POJOKSATU.id - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD.

Bahkan pada perdagangan Selasa 12 Mei 2026 pagi, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dan menjadi posisi terlemah intraday sepanjang sejarah.

Pelemahan rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal perdagangan.

Saat pasar dibuka pagi tadi, rupiah langsung jatuh cukup dalam hingga 0,43 persen ke posisi Rp17.480 per dolar AS.

Baca Juga: Kemendikdasmen Tegaskan SPMB 2026 Bukan Sekadar Seleksi, Data Dapodik Akan Dikunci Setelah Juknis Ditetapkan

Situasi ini membuat pasar kembali dibuat tegang.

Pasalnya, baru sekitar sepekan lalu rupiah juga menembus level psikologis Rp17.400 per dolar AS.

Nah, kini level Rp17.500 pun ikut jebol dalam waktu singkat.

Tertembusnya dua level penting tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih sangat besar.

Permintaan USD terus meningkat, sementara tekanan jual terhadap rupiah belum juga reda.

Salah satu pemicu terbesar datang dari kondisi global yang kembali memanas.

Baca Juga: Giliran Ketua GAMKI Sahat Sinurat Dilaporkan ke Bareskrim Polri Terkait Ceramah Jusuf Kalla

Ketidakpastian di Timur Tengah membuat investor dunia ramai-ramai memburu dolar AS sebagai aset aman atau safe haven.

Pasar menyoroti sikap Presiden AS Donald Trump yang kembali meragukan kelanjutan gencatan senjata dengan Iran.

Ditambah lagi, muncul laporan soal kemungkinan operasi militer lanjutan dan pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Padahal, Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Jadi, ketika kawasan itu memanas, pasar global langsung bereaksi keras.

Dampaknya terasa ke mana-mana, termasuk ke Indonesia.

Baca Juga: Kemendikdasmen Tegaskan Tak Ada Skor Patokan TKA untuk Jalur Prestasi SPMB 2026, Penilaian Diserahkan ke Daerah

Indeks dolar AS atau DXY kembali menguat ke level 98,117 dan membuat mata uang negara berkembang seperti rupiah makin tertekan.

Bukan cuma itu, harga minyak dunia juga ikut melonjak.

Harga minyak Brent naik hingga USD 105,2 per barel, sementara minyak WTI mendekati USD 99 per barel.

Kondisi ini menjadi kabar kurang baik bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Kebutuhan dolar AS untuk impor otomatis ikut meningkat saat harga minyak naik tinggi.

Baca Juga: Dominasi Jawa, Berikut Analisis Sebaran Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di Berbagai Provinsi!

Di sisi lain, lonjakan harga minyak juga bisa memicu inflasi dan memperberat beban subsidi energi pemerintah.

Hal itu membuat pasar mulai cemas terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Sorotan terhadap defisit APBN pun kembali muncul.

Pada 2025 lalu, defisit APBN tercatat mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara pada kuartal I 2026, defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap PDB.

Angka ini jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Nah, kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap di bawah batas aman 3 persen terhadap PDB.

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Harga energi yang masih mahal membuat inflasi AS dikhawatirkan sulit turun cepat.

Jika inflasi AS tetap tinggi, maka peluang pemangkasan suku bunga The Federal Reserve bisa semakin mundur.

Akibatnya, investor global cenderung tetap memilih aset berbasis dolar AS.

Situasi itu membuat arus dana ke negara berkembang menjadi tertahan.

Rupiah pun semakin sulit mendapat ruang penguatan.

Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor psikologis pasar.

Ketika level Rp17.500 berhasil ditembus, banyak pelaku pasar menjadi lebih defensif.

Permintaan dolar meningkat untuk kebutuhan transaksi, lindung nilai, hingga antisipasi pelemahan lanjutan.

Kondisi seperti ini biasanya membuat tekanan makin cepat membesar.

Pasar juga mulai mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.

Selama ini BI melakukan intervensi melalui pasar spot, DNDF hingga pembelian SBN.

Namun tekanan kali ini datang ketika cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan sejak awal tahun 2026.

Cadangan devisa RI pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar USD 156,5 miliar. Namun pada April 2026 turun menjadi USD 146,2 miliar.

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, menilai BI tampaknya kini lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi demi menghemat cadangan devisa.

“Iya, sepertinya BI lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi untuk menghemat cadev,” ujar Rully.

Kini pasar menunggu apakah tekanan global akan mulai mereda atau justru makin memanas dalam beberapa waktu ke depan.

Sebab ketika rupiah terus melemah, dampaknya bukan cuma terasa di pasar keuangan, tapi perlahan juga bisa menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.

Harga kebutuhan bisa naik, biaya impor bertambah, dan rasa cemas publik terhadap ekonomi pun ikut membesar.***