POJOKSATU.id - Ada yang menarik dari kinerja PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sepanjang semester I-2026.

Penjualan perusahaan memang melesat, tetapi keuntungan yang benar-benar menjadi hak pemegang saham justru bergerak ke arah sebaliknya.

Penjualan neto VKTR tercatat mencapai Rp646,62 miliar pada Januari-Juni 2026.

Angka tersebut naik 56,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level Rp414,04 miliar.

Namun, kenaikan penjualan itu belum tercermin pada laba yang menjadi milik pemegang saham VKTR.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham justru turun tajam 76,18 persen menjadi Rp1,12 miliar.

Pada semester I-2025, angka tersebut masih mencapai sekitar Rp4,73 miliar.

Nah, yang membuatnya semakin menarik, laba neto konsolidasi perusahaan justru naik 25 persen menjadi Rp10,08 miliar dari sebelumnya Rp8,05 miliar.

Lantas, ke mana sebagian besar laba tersebut mengalir?

Laba Besar, Bagian Pemegang Saham Kecil
Perbedaan antara laba konsolidasi dan laba yang menjadi hak pemegang saham VKTR terutama berkaitan dengan kepentingan nonpengendali.

Dari total laba neto sekitar Rp10,08 miliar, sebanyak Rp8,95 miliar atau 88,84 persen menjadi bagian kepentingan nonpengendali.

Alhasil, keuntungan yang benar-benar dapat diatribusikan kepada pemegang saham VKTR hanya tersisa Rp1,12 miliar.

Struktur tersebut juga membuat saldo positif kepentingan nonpengendali mencapai sekitar Rp217,73 miliar setelah tambahan laba bersih tersebut.

Sementara itu, VKTR masih memiliki saldo defisit sekitar Rp78,67 miliar.

Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika melihat kinerja perusahaan.

Sebab, pertumbuhan pendapatan dan laba konsolidasi belum otomatis berarti keuntungan dalam jumlah besar masuk ke kantong pemegang saham VKTR.

Sumber Pendapatan Mulai Bergeser
Dari sisi bisnis, VKTR sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup agresif.

Pendapatan terbesar masih berasal dari perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas dengan pihak ketiga yang mencapai Rp533,53 miliar.

Di sisi lain, penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai kepada pihak ketiga mencapai Rp114,72 miliar.

Beberapa pelanggan VKTR berasal dari perusahaan besar, seperti PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, Perusahaan Umum Damri, serta PT Hino Motors Manufacturing Indonesia.

Beban pokok penjualan memang ikut meningkat menjadi Rp534,17 miliar.

Meski begitu, perusahaan masih mampu membukukan laba bruto Rp112,44 miliar, meningkat dibandingkan sekitar Rp79,12 miliar pada tahun sebelumnya.

Setelah memperhitungkan beban usaha, laba yang tersisa berada di level Rp16,02 miliar.

Bisnis Kendaraan Listrik Terus Diperluas
Di tengah persoalan distribusi laba tersebut, VKTR tetap agresif mengembangkan bisnis kendaraan listrik.

Perusahaan telah menggandeng sejumlah karoseri nasional, seperti Tri Sakti, Laksana, Adiputro, Tentrem, dan Mekar Armada Jaya.

VKTR juga menjalin kerja sama dengan PT Transjakarta yang memiliki visi mengelektrifikasi 10.000 unit bus serta PT Blue Bird Tbk.

Tidak hanya bus, pengembangan kendaraan listrik juga merambah kendaraan komersial lainnya.

Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), misalnya, mempercayakan VKTR untuk mengelektrifikasi 14 unit truk compactor dan arm-roll untuk kebutuhan pengelolaan sampah.

Uji coba kendaraan listrik juga dilakukan bersama PT Semen Indonesia Logistik dan Perhutani.

Bahkan dalam Danantara Housing Expo 2026, VKTR menghadirkan EV Transporter untuk mendukung mobilitas pengunjung.

Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

Danantara Siapkan Pendanaan hingga Rp2 Triliun
Ekspansi bisnis tersebut berpotensi mendapat tambahan amunisi dari Danantara.

PT Danantara Investment Management (Persero) tengah menjajaki peluang untuk memberikan pendanaan kepada VKTR dengan nilai pokok indikatif maksimal Rp2 triliun.

Pembahasan itu dituangkan dalam indicative non-binding term sheet yang ditandatangani pada 28 Agustus 2026.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), sebagai pengendali VKTR, turut terlibat dalam pembahasan tersebut.

Rencananya, dana tersebut dapat digunakan VKTR untuk membiayai pengadaan bus listrik dan kebutuhan lain yang nantinya disepakati dalam dokumen definitif.

Namun, jangan buru-buru menganggap transaksi ini sudah final.

Danantara masih akan melakukan proses uji tuntas sebelum keputusan investasi ditetapkan.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menilai elektrifikasi kendaraan komersial memiliki peran penting dalam transisi energi nasional.

“Investasi pada elektrifikasi mobilitas komersial merupakan investasi pada transisi energi jangka panjang yang dapat membawa dampak positif pada percepatan adopsi kendaraan listrik nasional,” kata Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir lewat siaran pers, Rabu 2 September 2026.

Pandu juga menegaskan bahwa proses pemeriksaan tersebut diperlukan agar transaksi yang dilakukan benar-benar memberikan nilai komersial.

“Proses uji tuntas yang komprehensif akan dilakukan untuk memastikan transaksi dapat memberikan nilai komersial yang baik dan memberikan kontribusi positf bagi pemabangunan ekonomi Indonesia,” kata dia.

Bakrie Ikut Tambah Saham
Menariknya lagi, dukungan terhadap VKTR datang bersamaan dengan aksi pembelian saham oleh Bakrie Metal Industries.

Pada 28 Agustus 2026, Bakrie Metal Industries membeli 3 miliar saham VKTR dengan harga Rp100 per saham.

Total dana yang dikeluarkan mencapai Rp300 miliar.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Bakrie Metal Industries meningkat menjadi 9,21 miliar saham atau sekitar 21,06 persen saham beredar.

Sementara BNBR tercatat memiliki 10,68 miliar saham VKTR atau 24,41 persen.

Pemegang saham lainnya antara lain Glencore International Investments dengan sekitar 1,44 miliar saham atau 3,29 persen serta Envision Green Energy Indonesia sebanyak 678,87 juta saham atau 1,55 persen.

CEO VKTR Anindra Ardiansyah Bakrie mengatakan tambahan dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan perusahaan menuju fase pertumbuhan berikutnya.

“Kami mengapresiasi kepercayaan dan dukungan, yang bukan hanya merepresentasikan kolaborasi strategis, tetapi juga amanah untuk membawa VKTR memasuki fase pertumbuhan berikutnya,” kata CEO VKTR Anindra Ardiansyah Bakrie lewat siaran pers.

Pernah Didorong Jadi National Champion
Prospek VKTR sebelumnya juga mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Pada 9 April 2026, Prabowo meresmikan pabrik perakitan kendaraan listrik VKTR di Magelang, Jawa Tengah.

Saat itu, Prabowo berharap VKTR bisa berkembang menjadi salah satu perusahaan otomotif nasional yang mampu bersaing dengan pemain besar dunia.

“Kalau Jepang punya Isuzu, punya Hino, kalau Korea punya Hyundai, Daewoo, saya berharap berapa tahun lagi kita akan menganggap, melihat VKTR sebagai salah satu champion dari Indonesia,” kata Prabowo.

Dengan dukungan ekspansi, tambahan potensi pendanaan hingga Rp2 triliun, serta penguatan kepemilikan dari Grup Bakrie, VKTR memang sedang memasuki fase yang cukup penting.

Tetapi angka semester I-2026 juga memberikan catatan yang tidak kalah penting yaitu bisnis boleh tumbuh dan penjualan boleh melonjak, namun tantangan VKTR adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi pemegang saham.***