POJOKSATU.id - Jhoni Hertanto adalah salah seorang dari kalangan milenial yang merasa mandek dalam keuangan. Bukan karena tidak ada penghasilan, tetapi karena dia merasa tidak memiliki kendali atas uangnya.

Jhoni yang bekerja sebagai pegawai swasta di Kota Bekasi ini mengakui tidak mengelola keuangan dengan baik dan belum memiliki tujuan finansial yang jelas.

Uang yang didapat seolah hanya untuk kebutuhan hidup dan tidak tersisa untuk tabungan, apalagi investasi. Bukan karena habis begitu saja, tetapi karena memang tidak ada alokasi ke arah sana.

Baca Juga: M2U ID App Solusi Keuangan Digital Bagi Generasi Muda

Cerita tentang Jhoni ini mungkin dirasakan banyak generasi muda yang sudah memiliki penghasilan dan merasa begitu-begitu saja atau dengan kata lain tidak kaya-kaya.

Head Bancassurance & Investment Sales Maybank Indonesia, Johan Harsa, menekankan seseorang harus mempunyai tujuan dalam perencanaan keuangan baik jangka pendek, menengah dan panjang.

"Contoh jangka pendek untuk menabung liburan atau membeli gadget baru. Janga menengah untuk membeli kendaraan dan dana pendidikan, dan jangka panjang untuk persiapan pensiun atau membeli rumah," ucap dia.

Johan yang kerap membagikan tips perencanaan keuangan dalam akun media sosial pribadinya menjelaskan dalam perencanaan keuangan ada tiga tahapan: pengaturan keuangan (income management), pengaturan pengeluaran (cost management), dan pengaturan kekayaan (wealth management).

Satu hal yang menjadi penekanan Johan bagi orang yang masih terjebak utang melebihi pendapatan adalah manajemen utang (debt management) dalam melunasi utang sampai ke persentase ideal, yaitu 30 persen dari total pendapatan.

Baca Juga: Gen Z Rentan Terjebak Investasi Berisiko Tinggi, Pakar Keuangan Ingatkan Pentingnya Literasi Finansial

"Utang yang paling kecil dilunasi dulu atau yang bunganya paling besar seperti pinjaman online," ucap dia.

Setelah pemasukan dan pengeluaran diatur dengan baik, seseorang dapat berfokus kepada pengaturan kekayaan lewat tahapan penciptaan kekayaan (wealth creation), akumulasi kekayaan (wealth accumulation) dan perlindungan kekayaan (wealth protection) berbagai macam produk keuangan seperti investasi reksa dana, tabungan emas, deposito, obligasi, asuransi dan lainnya.

Johan mengatakan di M2U ID App, aplikasi digital banking Maybank Indonesia, mempunyai fitur yang mendukung nasabah dalam mengakses investasi dalam satu genggaman.

"Investasi disesuaikan dengan profil risiko nasabah, ada reksa dana saham, reksa dana campuran, dan lainnya," kata dia.

Tujuan dari hal tersebut adalah agar pendapatan seseorang bertambah dan terhindar dari inflasi yang justru dapat menggerus kekayaan.

Bagi yang sedang belajar dalam membangun kekayaan, Johan Harsa mengatakan selain deposito, investasi emas menjadi salah satu pilihan. Fitur ini tersedia dalam M2U ID App dengan nama Tabungan Emas Pegadaian yang bisa dimulai dari 10 ribu saja.

"Emas yang mencapai berat tertentu nanti bisa dicetak secara fisik," kata dia.

Seiring pertumbuhan kekayaan dan profil risiko, nasabah bisa mencoba produk wealth lainnya di M2U ID App seperti reksa dana dan Surat Berharga Negara (SBN) Pasar Perdana dan Sekunder.

Johan juga menyebut proteksi menjadi satu instrumen yang penting bagi individu untuk melindungi kekayaan jika tidak terjadi hal yang diinginkan.

"Bisa asuransi kesehatan untuk yang belum menikah, jika yang sudah menikah bisa asuransi jiwa. Paling tidak dua itu dimiliki," ucap dia.

Dia menjelaskan dalam M2U ID App juga terdapat fitur pembelian produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Satu yang menjadi unggulan aplikasi bank berlogo harimau adalah pengelolaan dan portofolio tabungan, investasi dan pinjaman dalam satu aplikasi dengan jenama 360 Digital Wealth.

Aplikasi ini juga dapat membantu penggunanya dalam perencanaan keuangan dengan memberikan simulasi berdasarkan tujuan keuangan seperti persiapan dana pensiun, investasi, dana pendidikan dan lainnya. ***