POJOKSATU.id, Jakarta – Bank Mandiri membuka tahun 2026 dengan kinerja impresif.
Bank pelat merah ini mencatatkan pertumbuhan kredit dua digit sekaligus menjaga kualitas aset, menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong pertumbuhan nasional.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan (bank only) Januari 2026, penyaluran kredit tumbuh 15,62 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1.511,4 triliun.
Lonjakan ini ikut mengerek total aset ke level Rp2.191,9 triliun atau naik 13,96 persen YoY, mencerminkan ekspansi bisnis yang tetap terjaga kualitasnya di awal tahun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyatakan pertumbuhan tersebut merupakan cerminan komitmen perseroan dalam memperluas pembiayaan ke sektor-sektor produktif, termasuk ekosistem UMKM di berbagai daerah.
“Pertumbuhan ini menjadi wujud sinergi strategi bisnis, pengelolaan risiko, dan penguatan ekosistem. Kami memastikan akselerasi tetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian sehingga memberi nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan,” ujar Novita, Senin (23/2).
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp1.635,5 triliun atau tumbuh 17,29 persen YoY.
Komposisi dana murah (CASA) tetap dominan dengan rasio 73 persen, menopang efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat likuiditas.
Kinerja intermediasi yang solid itu berbuah pada laba bersih Januari 2026 sebesar Rp4,65 triliun, tumbuh 16,18 persen YoY.
Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) 10,2 persen YoY dan penurunan cost of fund (CoF) 27 basis poin dibanding bulan sebelumnya menjadi 2,06 persen.
Pendapatan berbasis komisi juga menunjukkan tren positif.
Fee Based Income (FBI) recurring naik 16,1 persen YoY, memperkuat struktur pendapatan yang semakin seimbang dan berkelanjutan.
Efisiensi operasional pun membaik, tercermin dari rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang turun ke 37,75 persen dari sebelumnya di atas 40 persen.
Akselerasi transaksi digital menjadi salah satu penopang utama.
Transaksi melalui Livin’ by Mandiri melonjak 49,3 persen YoY, disusul pertumbuhan aktivitas Kopra by Mandiri sebesar 27 persen YoY.
Transaksi treasury juga naik 33 persen YoY, seiring penguatan layanan solusi finansial terintegrasi bagi nasabah ritel maupun korporasi.
Menurut Novita, penguatan ekosistem digital tersebut menjadi strategi untuk memperluas inklusi keuangan dan menciptakan keunggulan berkelanjutan.
Integrasi layanan ritel, pelaku usaha, hingga merchant diarahkan untuk menghadirkan solusi transaksi dan pembiayaan yang lebih cepat, mudah, dan relevan dengan dinamika ekonomi.
Di tengah ekspansi, kualitas kredit tetap solid. Cost of Credit (CoC) turun 21 basis poin YoY menjadi 0,35 persen.
Rasio kredit bermasalah (NPL) pun terjaga di level 0,97 persen, turun 3 basis poin secara tahunan.
Angka ini mencerminkan disiplin manajemen risiko serta selektivitas dalam penyaluran pembiayaan.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, bank berkode emiten BMRI ini terus mengarahkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan UMKM.
Sinergi antara lini korporasi, ritel, dan digital diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih luas.
“Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mendukung agenda pembangunan nasional. Dengan fundamental yang solid dan strategi adaptif, kami optimistis menjaga momentum pertumbuhan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan sepanjang 2026,” tutup Novita.



