maaf, DPR Bentuk Pansus Kanjuruhan, Kapan Dicopot ?

Dia dengan menyebutkan, hal ini tidak terlepas dari stasiun TV yang menyelenggarakan tayangan langsung laga tersebut, dan panitia pelaksana yang mengejar keuntungan semaksimal mungkin dari penjualan tiket masuk.

“Sehingga akhirnya jam tayang tidak berubah, sementara kapasitas stadion yang mampu menampung 42.499 orang dimaksimalkan di angka 42.000 tiket, tidak mengikuti saran kepolisian yang menyarankan untuk menurunkan ke angka 25.000 tiket saja,” kata Bachri.

Dari data yang dimilikinya, Bachri menyebutkan suporter yang datang berjumlah 42.288 orang. Artinya, menyisakan 211 orang dari kapasitas maksimal Stadion Kanjuruhan yakni 42.499.

BACA JUGA : Buntut Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Arema FC Disanski 3 Hukuman Berat dari PSSI 

Melihat hal tersebut jika ditambah dengan jumlah pasukan pengamanan yang terdiri dari unsur Polisi dan TNI, dapat dipastikan Stadion Kanjuruhan yang memiliki 14 pintu itu menampung jumlah orang melebihi kapasitasnya. Bisa dibayangkan, setidaknya satu pintu harus melayani sekitar 7.265 orang.

Maka tak heran jika permintaan polisi untuk menurunkan jumlah penonton berkaitan dengan risk assessment dan risk management yang diperhitungkan dan direncanakan Kepolisian.

“Jumlah anggota yang tersedia pun pastilah terbatas, tapi apa mau dikata, pertandingan dimulai, pertandingan selesai, kerusuhan terjadi. Kepolisian menembakkan gas air mata, sesuai dengan protap dan Perkap Nomor 16 tahun 2006, lalu banyak yang mempersalahkan hal gas air mata ini dengan berpegang pada aturan FIFA Point 19B,” tegas Bachri.

BACA JUGA : Salut untuk Fans BTS, ARMY Indonesia Kumpulkan Rp447 Juta untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Ia juga menjelaskan dalam peristiwa tragedi Stadion Kanjuruhan itu, ketika pintu Stadion dibuka, penonton masuk lalu pintu dikunci dan penjaga pintu pergi entah ke mana.

Disaat kerusuhan pecah, semua berebut keluar, berdesakkan, terhimpit di ruang menuju pintu keluar, dan beberapa pintu terkunci.

“SOP stadion seperti apa itu, sudah sesuai FIFA apakah SOP standar PSSI? Saya meragukannya. Lalu kemudian karena banyak yang terhimpit, kehabisan oksigen, sampai meninggal sekian banyak, apakah karena gas air mata atau karena tidak bisa keluar stadion,” ungkapnya.

Bachri meminta masyarakat harus berani melihat keseluruhan tragedi Stadion Kanjuruhan sesuai runutannya secara objektif. “Jangan berharap hanya cari gampang mempersalahkan aparat, atau terbawa arus mempersalahkan polisi,” pungkasnya. (Ipe)