POJOKSATU.id, Jakarta - Ajakan untuk menarik dana dari bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sempat menjadi perbincangan publik.

Namun, para pakar menilai langkah ini tidak berdasar dan justru bisa mengganggu stabilitas keuangan nasional.

Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, menegaskan bahwa ajakan tersebut tidak memiliki alasan kuat dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa tindakan semacam ini bisa menciptakan ketidakstabilan dalam sistem keuangan, yang pada akhirnya justru merugikan masyarakat, terutama kelompok ekonomi bawah.

"Ketika perekonomian bergejolak, yang paling terdampak adalah masyarakat kecil. Ini yang harus kita pahami," ujarnya.

Piter juga menekankan bahwa bank-bank Himbara memiliki fundamental yang solid.

Dengan adanya jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), masyarakat seharusnya tidak perlu khawatir dan tetap tenang menghadapi berbagai isu yang berkembang.

Ia menegaskan bahwa bank-bank Himbara memiliki kinerja yang baik, dan keberadaan Danantara justru bertujuan untuk semakin memperkuat sektor perbankan nasional.

Bank-bank Himbara, yang terdiri dari Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN, tetap beroperasi sesuai regulasi ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta LPS.

Selain itu, mereka juga berada di bawah pengawasan Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan, sehingga keamanannya tetap terjamin.

Pengamat perbankan Paul Sutaryono menilai bahwa pemerintah dan otoritas keuangan perlu lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat.

Menurutnya, pemahaman yang benar akan membantu masyarakat melihat bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam operasional bank Himbara.

"Bank adalah bisnis yang bertumpu pada kepercayaan. Jika kepercayaan goyah, dampaknya bisa besar. Oleh karena itu, sosialisasi yang masif perlu dilakukan agar masyarakat tetap merasa aman," jelasnya.

Paul juga mengingatkan bahwa bank-bank Himbara memiliki jaringan digital yang luas yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi dengan nasabah.

Dengan transparansi dan edukasi yang memadai, masyarakat akan lebih memahami bahwa simpanan mereka tetap aman di bank.

Ia kembali menegaskan bahwa LPS menjamin simpanan nasabah, sehingga tidak ada alasan untuk khawatir.

"Simpanan di bank tetap dijamin oleh LPS. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir," ujarnya.

Terlepas dari isu yang beredar, bank-bank Himbara justru mencatatkan kinerja keuangan yang sangat solid sepanjang 2024.

Pertumbuhan laba yang signifikan, ekspansi kredit yang sehat, serta peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi bukti nyata bahwa bank-bank ini tetap kuat dan stabil.

Laporan keuangan konsolidasian 2024 menunjukkan bahwa BRI berhasil mencatatkan laba sebesar Rp 60,64 triliun, Mandiri Rp 55,78 triliun, BNI Rp 21,5 triliun, dan BTN Rp 3 triliun.

Dari sisi kredit, pertumbuhan positif terlihat di berbagai segmen. BRI menyalurkan kredit sebesar Rp 1.354,64 triliun, dengan mayoritas dialokasikan untuk UMKM.

Bank Mandiri mencatat total penyaluran kredit sebesar Rp 1.670,55 triliun, meningkat 19,5 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara BNI mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,6 persen menjadi Rp 775,87 triliun.

BTN, yang fokus pada sektor perumahan, juga mencatatkan pertumbuhan kredit 7,3 persen menjadi Rp 357,97 triliun.

Dari sisi likuiditas, bank-bank Himbara juga menunjukkan pertumbuhan yang positif.

BRI berhasil menghimpun DPK sebesar Rp 1.365,45 triliun dengan rasio dana murah (CASA) mencapai 67,30 persen.

Mandiri mencatat total simpanan Rp 1.699 triliun, tumbuh 7,73 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan CASA mendominasi 80,3 persen dari total simpanan.

BNI terus memperkuat basis pendanaannya, terutama dari segmen tabungan ritel, yang tumbuh 11 persen menjadi Rp 258 triliun.

BTN juga mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 9,1 persen, dengan rasio CASA mencapai 54,1 persen.

Ketua Umum Himbara yang juga Direktur Utama BRI, Sunarso, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah bukti kuatnya sinergi dan tata kelola yang baik dalam industri perbankan nasional.

"Kinerja Himbara yang solid menunjukkan bahwa bank-bank ini memiliki fundamental yang kuat dan mampu menghadapi tantangan industri perbankan yang semakin dinamis. Stabilitas ini juga akan berdampak positif bagi perekonomian nasional," pungkasnya.

Dengan regulasi yang ketat, dukungan pemerintah, dan kinerja keuangan yang terus meningkat, bank-bank Himbara tetap menjadi pilihan aman bagi masyarakat. Meski sempat muncul ajakan menarik dana, para pakar menegaskan bahwa hal tersebut tidak berdasar dan justru berisiko mengganggu stabilitas ekonomi.

Alih-alih panik, masyarakat sebaiknya tetap percaya pada sistem perbankan nasional yang telah terbukti kuat dan stabil.***