POJOKSATU.id - XRP kembali menjadi sorotan di pasar kripto global pada Mei 2026.
Aset digital milik Ripple itu diperdagangkan di kisaran USD 1,41 dan memunculkan harapan baru bagi investor yang ingin meraih keuntungan besar dari dunia kripto.
Namun, situasi pasar saat ini ternyata jauh berbeda dibanding masa awal ledakan aset kripto beberapa tahun lalu. Banyak analis menilai peluang menjadi kaya mendadak lewat XRP kini tak lagi semudah yang dibayangkan.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar USD 87 miliar dan suplai beredar lebih dari 61,8 miliar token, XRP kini sudah masuk kategori aset kripto besar dan lebih matang.
Baca Juga: Gubernur Al Haris Tinjau Korban Banjir Merangin dan Salurkan Bantuan untuk Warga
Artinya, ruang kenaikan harga super ekstrem seperti 100 kali lipat dalam waktu singkat menjadi semakin sulit terjadi.
Karena itu, pertanyaan utama investor sekarang bukan lagi apakah XRP bisa naik, melainkan berapa banyak modal yang harus dimiliki untuk bisa menghasilkan USD 1 juta atau sekitar Rp17 miliar sebelum akhir 2026.
Berdasarkan simulasi yang banyak dibahas di pasar, jika harga XRP naik ke level USD 5, investor setidaknya perlu memiliki sekitar 200 ribu XRP.
Dengan harga sekarang, jumlah itu setara investasi sekitar USD 282 ribu atau Rp4,7 miliar.
Jika XRP berhasil menembus USD 10, investor masih membutuhkan sekitar 100 ribu XRP yang nilainya mencapai sekitar USD 141 ribu bila dibeli saat ini.
Baca Juga: Profil UMTAS Tasikmalaya, Awalnya Sekolah Perawat Kini Jadi Kampus Islami Modern
Sementara prediksi Standard Chartered yang lebih moderat memperkirakan XRP hanya menyentuh sekitar USD 2,80 pada akhir tahun.
Dalam skenario tersebut, investor harus memiliki sekitar 357 ribu XRP untuk mencapai USD 1 juta.
Nah, angka-angka itu jelas menjadi tantangan besar bagi investor ritel dengan modal terbatas.
Banyak investor lama yang membeli XRP saat harga masih sangat murah memang punya peluang lebih besar menikmati lonjakan keuntungan.
Namun bagi investor baru, mengejar target kekayaan instan dalam waktu singkat dinilai semakin tidak realistis.
Meski begitu, optimisme terhadap XRP belum sepenuhnya padam.
Salah satu faktor yang mendorong sentimen positif adalah perkembangan ETF spot XRP yang mulai mencatat arus dana besar sepanjang 2026.
Data SoSoValue menunjukkan ETF XRP mengalami arus masuk positif selama 13 dari 19 pekan pertama tahun ini dengan total mendekati USD 157 juta.
Nilai aset yang dikelola bahkan hampir mencapai USD 3,87 miliar atau setara dengan Rp64 triliun.
Selain itu, Coinbase mulai membuka fitur Trade at Settlement untuk produk Futures XRP, sementara GraniteShares mengumumkan ETF XRP leverage 3x di Nasdaq.
Ripple sendiri terus memperluas kerja sama di sektor pembayaran internasional dan infrastruktur keuangan global.
Perkembangan tersebut membuat posisi XRP semakin dianggap serius oleh investor institusi.
Meski demikian, sejumlah analis tetap mengingatkan bahwa reli besar XRP membutuhkan banyak faktor pendukung sekaligus.
Beberapa syarat yang dianggap penting antara lain pengesahan penuh CLARITY Act di Amerika Serikat, masuknya dana institusi dalam skala besar, Bitcoin kembali menembus USD 100 ribu, hingga adopsi XRP oleh bank-bank besar dunia.
Prediksi dari berbagai platform AI pun cenderung lebih realistis. ChatGPT memperkirakan XRP berada di kisaran USD 2,15 pada akhir tahun, sementara Grok memprediksi rentang US$2 hingga USD 3,50.
Claude bahkan menilai level sekitar USD 3,15 bisa tercapai jika The Fed mulai menurunkan suku bunga.
Semua itu membuat XRP kini lebih dipandang sebagai aset pembentuk kekayaan jangka panjang dibanding “tiket lotere” untuk kaya mendadak.
Dunia kripto memang masih penuh peluang, tapi pasar sekarang jauh lebih matang dan kompetitif.
Di tengah euforia dan mimpi cuan besar, investor juga perlu belajar bahwa kesabaran kadang lebih penting daripada sekadar berharap lonjakan instan dalam semalam.***


