POJOKSATU.id - Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah baru untuk memperkuat nilai tukar rupiah, salah satunya rencana penerbitan Panda Bonds di China.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan internasional agar tidak terlalu bergantung pada dolar Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa obligasi tersebut akan diterbitkan di pasar China dengan tingkat bunga yang lebih rendah.

Dengan begitu, beban pembiayaan bisa lebih ringan sekaligus memperluas sumber pendanaan negara.

Baca Juga: Rupiah Balik Menguat, BI Gaspol 7 Strategi Redam Tekanan

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan 'Panda Bonds' di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi, diversifikasi kita akan lebih baik ke depan," ungkapnya.

Langkah ini bukan sekadar strategi jangka pendek.

Pemerintah memang sedang mendorong diversifikasi instrumen pembiayaan agar struktur utang lebih sehat dan tidak terfokus pada satu mata uang saja.

Selain itu, pasar keuangan China dinilai menawarkan peluang menarik karena tingkat bunganya relatif lebih kompetitif dibandingkan instrumen serupa di pasar global lainnya.

Hal ini tentu bisa memberi keuntungan tambahan bagi Indonesia dalam mengelola utang.

Baca Juga: Sinopsis Film Tumbal Proyek: Misteri Tumbal di Balik Pembangunan Jembatan, Teror dan Luka Keluarga

Kebijakan ini juga merupakan hasil pembahasan dalam rapat terbatas yang melibatkan Presiden Prabowo Subianto, jajaran Kabinet Merah Putih, serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Fokus utamanya adalah menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan yang mulai terlihat.

Menariknya, pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi nasional kini mencapai 5,61 persen, meningkat dari sebelumnya 5,39 persen.

Angka ini dianggap sebagai sinyal positif bahwa arah ekonomi mulai berbalik ke jalur ekspansi.

"Angka pertumbuhan ekonomi hari ini 5,61, itu kami diskusikan dengan Bapak Presiden bahwa kita memang sudah bisa membalik arah ekonomi. Jadi, ekonomi kita sedang mengalami akselerasi," lanjut Purbaya.

Untuk menjaga tren tersebut, pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan berupa stimulus tambahan.

Rencananya, kebijakan ini mulai dijalankan pada awal Juni 2026 guna mendorong aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak.

Baca Juga: Milangkala Tatar Sunda di Garut Pecah, Kirab Mahkota Binokasih Disambut Ribuan Warga

"Akan kami jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan, koordinasi dengan Bank Sentral juga menjaga kondisi likuiditas."

"Kami juga akan memberikan stimulus tambahan ke perekonomian yang tidak lama lagi akan diumumkan, mungkin satu Juni akan mulai jalan," pungkasnya.

Di tengah dinamika global yang serba cepat, langkah seperti Panda Bonds ini terasa jadi sinyal bahwa Indonesia tidak tinggal diam.

Pelan tapi pasti, arah kebijakan mulai dibangun lebih mandiri—dan di situlah harapan tentang ekonomi yang lebih kuat perlahan tumbuh.***