POJOKSATU.id - Harga emas dunia mulai melandai setelah muncul laporan terkait menurunnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran.

Meski sempat menguat dalam perdagangan intraday, logam mulia itu akhirnya terkoreksi tipis seiring sinyal kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Merujuk data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis 7, Mei 2026 ditutup di level USD 4.685,18 per troy ons atau turun 0,09 persen.

Namun pada perdagangan Jumat pagi 8, Mei 2026 pukul 06.36 WIB, harga emas kembali bergerak naik sekitar 0,21 persen ke posisi USD 4.695 per troy ons.

Baca Juga: AS Bombardir Situs Rudal dan Intelijen Iran Saat Gencatan Senjata Masih Berlaku

Pergerakan emas belakangan memang sangat dipengaruhi situasi geopolitik Timur Tengah.

Terutama terkait konflik AS dan Iran serta isu pembukaan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.

Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn menilai harga emas masih berpotensi terbang tinggi jika situasi konflik benar-benar mereda dan aktivitas ekonomi kembali normal.

"Jika gencatan senjata bertahan, perang ini bisa ditinggalkan, dan aktivitas bisnis kembali normal dengan Selat Hormuz terbuka, saya bisa melihat harga emas menembus USD 5.000 per ons," katanya.

Ia menyebut pasar saat ini sangat fokus memantau perkembangan Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Baca Juga: Pria 49 Tahun Tewas dalam Kebakaran Rumah di Jagakarsa, Diduga Dipicu Sisa Tiner Renovasi

"Pasar saat ini hanya memantau situasi di Timur Tengah, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS," lanjutnya.

Laporan terbaru menyebut AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik.

Meski demikian, Teheran masih mengkaji proposal tersebut dan belum menyelesaikan beberapa isu sensitif.

Di sisi lain, ketegangan kembali muncul setelah pejabat senior Iran menegaskan negaranya tidak akan membiarkan AS membuka kembali Selat Hormuz dengan skenario yang dianggap tidak realistis.

Pernyataan itu sempat membuat harga minyak kembali naik karena pasar khawatir terganggunya jalur distribusi energi global.

Nah, kenaikan harga energi biasanya ikut memicu inflasi.

Dalam kondisi inflasi tinggi, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi agar tekanan harga tetap terkendali.

Baca Juga: Innalillah, Korban Meninggal Kecelakaan ALS di Sumsel Kini 17 Orang, Terbaru Fahrul Hubaidi

Situasi ini bisa membuat emas kehilangan daya tarik karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Meski begitu, TD Securities justru memprediksi harga emas masih punya peluang naik lebih tinggi hingga menembus USD 5.200 per ons.

Menurut lembaga tersebut, potensi kenaikan dipicu perubahan arah kebijakan The Fed yang mulai fokus pada pasar tenaga kerja, ditambah pelemahan dolar AS serta meningkatnya permintaan emas dari investor dan bank sentral.

Menariknya lagi, data terbaru menunjukkan bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya selama 18 bulan berturut-turut hingga April lalu.

Langkah ini dianggap menjadi sinyal kuat bahwa permintaan emas global masih sangat besar.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Tak Ada PHK Massal PPPK, Kepala Daerah Diminta Tak Khawatir soal Batas Belanja Pegawai

Kini pasar menanti laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed tahun ini.

Di tengah ketidakpastian global, emas kembali membuktikan dirinya bukan sekadar logam mulia biasa.

Saat dunia diliputi konflik dan kecemasan ekonomi, banyak orang masih percaya emas adalah tempat paling aman untuk menyimpan harapan dan rasa tenang.***