POJOKSATU.id - Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan secara agresif dalam beberapa waktu terakhir dinilai telah memberikan dampak signifikan terhadap kondisi likuiditas perbankan nasional.
Chief Economist BNI, Leo Putera Rinaldy, menyebutkan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar tersebut berperan besar dalam memperkuat likuiditas sistem keuangan domestik.
Menurut Leo, penurunan suku bunga acuan yang cukup cepat membuat outstanding transaksi repo bank ke Bank Indonesia menurun tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan likuiditas antarbank semakin berkurang karena ketersediaan dana di pasar keuangan semakin melimpah.
“Penurunan outstanding repo menjadi indikasi bahwa likuiditas di sistem perbankan kini jauh lebih kuat,” ujar Leo.
Selain faktor kebijakan moneter, Leo juga menyoroti langkah pemerintah yang menempatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan.
Penempatan dana pemerintah tersebut, menurutnya, telah menjadi salah satu pendorong utama penurunan suku bunga perbankan sekaligus meningkatkan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit ke sektor riil.
“Kebijakan penempatan SAL membantu menurunkan biaya dana bank, sehingga mendorong penurunan suku bunga kredit dan memperluas akses pembiayaan,” jelasnya.
Meskipun demikian, Leo menilai dampak penurunan biaya dana terhadap perbankan masih memerlukan waktu untuk benar-benar terasa.
Baca Juga: MAN 2 Kota Malang Juara OSN 2025, Kabid Pendma Jatim: Bukti Madrasah Unggul
Ia memperkirakan bahwa efek penuh dari kebijakan ini baru akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan penyesuaian struktur pendanaan dan kebijakan suku bunga masing-masing bank.
Lebih lanjut, Leo menilai arah kebijakan fiskal pemerintah yang semakin ekspansif akan memberikan dukungan tambahan bagi pemulihan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan bahwa realisasi anggaran yang dipercepat, termasuk rencana realokasi dana yang belum terpakai, diharapkan dapat memperkuat permintaan domestik dan mempercepat momentum pertumbuhan.
Baca Juga: Progres Gedung SBSN MIN 2 Garut Disorot, Kakanwil Beri Peringatan Keras pada Kontraktor
“Percepatan realisasi anggaran akan meningkatkan peredaran uang di masyarakat dan memperkuat daya dorong fiskal terhadap ekonomi,” tuturnya.
Kebijakan fiskal yang ekspansif tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan moneter BI yang fokus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pelonggaran suku bunga dan stabilisasi nilai tukar.
Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal ini diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, para pelaku ekonomi menaruh harapan besar terhadap peningkatan penyaluran kredit, terutama ke sektor-sektor produktif seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
Langkah ini diperkirakan akan memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa kuartal ke depan. ***


