POJOKSATU.id - Di tengah maraknya tren investasi alternatif, tas branded mulai dilirik sebagai aset yang berpotensi memberikan keuntungan.

Namun, benarkah membeli tas mewah bisa menghasilkan cuan lebih besar dibandingkan instrumen investasi seperti saham?

Faktanya, tidak semua tas desainer mengalami kenaikan nilai.

Hanya model tertentu yang memiliki sejarah harga stabil bahkan terus meningkat, terutama produk dari merek-merek premium dengan tingkat eksklusivitas tinggi.

Baca Juga: Investasi Tanah dan Properti Masih Menjanjikan? Ini Kelebihan, Kekurangan, dan Hal yang Wajib Dipahami

Salah satu yang paling sering menjadi sorotan adalah Hermes Birkin.

Tas ikonik ini dikenal memiliki nilai jual kembali yang sangat tinggi dibandingkan kebanyakan tas mewah lainnya.

Berdasarkan penelitian Baghunter, Hermes Birkin mencatat kenaikan nilai rata-rata sekitar 14,2 persen per tahun sepanjang periode 1980 hingga 2015.

Bahkan, tingkat retensi nilainya disebut mendekati 90 persen atau lebih, menjadikannya salah satu tas yang paling diburu kolektor.

Baca Juga: Mensesneg Minta Hotman Paris Jangan Kaitkan Kasus Febrie Adriansyah dengan Presiden

Saat ini, harga sebuah Hermes Birkin baru dipasarkan mulai sekitar US$9.000.

Namun di pasar resale, nilainya dapat melonjak hingga lebih dari US$30.000, bergantung pada ukuran, warna, tingkat kelangkaan, dan kondisi tas tersebut.

Tak hanya Hermes, sejumlah merek lain seperti Chanel, Goyard, dan Louis Vuitton juga menunjukkan tren positif di pasar barang mewah bekas.

Laporan terbaru dari platform jual beli barang mewah Rebag mengungkapkan bahwa nilai tas desainer dari sejumlah merek tersebut mengalami peningkatan secara keseluruhan untuk pertama kalinya.

"Tren ini menandakan peluang investasi yang menarik di seluruh merek papan atas dan merek yang lebih terjangkau," dalam laporan Rebag.

Baca Juga: Akuisisi Tuntas, Tirta Patriot Resmi Kelola Seluruh Layanan Air Bersih di Kota Bekasi

Temuan tersebut turut diperkuat studi Credit Suisse pada 2022 yang menyatakan tas mewah dapat berfungsi sebagai salah satu aset yang mampu menjaga nilai kekayaan saat inflasi meningkat.

Meski begitu, para pakar keuangan mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan tas branded dengan instrumen investasi konvensional seperti saham maupun properti.

Sebagai gambaran, indeks S&P 500 memang memiliki rata-rata imbal hasil tahunan sekitar 10 persen, tetapi pergerakannya naik turun mengikuti kondisi pasar.

Baca Juga: Menabung Bisa Dapat Tiket Tangerang 10K, Begini Program bank bjb untuk Pecinta Lari

Di sisi lain, hanya sedikit tas mewah yang benar-benar mampu mempertahankan bahkan meningkatkan nilainya dalam jangka panjang.

Perencana keuangan bersertifikat sekaligus pendiri Life Planning Partners di Jacksonville, Florida, Carolyn McClanahan, menilai istilah investasi kurang tepat disematkan pada pembelian tas mewah.

"Saya merasa jengkel ketika melihat pembelian (tas mewah) yang diposisikan sebagai investasi, hal ini membuat saya merasa tidak nyaman. Saya sangat mendukung orang-orang membeli barang-barang bagus, tapi saya tidak akan menyebutnya sebagai investasi," ungkapnya.

Menurut McClanahan, tas mewah lebih layak dipandang sebagai pembelian yang bijak apabila memang akan digunakan dan disimpan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Resmi! Pengelolaan Jalan Cihampelas Dialihkan ke Provinsi, Walkot Farhan Wanti-wanti Soal Bongkar Teras Cihampelas

"Jika Anda memiliki tas tangan yang Anda tahu akan Anda simpan selamanya, mungkin itu bisa dianggap sebagai pembelian yang cerdas," tambahnya.

Nilai sebuah tas branded tidak hanya ditentukan oleh mereknya, tetapi juga dipengaruhi kelangkaan, kondisi, hingga minat pasar.

Karena itu, sebelum ikut tren, penting memahami bahwa keuntungan dari tas mewah bukanlah sesuatu yang pasti.

Membeli barang yang benar-benar disukai dan sesuai kemampuan finansial tetap menjadi keputusan terbaik dibanding sekadar mengejar potensi cuan.***