Sidang Kelanjutan Ade Yasin, Kasubid BPKAD Sebut Anak Buah Bergerak Sendiri Tanpa Diperintah

Komunikolog Politik dan Hukum Nasional, Tamil Selvan menduga Ihsan Ayatullah. Foto/Rishad Pojoksatu

POJOKSATU.id, BOGOR – Komunikolog Politik dan Hukum Nasional, Tamil Selvan menduga Ihsan Ayatullah bertindak atas inisiatif sendiri dalam perkara suap Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) hingga ikut menjerat Bupati Bogor non-aktif, Ade Yasin sebagai terdakwa.


Ihsan yang hanya seorang Kasubid di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bogor pun telah mengakui, bahwa dia melakukan pengumpulan uang pada sejumlah SKPD untuk memenuhi permintaan BPK, tanpa isntruksi dari Ade Yasin.

Pernyataan Ihsan itu diungkapkan saat sidang kasus Ade Yasin di Tipikor, Bandung, Jawa Barat, pada Senin (8/8). Tamil Selvan menduga dengan pernyataan Ihsan itu ada indikasi pemerasan.


Tamin menyebut, dengan adanya indikasi tuduhan kepada Bupati Bogor non-aktif Ade Yasin terbantahkan.

Dan dari pengakuan Ihsan juga telah diungkapkan kalau dia bergerak sendiri tanpa perintah Ade Yasin.

“Jadi sebenarnya sudah salah sasaran. Dan Ade Yasin hanya menjadi korban atas oknum BPK yang meminta uang ke Ihsan. Dan Ihsan jelas bergerak sendiri, jadi tidak ada keterlibatan Ade Yasin,” terang Tamil, Rabu (10/8).

BACA JUGA : Sejumlah Saksi Ringankan Ade Yasin dalam Persidangan

Tamil berharap, ketua majelis hakim bisa mengkaji secara jelas dan rinci atas kasus yang dialami Ade Yasin.

“Karena secara kronologi dan pengakuan para saksi juga jelas tidak ada perintah dari bupati. Jadi Ade Yasin hanya korban dan terdzolimi,” bebernya.

BACA JUGA : Pengamat Sebut Kasus Ade Yasin Sarat Tekanan Politik

Atas dasar itulah, kata Tamil, KPK seharusnya membebaskan Ade dan membersihkan nama baiknya.

“Karena tidak terbukti kalau Ade terlibat,” ungkapnya.

BACA JUGA : Ini Kronologi Bupati Bogor Ade Yasin ‘Terjatuh’ Saat Raih WTP, Ternyata Bermula dari Laporan Akan Terima Disclaimer

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua KPK Firli Bahuri menyampaikan dari pengumpulan keterangan saksi dan alat bukti, KPK melakukan penyelidikan dan menemukan bukti permulaan yang cukup sehingga menetapkan tersangka di kasus tersebut.

Dari 12 orang yang ditangkap itu, total ada 8 orang yang ditetapkan sebagai tersangka tersebut, termasuk Bupati Bogor Ade Yasin.

KPK menetapkan empat tersangka oknum BPK sebagai penerima suap.

Mereka adalah, Anthon Merdiansyah, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Kasub Auditor IV Jawa Barat 3 Pengendali Teknis), Arko Mulawan, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Ketua Tim Audit Interim Kabupaten Bogor), Hendra Nur Rahmatullah Karwita, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Pemeriksa) dan Gerri Ginajar Trie Rahmatullah, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Pemeriksa).

“Perlu saya sampaikan bahwa yang saya sampaikan kepada SKPD adalah permintaan BPK,” kata Ihsan saat diminta tanggapannya oleh Ketua Majelis Hakim Hera Kartiningsih di Pengadilan Tipikor, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/8).

Ihsan diketahui banyak menghimpun dana yang bersumber dari perangkat daerah dan pengusaha.

Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris BPKAD, Andri Hadian bahwa dirinya diminta tolong oleh Ihsan mengambil dana dari Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bappenda) senilai Rp100 juta.

Kemudian, saksi lain, Kasubag Penatausahaan Keuangan Sekretariat Pemerintah Kabupaten Bogor, Rully Faturahman mengaku memberikan uang kepada Ihsan dari hasil meminjam kepada pengusaha dan sebagian uang pribadi.

“Kata Ihsan, BPK perlu uang. Saya yang mencari, untuk yang Rp50 juta, saya pinjam yang mulia. Yang Rp10 juta pribadi sendiri,” kata Rully.

Rully bahkan sempat diminta oleh Ihsan untuk menyiapkan dua rekening khusus untuk berurusan dengan BPK.

“Saudara Ihsan telepon saya bahwa BPK kali ini meminta cashless. Saya diminta Ihsan membikin rekening. Saya menyuruh staf saya membikin rekening,” paparnya.

Rully menerangkan bahwa apa yang dilakukan oleh Ihsan bukan atas perintah dari Bupati Bogor nonaktif Ade Yasin, karena hubungan keduanya tidak terjalin baik.

“Jujur, saya baru ungkap di sini. Sepertinya kalau sama Ibu Ade kurang baik, (hubungan) Ihsan sama Ibu Bupati. Pernah satu kali kita menghadap untuk urusan yang lain. Itu ibu marah banget ke Ihsan, untung saya membelokkan ke pembicaraan yang lain,” ungkap Rully.

Menurutnya, Ihsan bahkan sempat batal naik jabatan di Pemerintah Kabupaten Bogor karena tidak mendapat restu dari Ade Yasin.

“Pernah Ihsan gagal dilantik,” kata Rully.

Pada agenda sidang pemeriksaan saksi-saksi yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Hera Kartiningsih ini, Jaksa KPK menghadirkan enam PNS dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pemerintah Kabupaten Bogor sebagai saksi.

Enam saksi itu dihadirkan untuk empat terdakwa, yakni Bupati nonaktif Ade Yasin, Kasubag Kasda Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Ihsan Ayatullah, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Adam Maulana, serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR Rizki Tufik Hidayat.

Diberitakan sebelumnya, Komunikolog Politik dan Hukum Nasional, Tamil Selvan menilai, kalau kasus yang menjerat Ade Yasin memang penuh dengan keanehan. Padahal, kata dia, tidak ada perintah dari Ade Yasin untuk memberikan uang ke oknum BPK.

Atas dasar itulah, kata Tamil, KPK seharusnya membebaskan Ade dan membersihkan nama baiknya. “Karena jelas tidak terbukti kalau Ade terlibat,” ungkapnya.

(cek/pojokbogor)