POJOKSATU.id, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah melalui Kementerian Keuangan dalam mengoptimalkan pengelolaan kas negara lewat instrumen penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Kebijakan ini dinilai mampu memperkuat likuiditas perbankan sekaligus meningkatkan fungsi intermediasi guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan instrumen pengelolaan kas negara seperti penempatan dana SAL memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan pembiayaan.

Baca Juga: Gus Fawait Puji Keberhasilan Program Home Care Jember, Bantu Orang Sakit Sekaligus Perbaiki Rumah Warga Tak Mampu

"BRI mendukung langkah pemerintah dalam mengoptimalkan pengelolaan kas negara melalui penempatan dana SAL. Kebijakan tersebut memberikan dukungan likuiditas bagi industri perbankan sehingga bank dapat menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Hery.

Menurut Hery, kondisi likuiditas yang terjaga menjadi modal penting bagi perbankan untuk terus menyalurkan kredit secara sehat ke sektor-sektor produktif.

Dengan dukungan likuiditas yang memadai, bank memiliki ruang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan dunia usaha tanpa mengabaikan kualitas aset maupun manajemen risiko.

Baca Juga: Videotron Padel Club Six Nine Disegel, Terkuak Diduga Jadi Pemicu Penebangan 10 Pohon di Kota Bandung

"Bagi BRI, dukungan likuiditas tersebut akan dioptimalkan untuk memperkuat penyaluran kredit yang berkualitas, khususnya kepada sektor riil, termasuk kepada UMKM, yang memiliki dampak ekonomi tinggi. Fokus kami tetap pada pembiayaan yang produktif sehingga mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) berupa peningkatan aktivitas usaha, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi masyarakat," jelas Hery.

Sebagai bank dengan portofolio pembiayaan UMKM terbesar di Indonesia, BRI menegaskan akan terus mengarahkan ekspansi kredit ke sektor-sektor yang menjadi penggerak utama perekonomian nasional.

Selain UMKM, pembiayaan juga difokuskan pada sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan sektor produktif lainnya.

Baca Juga: Ada Ulat dalam Menu MBG di Cibeber Cianjur, SPPG Cikondang 2 Beri Tanggapan Begini

Hingga akhir Triwulan I 2026, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp1.562 triliun.

Dari jumlah tersebut, pembiayaan kepada segmen UMKM mencapai Rp1.211 triliun dan tetap menjadi pilar utama portofolio kredit perseroan.

BRI juga menilai sinergi antara kebijakan fiskal dan sektor keuangan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika ekonomi global.

Baca Juga: Blak-blakan! Ini Penjelasan Bapanas tentang Temuan Beras Fortifikasi dengan Harga Selangit Tapi Tak Punya Izin Edar

Karena itu, perseroan menyatakan siap mendukung berbagai kebijakan pemerintah yang bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat kapasitas pembiayaan bagi sektor riil.

"BRI meyakini bahwa sinergi antara pemerintah dan industri perbankan merupakan fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui pengelolaan likuiditas yang prudent dan penyaluran kredit yang berkualitas, kami akan terus memperbesar kontribusi BRI sebagai agen pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas inklusi keuangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutup Hery.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Selasa (4/8) di Tangerang menyampaikan pemerintah membuka peluang memperpanjang masa penempatan dana SAL di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga tahun depan.

Baca Juga: Bocah Perempuan Kelas 1 SD Tewas di Sumur di Angkola Muara Tais, Hasil Autopsi Ada Kekerasan

Sebelumnya, sebagian dana SAL tersebut direncanakan akan ditarik pada akhir 2026.***