POJOKSATU.id, JAKARTA-Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) melakukan pertemuan strategis dengan Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, untuk membahas strategi demi memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global.
Dalam pertemuan ini, Ketua Umum BPP AEKI, Irfan Anwar menegaskan komitmen jajaran untuk terus mengupayakan peningkatan devisa negara melalui ekspor kopi biji hijau dan roasted.
Saat ini, industri kopi Indonesia telah menjadi salah satu penopang utama ekspor non-migas, memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.
Irfan Anwar menjelaskna sebagai negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, Indonesia memiliki kekayaan varietas kopi serta karakteristikrasa yang sangat beragam dan unik.
Baca Juga: Gajah Banteng
Namun, tantangan global menuntut langkah strategis. Untuk itu, pembahasan difokuskan pada tiga hal: struktur tarif yang kompetitif, hilirisasi produk kopi bernilai tambah, dan pemanfaatan jaringan perdagangan luar negeri melalui Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
1. Tarif Ekspor ke AS: Indonesia Punya Peluang Emas
Amerika Serikat menjadi salah satu pasar kopi paling kompetitif di dunia. Kabar baiknya, tarif masuk untuk kopi Indonesia ke AS hanya 19%, lebih rendah dibanding Vietnam (20%) dan jauh di bawah Brasil yang mencapai 50%. Juga, European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU CEPA) 0 %.
Artinya, Indonesia bisa menawarkan harga lebih bersaing tanpa mengorbankan kualitas. Ini menjadi momentum strategis untuk menembus pasar specialty coffee yang sedang naik daun dan memiliki nilai jual tinggi.
“Tarif ini bisa jadi senjata utama kita. Kalau bisa dimaksimalkan, Indonesia punya peluang besar untuk mendominasi pasar kopi premium di Amerika,” ungkap Irfan Anwar, dalam penjelasannya, Kamis, 17 Juli 2025.
2. Hilirisasi Kopi dan Sertifikasi: Produk Bernilai Tambah Jadi Andalan
Tak hanya fokus pada ekspor green bean, pemerintah kini mendorong pengembangan produk kopi dalam bentuk roasted, ground, drip bag, hingga kopi siap saji dalam kemasan (ready to drink). Strategi hilirisasi ini dinilai efektif untuk menaikkan nilai ekspor sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor industri kreatif.
Menteri Perdagangan memastikan Kementerian Perdagangan juga mengupayakan kemudahan ekspor, termasuk penyederhanaan dokumen dan sertifikasi. Langkah ini diharapkan mampu meringankan beban UMKM dan eksportir skala menengah agar lebih mudah menembus pasar internasional.
3. Magang di ITPC: Cara Cerdas Jajaki Pasar Global
Langkah cerdas lainnya adalah membuka peluang magang dan penjajakan pasar di kantor ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) yang tersebar di berbagai negara. Program ini memberikan kesempatan bagi SDM dari perusahaan eksportir untuk belajar langsung di lapangan, menjalin kemitraan dengan buyer, hingga memahami tren dan regulasi pasar global.
Kehadiran langsung di negara tujuan ekspor memungkinkan pelaku usaha; aktif mengikuti pameran dagang internasional; melakukan riset pasar secara nyata; menjalin kemitraan dagang strategis; mengasah strategi branding dan promosi
“Kita ingin pelaku usaha punya akses langsung. Tidak hanya lewat pihak ketiga, tapi bisa bangun jaringan sendiri lewat ITPC,” kata Mendag.
Ekspor Kopi Bukan Sekadar Produk, Tapi Branding Bangsa
Kolaborasi nyata antara AEKI, pemerintah, eksportir, dan perwakilan dagang menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Dengan dukungan tarif kompetitif, hilirisasi produk unggulan, serta program magang dan riset di ITPC, kopi Indonesia siap bersaing bukan hanya dalam jumlah, tapi juga kualitas dan citra.
Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;
BPP AEKI meyakini jika strategi ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin Indonesia akan dikenal dunia bukan sekadar sebagai produsen kopi, tapi juga sebagai pemimpin dalam inovasi, cita rasa, dan nilai tambah produk kopi global. ***

