POJOKSATU.id — Harga emas dunia kembali bergerak naik di awal tahun 2026.

Setelah sempat terkoreksi pada detik-detik terakhir 2025, logam mulia ini kembali masuk zona hijau, memunculkan sinyal baru yang mulai dibaca serius oleh investor.

Mengacu pada data Kitco, pada Kamis (1/1/2026) malam waktu New York, Amerika Serikat, harga emas menguat 0,64 persen dan ditutup di level US$ 4.345 per troy ons.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA Danone Indonesia Januari 2026, Tersedia Posisi Strategis

Penguatan ini menandai perubahan sentimen pasar hanya sehari setelah emas sempat melemah.

Koreksi Akhir Tahun, Bukan Sinyal Pelemahan
Sehari sebelumnya, pada Rabu malam (31/12/2025) waktu AS, harga emas turun 0,46 persen ke level US$ 4.317 per troy ons.

Namun koreksi tersebut lebih mencerminkan aksi normal pasar dibandingkan perubahan tren.

Baca Juga: Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini Penjelasan Lengkap KUHP dan KUHAP Baru

Banyak investor memilih melakukan taking profit menjelang tutup buku tahunan, terutama setelah emas mencatatkan reli panjang sepanjang 2025.

Investor Mulai Masuk Mode Waspada
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai fluktuasi emas di akhir dan awal tahun sangat dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global.

“Ketegangan geopolitik masih tinggi, mulai dari Iran dan Israel di Timur Tengah, konflik Rusia–Ukraina di Eropa, hingga potensi eskalasi di Selat Taiwan. Situasi ini mendorong investor melakukan taking profit,” kata Ibrahim di Jakarta, dikutip Jumat (2/1/2026).

Baca Juga: PNS Wajib Tahu, Ini Arti ASN Digital dan Dampaknya ke Data Kepegawaian

Bagi investor, kondisi tersebut justru memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai, bukan sekadar komoditas spekulatif.

Data 2025 Jadi Dasar Optimisme
Sepanjang 2025, emas menunjukkan performa yang sulit diabaikan.

Ibrahim mencatat rata-rata harga emas dunia berada di kisaran US$ 3.582 per troy ons.

“Selisih antara harga terendah dan tertinggi mencapai US$ 1.936 per troy ons. Artinya, harga emas naik sekitar 57 persen sepanjang 2025,” ungkapnya.

Baca Juga: Prabowo Semprot Atap Seng Hunian Sementara Panas 'Kasih Ijuk Aja, Biar Rakyat Ga Kepanasan'

Kenaikan ini memperlihatkan bahwa emas bukan hanya bertahan, tetapi justru menguat di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

Target 2026 Masih Terbuka Lebar
Optimisme terhadap emas berlanjut ke 2026. Bank asal Swiss, UBS, memproyeksikan harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per troy ons pada September 2026.

Bahkan, UBS menilai harga emas bisa bergerak lebih tinggi hingga US$ 5.400 per troy ons, didorong kombinasi ketegangan geopolitik dan dinamika ekonomi Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu.

Baca Juga: Heboh Seorang Pria Diintimidasi Oleh Banyak Orang Gara-gara Viralkan Jalan Rusak, Netizen Ikut Geram!

Apa Artinya bagi Investor?
Bagi investor jangka menengah dan panjang, penguatan emas di awal 2026 menjadi pengingat bahwa risiko global belum sepenuhnya mereda.

Selama ketidakpastian masih membayangi pasar keuangan, emas berpotensi tetap relevan sebagai penyeimbang portofolio.

Baca Juga: Viral! Pipa Gas Milik Perusahaan Negara Meledak di Indragiri Hilir, Api Menjulang 15 Meter Bikin Warga Kocar-Kacir Berhamburan

Dengan kata lain, pergerakan emas saat ini bukan sekadar soal harga naik atau turun, melainkan tentang bagaimana pasar membaca risiko dan mencari perlindungan.***